Edarkan Sabu, IRT Dibekuk

Edarkan Sabu, IRT Dibekuk

  Kamis, 4 Agustus 2016 09:45
PENGEDAR NARKOBA: Nurhayati (berkerudung hitam) yang merupakan pengedar sabu-sabu di Kecamatan Simpang Hilir, diamankan bersama barang bukti oleh anggota Polsek Simpang Hilir, Selasa (2/8) malam. DANANG PRASETYO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

MELANO – Malang buat Nur (42), warga Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir ini, tertangkap basah Kepolisian Sektor (Polsek) Simpang Hilir, Selasa (2/8) malam. Ibu tiga anak tersebut dibekuk sebagai pengedar narkoba jenis sabu-sabu yang ternyata telah digelutinya selama dua bulan belakangan ini.

 
“Masyarakat di Padu Banjar sudah resah, karena banyak orang asing yang keluar masuk. Karena rumah ibu ini hanya 1 meter dari badan jalan, orang masuk ke sana, mampir bentar langsung cau, mulai dari orang pakai mobil, truk, pikap, motor, semua datang. Jadi masyarakat resah dengan aktivitas di rumahnya. Sepertinya nyabu tidak pernah dilakukan di rumah, cuma pelaku hanya menjual saja,” jelas kepala Polsek (Kapolsek) Simpang Hilir, AKP Jumadi, Selasa (2/8) malam.

Kapolsek mengungkapkan bahwa mereka sudah hampir seminggu melakukan pengintaian. Melihat momen yang pas, mereka pun langsung menyergap Nur. Saat diamankan, kepolisian hanya mendapat dua paket sabu-sabu dari tangan tersangka. Setelah ditanya, akhirnya Nur bersedia menunjukan 32 paket lainnya yang disimpan di dalam rumahnya. “Sebenarnya kemarin (1/8) sudah mau kita gerebek, tapi mengingat situasi tidak kondusif, sehingga hari ini (2/8) baru kita laksanakan penangkapan. Kita tidak mau gegabah, karena kalau ditangkap tidak ada barang bukti susah juga, mengingat rumah ibu itu dekat parit. Dibuang saja barangnya ke parit, habis BB (barang bukti) nya. Barang yang kita amankan HP, barang bukti sabu ini yang berjumlah 34 paket kecil. Kalau menurut dia (Nur, Red) satu paket ia jual 300 ribu (rupiah). Uang sekitar 400 ribu (rupiah) yang kita amankan,” papar Kapolsek.

Kapolsek menjelaskan paket serbuk haram yang dijual Nur tersebut didatangkan dari Pontianak, yang setiap paketnya dijual Rp300 ribu. Setiap penerimaan barang, yang bersangkutan, menurut dia, telah membagi kemasannya dalam paketan kecil yang siap dijual. Nur sendiri, menurut Kapolsek, masih digolongkan pemain baru, karena tidak pernah menyeleksi pembeli. Jumadi mengungkapkan bagaimana setiap pembeli tetap dilayani yang bersangkutan. “Sabu ini dari Pontianak, ada 2 orang yang mengirim ke ibu (Nur, Red) ini, berdomisili di (Pelabuhan) Senghi. Dari pengakuan ibu itu, barang itu sudah berbungkus kecil-kecil  dan siap siap edar. Dan untuk pelaku masih tergolong pemain baru, (Nur) ini pemain baru,” sambung Jumadi.

Nur saat diwawancarai koran ini, mengaku baru dua bulan menjalani profesi barunya tersebut. Setiap penjualan barang haram itu, dia mendapat keuntungkan dalam kisaran Rp500 ribu – Rp600 ribu. Dan untuk barang tersebut, ia mengakui, berasal dari Pontianak.

“Dua bulan baru saya menjalai bisnis ini. Uangnya tidak untuk apa-apa, setiap menjual (sabu-sabu), kalau habis terkadang dikasi 500 ribu sampai 600 ribu. Barang dari Pontianak, kadang-kadang anak buahnya yang antar langsung, pakai kapal, pakai Bone, tidak tentulah,” ungkap ibu tiga anak ini.

Untuk pelanggan sendiri, Nur mengakui jika sebagian memang merupakan pelanggan tetap, namun ada sebagian orang luar yang tidak ia kenal. Dia berdalih jika pengiriman sebanyak 34 paket tersebut baru kali pertama diterimanya. Ia pun mengaku terkejut dengan banyaknya paket serbuk haram yang ia terima tersebut. “Untuk para pelanggan ada, dari Teluk Batang, Pulau Kumbang, tapi kalau dari Melano saya tidak kenal orangnya, dari Sukadana kemungkinan ada juga. Kalau pengiriman (sabu-sabu) nya banyak, saya tidak tahu, baru kali ini yang banyak. Biasanya dikirim 10 sampai 15 (paket) saja, kadang-kadang juga lima. Yang membeli langsung ke rumah, saya tidak pernah mengantarkan sabu kepada konsumen,” ungkapnya.

 Menanggapi hal ini, tokoh masyarakat Kecamatan Simpang Hilir, Abdul Rani berharap agar kepolisian dapat terus mengungkap peredaraan narkoba yang ada di Kacamatan Simpang Hilir. Apalagi, dia menambahkan, beberapa kasus peredaran obat terlarang ini kebanyakan masuknya dari kecamatan ini. “Lihat, banyak kasus narkoba ini kejadian di Simpang Hilir jadi memang rawan sekali di sini,” katanya.

Ia mengingatkan kepada para remaja, khususnya pelajar, agar tidak terjerumus ke barang haram tersebut. Rani juga mengaku terkejut dengan tersangka yang ternyata berstatus ibu rumah tangga. “Terkejut saya tahu ibu rumah tangga yang menjual sabu. Jangan sampai ada pelajar-pelajar yang terjerumus ke barang haram tersebut,” tutupnya. (dan)

Berita Terkait