Eks Gafatar Terakhir Pergi 903 Orang, Penampungan Resmi Ditutup

Eks Gafatar Terakhir Pergi 903 Orang, Penampungan Resmi Ditutup

  Minggu, 31 January 2016 14:00
BERSIHKAN PENAMPUNGAN: Anggota TNI membersihkan lokasi penampungan sementara yang digunakan oleh eks anggota Gafatar di Bekangdam XII/Tanjungpura di Kubu Raya, Sabtu (30/1). Seluruh Anggota eks Gafatar yang ditampung di lokasi tersebut sudah dipulangkan ke kampung halaman mereka masing-masing. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) kembali memulangkan sebanyak 903 orang anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ke daerah asal. Mereka diangkut menggunakan KRI Teluk Penyu 531 dari Pelabuhan Dwikora Pontianak menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XII Tanjungpura Kolonel (Inf) Mukhlis memastikan dengan dipulangkannya 903 warga eks Gafatar tersebut, proses relokasi mereka telah usai. Dengan demikian, dia juga memastikan jika tempat penampungan sementara di Bekangdam XII Tanjungpura ditutup. "Ini proses pemulangan warga Gafatar yang terakhir, dan penampungan sementara ditutup, karena tempat itu akan digunakan untuk pembekalan sebanyak 700 prajurit yang akan bertugas di perbatasan Kalimantan Barat, menggantikan prajurit sebelumnya," kata Mukhlis, kemarin.

Jika masih ada warga Gafatar yang belum dipulangkan, maka, menurut dia, hal itu merupakan kewenangan Pemprov. "Karena kami hanya bertugas menampung saja, sebelum dipulangkan ke daerah masing-masing," terang Kapendam.

Anggota Gafatar yang dipulangkan kemarin sebanyak 903 jiwa, terdiri dari 259 kepala keluarga (KK). Jumlah tersebut terdiri dari laki-laki dewasa sebanyak 309 jiwa, perempuan dewasa (210 jiwa), laki-laki anak (209 jiwa), dan perempuan anak, 175 jiwa.

Sebelumnya, Gubernur Kalbar Cornelis dengan tegas mengatakan jika dirinya menolak kembalinya sejumlah anggota eks Gafatar asal Boyolali ke Kalbar. Bahkan Gubernur pun meminta kepada Bupati Mempawah untuk membuat surat pindah bagi sejumlah eks anggota Gafatar yang telah mengantongi KTP Mempawah.

Gubernur tak memungkiri jika ada bebebarpa eks anggota Gafatar asal Boyolali yang telah ber-KTP Mempawah. Dari informasi yang diterimanya, mereka ini akan dikembalikan lagi oleh Pemerintah Boyolali ke Mempawah. Terkait hal itu, pihaknya pun sudah meminta kepada Bupati Mempawah untuk membuat surat pindah agar mereka tidak lagi dikembalikan ke Mempawah.

Cornelis sendiri yakin jika KTP yang dimiliki anggota Gafatar asal Boyolali tersebut tidak sah, karena didapat dengan prosedur yang tidak resmi. "Ini juga tentu menjadi kesalahan kepala desa yang ada di Kalbar, karena saya nilai terlalu baik menerima masyarakat luar menjadi warga kita. Dan ke depan, ini harus diperbaiki dan ini harus menjadi pelajaran bagi kita," kata Cornelis.

Sementara itu dikutip dari tulisan Wajidi Sayadi, ketua Komisi Fatwa MUI Kalimantan Barat tentang Mengenal Kesesatan Gafatar, diungkapkan dia jika mengembalikan anggota Gafatar secara fisik ke daerahnya masing-masing tak semudah mengembalikan faham dan ajaran sesat ke jalan yang benar. Hal ini, menurut dia, terbukti ketika al-Qiyadah al-Islamiyah yang sudah lama dibubarkan sejak 2007, namun ajaran dan pahamnya tetap eksis dan merajalela, bahkan sampai membentuk nama lain yakni Gafatar. Tulisan ini, diungkapkan dia, sebagai bagian dari ikhtiar pelurusan, pembinaan, dan pewaspadaan terhadap paham dan ajaran yang menyimpang dan sesat, yang merusak akidah Islam.

Dalam tulisan dia, Gafatar sebenarnya hanyalah organisasi kemasyarakatan. Namun disayangkan dia, dalam perkembangan dan faktanya di masyarakat, khususnya Kalbar, justru membawa dan menyebarkan paham atau ajaran agama yang meresahkan masyarakat muslim, karena dianggap bertentangan dan mencederai ajaran Islam. “Sekarang sudah terbukti bahwa pimpinannya sudah mengaku bahwa ia sudah keluar dari Islam,” tulis dia.

Dia mengungkapkan bahwa sebetulnya sudah ada pengakuan dari para anggotanya, bahwa mereka pernah diberikan bimbingan. Menurutnya, ketika mereka ditanya orang lain tentang agama mereka, maka mereka harus menjawab Islam. Namun, dia menambahkan, ketika ditanya oleh sesama anggota Gafatar, mereka juga harus secara tegas mengungkapkan jika mereka penganuh Millah Abraham. “Penampakan di luar sebagai organisasi kemasyarakatan dan ajaran Islam tidak menyimpang, bisa jadi merupakan pembohongan publik, dan pembodohan kepada umat pengikutnya,” tulisnya yakin. (arf)

 

Berita Terkait