Ekonomi dan Broken Home, Menikah di Usia Muda

Ekonomi dan Broken Home, Menikah di Usia Muda

  Senin, 4 April 2016 09:41
PEKERJA SEKS : Para PSK saat terjaring razia Pol PP Kapuas Hulu. FOTO MUSTA’AN

Berita Terkait

Masalah ekonomi keluarga dan rumah tangga berantakan (broken home), menikah di usia muda selalu menjadi alasan utama pekerja seks komersil (PSK) dan pekerja tempat hiburan malam (kafe). Untuk mengelabui orang tua dan keluarga, mereka memberikan alasan kerja di rumah makan, mini market atau lainnya. 

Mustaan, Kapuas Hulu

SELAIN alas an di atas, biasanya mereka mengakui bahwa akibat bercerai karena perkawinan usia muda juga jadi pemicunya. Lina misalnya. Wanita ayu asal Indramayu Jawa Barat, sudah bekerja sebagai PSK kurang lebih 7 tahun, sejumlah daerah sudah ia singahi dengan pekerjaan sama.

Pada saat razia Pol PP baru-baru ini, lina bersama rekan-rekannya juga ikut terjaring pada wartawan, wanita yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang miksin. Gadis kelahiran Indramayu 1991 ini memiliki empat saudara. Dia mulai melayani pria hidung belang sejak usia 18 tahun. Darisitulah ia menjadi terbiasa hingga merantau kebeberapa daerah.

 “Saya di Kapuas Hulu sudah dua tahun, sebelumnya pernah di Surabaya, Bandung dan Bali. Hidup seperti ini sudah pilihan, karena di tempat saya susah cari pekerjaan dan kebutuhan hidup keluarga,” tuturnya. Tanpa ragu Lina mengaku keluarganya mengetahui pekerjannya sebagai PSK. Bapak ada masik, ibu sudah meninggal. Hasil pekerjaanya itu setiap bulan dikirim pada keluarga di Indramayu.

Selama di Kapuas Hulu Lina mengaku hasilnya cukup besar, setiap bulan ia  bisa mengumpulkan Rp 15 juta.

“Uang kamar paling Rp 60 ribu. Hasil sehari tergantung situasi, kalau lagi ramai dapat Rp 1 juta lebih. Tarifnya Rp 200-250 ribu, kadang ada pelanggan yang nawar,” jelasnya.

Wanita tamatan SD ini mengaku perhatikan kesehatan, karenanya ia selalu mewajibkan pelanggan pakai kontra sepsi. Sama seperti lina, alasan himpitan ekonomi dan tingginya kebutuhan hidup, Hana, Nina, Eka dan Tini saudara kembar ini juga terjun ke dunia malam. Hana bersama adiknya Nina bekerja di cafe awalnya diajak teman sekitar enam bulan yang lalu. Tanpa pikir panjang ia langsung mau menerima tawaran tersebut.

"Saya dan Nina kesini dikontrak lima bulan untuk melayani tamu-yamu kafe dulu," katanya.
Perempuan asal Melawi ini mengaku, orang tuanya sudah tahu jika ia dan saudara kembarnya kerja di cafe, selain itu orang tuanya juga sudah pernah mengunjunginya.  

"Orang tua saya tak banyak komplen dengan pekerjaan saya ini," ujarnya. Wanita yang dulunya menjaga toko ini mengatakan, setiap gaji dia selalu mengirimkan uang pada orangtuanya dan ia mengaku menikmati pekerjaannya.

Perempuan kembar yang sama-sama tama SD ini mengaku betah bekerja seperti  itu, selain banyak teman, ia juga tak terlalu bebas untuk kemana-mana.

"Bosnya disini baik, kami merasa aman disini," tuturnya. Untuk jam kerja, ia dan teman lainnya sudah mulai siap sejak sore menunggu tamu datang, untuk operasional cafe sendiri biasanya baru berhenti hingga subuh, bahkan tak jarang sampai siang.

Demikian juga dengan Eka dan Tini juga bekerja sebagai pelayan kafe, ia dan saudaranya bekerja di cafe ini karena alasan ekonomi juga. Eka dan kembarannya masih tergolong baru bekerja di cafe, tanggal 4 Februari 2016 ia mulai bekerja.

" Sebelum kerja seperti ini, saya dulu empat tahun jualan pakaian keliling di kota Pontianak. Jadi hasil kerja dari sini untuk modal usaha kedepannya," ujarnya. Serupa dengan Hana-Nina, Eka dan Tini bekerja di cafe juga diajak teman. Wanita asal Pontianak ini mengaku ia dan kakaknya terpaksa bekerja seperti ini karena tak ada pilihan lain untuk membantu ekonomi keluarga.

"Kami berdua hanya tamat SMP, apa yang mau dikerjakan," katanya. Perempuan berusia 30 tahun ini mengaku dikontrak lima bulan, dia tak tahu berapa gaji yang akan diterimanya.

"Gaji kami akan dibayar setelah habis kontrak," tuturnya. Eka mengaku kadang senang, kadang tidak bekerja didunia malam. Senangnya ia bisa mendapatkan teman banyak dan tidak senang terkadang ia merindukan keluarganya dikampung. Hana, Nina, Eka dan Tini serta Lina mengaku ingin berhenti dari pekerjaannya yang penuh resko tersebut, tetapi mereka belum menemukan solusi terbaik.(*)

Berita Terkait