Eks Gafatar Nyebar ke Ketapang

Eks Gafatar Nyebar ke Ketapang

  Rabu, 13 January 2016 09:06
TERISOLIR: Kamp kelompok Gafatar di Desa Sedahan Jaya, Kabupaten Kayong Utara. Demikian juga di desa Melingsum dan kamp di Satai Lestari. Keduanya di Ketapang. Sedangkan di pulau Maya, KKU dilengkapi dengan ruang belajar untuk anak. FOTO AFI/DANANG PRASETYO/ISTIMEWA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

KETAPANG - Ratusan orang dari Sumatera dan Jawa Tengah yang datang ke Ketapang beberapa waktu lalu merupakan mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Mereka mengakui jika sebelumnya mereka semua pernah bergabung dengan organisasi yang mengaku mengabdi kapada Negara ini.

Hal ini terungkap saat kegiatan sosialisasi masyarakat pendatang oleh Perankat Desa Sukamaju Kecamatan Muara Pawan, pada Selasa (12/1). Sosialisasi ini dilakukan untuk mengetahui maksud dan tujuan kedatangan dua kelompok orang yang berjumlah 523 ini. Mereka menetap dan membuat tempat tinggal di Desa Sukamaju yang sudah mereka beli.

Mereka terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok dipimpin oleh Wagiran yang berjumlah 278 orang. Sementara satu kelompok lainnya berjumlah 245 orang yang dipimpin oleh Trubus Hermawan. Mereka menemani kelompok mereka dengan nama Sadar Tani dan Tani Mandiri yang tidak lain adalah kelompok tani.

Terkait organisasi Gafatar dan kedatangan mereka ke Ketapang, diakui memang ada keterkaitan. Mereka yang dulunya anggota Gafatar datang ke Ketapang untuk mengabdi kepada Negara melalui bidang pertanian. "Memang dulu kita anggota Gafatar," kata salah satu anggota dari kelompok Wagiran, M Syofian (38), kemarin (12/1).

Ia menjelaskan, pada saat masih menjadi anggota Gafatar, program organisasi Gafatar lebih kepada sosial budaya, di antaranya juga program ketahanan pangan. Namun, seiring berjalannya waktu pergerakan Gafatar tidak signifikan sesuai dengan yang mereka harapkan. Merekapun memutuskan untuk keluar dari Gafatar. Kedatangan mereka ke Ketapang, tepatnya di Desa Sukamaju, tidak memiliki misi atau itikad lain selain untuk mengabdi kepada Negara Indonesia yakni, dengan mensukseskan program ketahanan pangan yang dirancang oleh Presiden RI, Jokowi.

"Kita berharap semua pihak mengizinkan kami untuk tetap memberikan kontribusi kepada bangsa, khususnya di Ketapang meskipun kami mantan Anggota Gafatar," jelasnya."Indonesia pernah swasembada pangan, tapi semua berubah dan saat ini menjadi inportir pangan. Dari situlah kita terpanggil untuk berbuat lebih baik untuk bangsa khususnya melalui program ketahanan pangan," lanjutnya.

Mantan anggota Gafatar lainnya sekaligus ketua kelompok, Trobus Hermawan, mengatakan, pada saat menjadi anggota Gafatar pihaknya kerap melakukan aksi sosial secara sukarela. Namun, ia enggan menceritakan masa lalunya. "Kami ingin menata hidup baru melalui ketahanan pangan. Tekad kami, bagaimana pertanian yang kami kerjakan dapat memberikan kontribusi dengan hasil yang baik," katanya.

Menurutnya, ia lebih memilih ke Ketapang karena potensi pertanian di Ketapang lebih menjanjikan. Ia dan kelompoknya ingin memanfaatkan potensi tersebut untuk memberikan kontribusi terutama dalam hal ketahanan pangan. "Kami ingin orang tidak lagi melihat latar belakang kami. Kami juga ingin melihat masa depan," jelasnya.

Secara administrasi saat pihaknya juga telah mengikuti aturan yang ada. Respon masyarakat di sekitar tempat mereka tinggal juga baik. "Jadi kami pun ingin membalas kebaikan warga desa dengan berbuat baik, walaupun tetap ada isu negatif tentang kami, kami terima. Kami mengakui sebagai manusia kami tidak lepas dari kesalahan dan khilaf pada masalalu. Kepada pihak terkait di Ketapang kami minta untuk membimbing kami," pintanya.

Kepala Desa Sukamaju, Syaiful Bahri, mengatakan, kegiatan sosialisasi tersebut dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban serta kerukunan umat beragama di Desa Sukamaju terlebih dengan adanya warga pendatang. Para pendatang ini juga diharuskan membuat pernyataan untuk tidak melakukan hal-hal yang menyimpang diari undang-undang ataupun ajaran agama."Jika ingin tetap tinggal, maka peganglah betuah "di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung," kata Syaiful.

Sementara niat untuk memajukan pertanian dan ketahanan pangan, pihaknya mendukung. Namun pihaknya tidak serta merta menerima hal tersebut jika kedepan terjadi hal-hal yang menyimpang, termasuk pemahaman Gafatar mengenai salat dan puasa yang tidak wajib, itu harus dihilangkan."Jika ingin bertani, silakan. Karena sesuai dengan program saya untuk memajukan desa, tapi jangan sampai terjadi hal-hal yang menyimpang karena saya tegaskan saya tidak akan perkenankan jika terjadi ajaran-ajaran atau gerakan-gerakan yang dilarang. Sebab saya  berkewajiban menjaga desa dari hal-hal yang tidak diinginkan," tegasnya.

Pada pertemuan tersebut dihadiri oleh Camat Muara Pawan, TNI, Kepolisian, MUI Ketapang, Kemenag Ketapang, Disdukcapil, serta Tokoh Masyarakat setempat. Pada pertemuan itu juga, masing-masing kelompok menandatangani 13 poin kesepakatan. Di antaranya sama sekali tidak terlibat langsung maupun tidak langsung dan tidak ada hubungan dengan gerakan Gafatar atau membawa paham aliran sesat.Mereka mendatangani surat pernyataan tersebut di hadapan para Muspika Muara Pawan, MUI, Kemenag dan tokoh masyarakat. Mereka juga sepakat untuk dilaporkan kepada pihak berwajib jika suatu saat mereka melanggar perjanjian tersebut. (afi)

Berita Terkait