Efisiensi Perguruan Tinggi

Efisiensi Perguruan Tinggi

Senin, 24 Oktober 2016 08:46   498

PERGURUAN tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi, bentuknya berupa; universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, akademi dan akademi komunitas.

UU RI No. 12/2012 tentang Perguruan Tinggi, pasal 63 menyatakan bahwa otonomi pengelolaan perguruan tinggi dalam arti kegiatan sistemik untuk memanfaatkan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi agar tepat sasaran dan tidak terjadi pemborosan atau inefisiensi.

Isu efisiensi ini penting karena seringkali perguruan tinggi dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit, yakni efisiensi atau mati, terutama ditujukan kepada perguruan tinggi yang telah diberi otonomi pengelolaan yang diperluas,  misalnya dari pola Satker menjadi BLU dan seterusnya dari BLU menjadi BHMN.

Ketika perubahan otonomi pengelolaan itu terjadi, kepada sivitas akademika tidak cukup hanya dibekali kemampuan dan kesadaran mengenai penggunaan sumber daya,  melainkan harus dibekali kemampuan menggali sumber pendapatan dan efisiensi penggunaanya. Jika tidak tinggal menunggu waktunya, malaikat sakratul maut mencabut nyawa perguruan tinggi tersebut dan akhirnya MATI atau TUTUP.

Efiesiensi (efficiency) didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk menghasilkan atau mencapai sesuatu yang diinginkan dengan sesuatu upaya dan pemanfaatan sumber daya yang minimal, baik berupa pikiran, waktu, personil (SDM), dana dan sumber daya lainnya. Suatu perguruan tinggi dikatakan efisien apabila kualitas dan performansi yang dicapai adalah tinggi sementara pikiran, tenaga, waktu, dana dan sumber daya lainnya yang digunakan untuk mencapai kualitas sedemikian dirasakan kecil atau dalam batas kewajaran.

Efisiensi perguruan tinggi dapat dikelompokkan menjadi efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal berhubungan dengan kemampuan kinerja komponen endogen perguruan tinggi untuk mengendalikan alokasi gugus sumber daya yang dimiliki menuju optimalisasi alokasi untuk terus meningkatkan mutu dan kualitas performansi perguruan tinggi. Sedangkan efisiensi eksternal sebagai entitas akademik yang merujuk pada kapabilitas untuk mengantarkan peserta didik maju berkembang secara mandiri dalam masyarakat yang serba dinamis (Tilaar, 1994)

Mahasiswa dari waktu ke waktu sering mengeluh karena beberapa mata kuliah di program studi dan fakultasnya tidak diselenggarakan secara efektif akibat keterbatasan jumlah dosen, ruang kuliah dan fasilitas di dalamnya, listrik sering mati, sementara pada program studi dan fakultas lainnya, jumlah dosen, ruang kuliah dan fasilitas di dalamnya dan aliran listrik cukup, bahkan ada dosen menganggur atau kurang jam mengajarnya, ruang kuliah dan laboratorium tidak digunakan secara efektif.

Setelah dikaji lebih mendalam ternyata persoalan klasik ini akibat pengelolaan perguruan tinggi kurang atau tidak efisien.

Bapak Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti selaku Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kemenristek Dikti menyatakan bahwa

“banyak perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di negeri ini tidak atau belum efisien. Ditandai kecendrungan pengelola perguruan tinggi untuk terus menerus menambah ruang kuliah dan sarana prasarana (sapras) laboratorium di masing-masing fakultas, terlebih lagi fakultas yang mengajarkan ilmu dasar. Kenyataan lainnya tidak selalu ruang kuliah itu terisi dengan kegiatan perkuliahan setiap waktunya, demikian pula sarana dan prasarana sumber belajar lainnya. Agar lebih efisien, efektif dan terintegrasi atau terpadu sumber daya (dosen, tenaga kependidikan dan sapras) yang ada agar dapat dimanfaatkan bersama oleh mahasiswa dari berbagai program studi,  dikutip dari Republika, 11 Oktober 2016.

Penulis tambahkan, sebaiknya anggaran yang ada akan lebih baik digunakan untuk memperkuat kapasitas institusi yang bersentuhan langsung pada pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi lainnya, seperti sarana pembelajaran berbasis IT dan menyediakan kapasitas listrik yang cukup, kursi kuliah yang dilengkapi mejanya, menambah jumlah dan kualitas penelitian dosen dan mahasiswa, penerbitan atau pembelian jurnal ilmiah dan buku teks, memberikan royalti kepada dosen dan mahasiswa yang telah menulis buku.

Sebuah tesis Arnold Toynbee memberi petunjukkan teoretik (grand theory) dalam mewujudkan  gerakan efisiensi perguruan tinggi, yakni: “Perubahan/kebangkitan/kemajun umat manusia sangat ditentukan oleh kemampuannya merespons atau menanggapi masalah dan tantangan yang dihadapinya”.

Penulis sependapat dengan bapak Ali Ghufron Mukti bahwa dalam rangka mewujudkan efisiensi, perguruan tinggi, Kemenristek Dikti mendorong konsep sharing resources atau penggunaan sumber daya (dosen, sarana dan prasarana) secara bersama-sama.

Sesungguhnya gerakan efisiensi perguruan tinggi di Indonesia telah dibagun sejak lama, namun harus diakui belum terimplementasi secara efektif.  Bapak M. Nuh ketika menjabat Mendikbud beberapa tahun lalu memperjelas implementasi gerakan efisiensi pendidikan ini sebagaimana tertuan dalam Rencana Strategis Pendidikan dan Kebudayaan bertema “Efektifitas dan Efisien”, meliputi: (1) sentuhaan Information Technology; (2) integrasi proses; dan (3) sharing resources;

Gagasan membangun Digital University harus disambut baik karena kegiatan yang bersentuhaan dengan IT berdampak meningkatkan efisiensi perguruan tinggi. Misalnya, Di tahun 1995, ketika penulis melakukan penelitian disertasi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sentuhan IT mulai digunakan untuk melayani 15.000 orang mahasiswa. Pada waktu itu tenaga kependidikan (administratif) yang bertugas di tingkat universitas hanya belasan orang saja, namun mampu memberikan pelayanan yang baik. Sementara pada waktu bersamaan, ada perguruan tinggi lain, baik PTN maupun PTS belum bersentuhan IT menggunakan tenaga administrasi ratusan orang, padahal jumlah mahasiswa yang mereka layani sama dan/atau jauh lebih kecil. Dalam kegiatan akademik atau perkuliahan, peran IT sangat mempengaruhi efisiensi perguruan tinggi, seperti proses bimbingan skripsi, tesis, disertasi dan tugas perkuliahan lainnya. Bahkan kontrol kualitas perkuliahan dapat dilakukan oleh orang tua mahasiswa sekalipun mereka berada pada jarak yang jauh sebgaimana penulis lihat sendiri di Universitas Bina Nusantara dua puluh tahun yang lalu.

Memasang CCTV lebih efisien dari pada mengangkat sejumlah tenaga keamanan. Namun harus diingat bahwa apapun alasan penggunaan IT, ia berfungsi sebatas alat bukan tujuan.

Gerakan efisiensi perguruan tinggi dapat dilakukan dengan melakukan berbagai pengintegrasi proses, misalnya untuk program studi tertentu kegiatan Kuliah Kerja Nyata dan Praktek Kerja Lapangan dapat diintegrasikan bersama kegiatan penyususnan tugas akhir, seperti skripsi, tesis dan disertasi.

Contoh lain, keterbatasan dosen, seperti pengajar mata kuliah MKU dan beberapa mata kuliah dasar lainnya, seperti matematika dasar, statistik dan metodologi penelitian dapat dilakukan bersama-sama oleh mahasiswa lintas program studi dan fakultas. Dampak lain dari integrasi proses dan sharing sumber daya tersebut dapat membangun karaktek atau rasa kebersamaan, menjadi resolusi konflik dan menumbuhkan rasa tanggung jawab di kalangan mahasiswa dan dosen sehingga tidak ada lagi ego-sektoral, baik ego-program studi maupun ego-fakultas (Penulis, Dosen FKIP UNTAN)

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019