Ekonomi Syariah Solusi untuk Umat dan Bangsa

Ekonomi Syariah Solusi untuk Umat dan Bangsa

  Jumat, 23 March 2018 09:05   231

Oleh: Eko Bahtiar

Mari lihat dan merenungi kondisi kehidupan sosial ekonomi bangsa dan negara ini. Harus diakui bahwa sistem ekonomi konvensional yang ditandai dengan sistem bunga pada perbankan konvensional, ternyata  tidak mampu meningkatkan perekonomian rakyat banyak, baik dalam skala makro maupun mikro. Bahkan sebaliknya, yang terjadi justru semakin terburuk dari waktu ke waktu dengan beberapa indikator ekonomi yang sangat nyata. Seperti pengangguran yang terus bertambah, nilai uang rupiah yang  semakin menurun, kemiskinan yang semakin memprihatinkan, dan lain sebagainya. 

Apa yang dilihat dan rasakan dalam perekonomian saat ini merupakan bukti-bukti yang konkret tentang kegagalan sistem ekonomi konvensional dan praktek bunga dalam perbankan, utang pemerintah, maupun swasta ke luar negeri semakin bertambah besar. Bahkan, kian tak terkendali karena terkena bunga, dan terus bunga-berbunga. Sementara anggaran pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara nyata, justru sangatlah kecil. Itu berarti keringat dan darah rakyat diperas hanya untuk kesejahteraan kaum kapitalisme. Sungguh sangat ironis dan tragis. Demikian pula dalam ekonomi rakyat. Betapa banyak usaha masyarakat yang menjadi bangkrut karena keharusan membayar bunga atas  pinjaman modal yang diperoleh dari perbankan non-syariah. 

Mari tinggalkan semua praktik riba dan bunga yang dilarang agama agar mendapat rahmah dan berkah dari Allah SWT.  Seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, “Apabila  riba  dan  perzinaan  telah  muncul  di  suatu  daerah,  berarti  mereka telah menghalalkan bagi dirinya azab dan siksa dari Allah.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Al-Baihaqi dalam Syuab Al Iman). 

Jika melihat secara seksama, akan tahu penyebab dari masalah tersebut. Sistem ekonomi kapitalisme yang dianut sekarang menjunjung tinggi kebebasan kepemilikan pribadi dan membolehkan praktik monopoli membuat kesenjangan antara yang miskin dan kaya semakin jelas. Hari ini banyak sumber daya alam ataupun kekayaan negara dimiliki oleh perorangan, sehingga wajar saja barang-barang kebutuhan orang banyak semakin mahal. Dengan permintaan yang semakin banyak, namun barang yang tersedia semakin sedikit membuat rakyat semakin bingung dan menderita.

Sudah saatnya menemukan sistem ekonomi yang membuat kesejahteraan rakyat semakin terjamin, namun tidak membatasi kepemilikan pribadi. Ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang menjunjung asas keadilan, kemanusiaan dan ketuhanan. Ekonomi Islam bersumber kepada Alquran dan hadis Nabi SAW, sehingga kebenarannya pun tidak diragukan lagi. Ekonomi Islam memiliki orientasi terhadap duniawi dan surgawi hadir sebagai alternarif dari sistem ekonomi konvensional yang dianggap kurang kokoh dalam membentengi perekonomian dunia. 

Kajian Ilmiah tentang Sistem Ekonomi Islam marak di mana-mana dan menjadi bahan diskusi di kalangan akademisi berbagai universitas, baik di Amerika, Eropa, Asia, dan bahkan Negara Indonesia sendiri. Hasil kajian tersebut dalam tataran aplikatif mulai menuai hasilnya dengan didirikan Islamic Development Bank di Jeddah tahun 1975 yang diikuti dengan berdirinya bank-bank Islam di kawasan Timur Tengah, Amerika, Eropa, Australia dan bahkan di Indonesia sendiri. Kajian ekonomi Islam tidak saja dalam aspek lembaga keuangan, tetapi meluas ke sektor ekonomi mikro dan makro. Seperti kebijakan fiskal, moneter,  model pembangunan ekonomi dan instrumen-instrumennya.

Berbicara tentang perkembangan sistem ekonomi syriah di Indonesia, semakin hari semakin berkembang pesat. Semua ini didasari pada kesadaran ekonomi syariah masyarakat Indonesia yang kian tinggi dari hari ke hari, mulai dari perkembangan perbankan syariah, yang hingga kini semakin maju. Di tambah dengan pertumbuhan lembaga keuangan syariah lainnya seperti asuransi syariah, pengadaian syariah, pasar modal syariah yang semakin berkembang pesat. Kemauan masyarakat pada ekonomi syariah yang semakin bagus dinilai menjadi modal utama bangsa Indonesia untuk bisa menyaingi pertumbungan ekonomi syariah di negara lain. Ekonomi Islam tentu berbeda dengan sistem ekonomi konvensional yang mengedepankan kebebasan individu. 

Ada perbedaan antara ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional, antara lain dalam ekonomi konvensional terdapat masalah kelangkaan (scarcity). Sedangkan dalam ekonomi Islam tidak mengenal kelangkaan karena Allah membuat segala sesuatunya didunia ini dengan tepat ukuran (Q.S Qamar:49). Dalam ekonomi konvensional tidak ada elemen nilai dan norma sehingga sering terjadi konflik dan kecurangan saat pelaksanaannya. Berbanding terbalik dengan ekonomi Islam yang menonjolkan sikap adil, jujur dan bertanggungjawab. Ekonomi Islam menguntungkan semua pihak, termasuk masyarakat kecil. Sedangkan ekonomi konvensional hanya menguntungkan pihak tertentu saja, misalnya pihak yang mempunyai modal yang besar. Selain dari perbedaan prinsip diatas, diketahui beberapa peran penting ekonomi Islam di Indonesia. Peran ekonomi Islam di Indonesia memang belum terlalu banyak, namun dengan perannya tersebut kita dapat merasakan perbedaan yang cukup signifikan. 

Beberapa peran ekonomi Islam antara lain, instrumen zakat, infaq dan sedekah merupakan ikon instrumen yang dapat menyejahterakan masyarakat kecil. Potensi zakat di Indonesia mencapai Rp100 triliun. Dari dana tersebut, bangsa ini dapat membangun ratusan sekolah dan puluhan rumah sakit. Selain itu, instrumen ini guna menjawab amanah Pancasila dan UUD 1945, yakni menciptakan masyarakat yang adil dan makmur (Redistribution With Growth). Bukan makmur baru adil (Redistribution From Growth) ala kapitalisme dan liberalisme.

Konsep penerapan konsep jujur, adil, dan bertanggungjawab merupakan syarat yang harus terpenuhi dalam melaksanakan kegiatan ekonomi. Instrumen ekonomi seperti gadai, sewa-menyewa dan perdagangan harus menonjolkan konsep jujur, adil dan bertanggungjawab. Penerapan konsep ini ditujukan agar tidak ada yang dirugikan dalam kegiatan ekonomi dan menguntungkan semua pihak yang terlibat sehingga tidak akan terjadi berbagai macam kecurangan-kecurangan yang dapat menimbulkan konflik sosial.  Pelarangan riba dengan menjadikan sistem bagi hasil (Profit-Loss Sharing) dengan instrumen Mudharabah dan Musyarakah. (Q.S Al-Baqarah:275). 

Bunga bank memiliki efek negatif tehadap aktivitas ekonomi dan sosial. Secara ekonomi, bunga bank akan mengakibatkan petumbuhan ekonomi yang semu dan akan menurunkan kinerja perekonomian secara menyeluruh serta dampak-dampak lainnya. Dalam segi sosial pun akan membuat masyarakat terbebani akan bunga yang dirasa begitu berat. Dengan pelarangan riba ini diyakini bahwa pembangunan dan pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat.

Ketiga poin tersebut merupakan salah satu peran ekonomi Islam dalam mengatasi permasalahan-permasalahan bangsa yang hingga saat ini belum dapat diselesaikan. Dengan diterapkannya sistem ekonomi Islam diharapkan keadaan ekonomi bangsa ini akan menjadi semakin lebih baik, serta mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, rakyatnya hidup dengan tenteram, damai dan berkecukupan. Hal itu dapat terjadi dan terbentuk berkat sistem pemerintahannya yang bersih, adil dan bijaksana, mengaplikasikan ekonomi syariah yang berlandaskan iman dan takwa secara konsisten dan penuh komitmen. Keadilan dari prinsip ekonomi syariah bukan hanya sebagai lips service yang diucapkan secara indah dalam pidato, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata, sehingga akan tercipta negeri yang “Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur” (Negeri yang gemah ripah loh jinawi tongkat batu jadi tanaman). Jelas Ekonomi Syariah merupakan solusi yang pasti terhadap permasalahan-permaslaahan umat dan bangsa pada saat ini. Aamiin Ya Allah Robbal ‘alamin.

*Penulis adalah Alumni Mahasiswa PascaSarjana UIN Sunan Kalijogo Yogyakarta.