Durio Kutejensis – Durian Kuning

Durio Kutejensis – Durian Kuning

Sabtu, 28 November 2015 12:33   2,013

SALAH satu spesies durian dari Kalimantan Barat yang masuk daftar merah (red List) dari International Union for Conservation of Nature and Natural Resources –IUCN (1998) adalah Durio Kutejensis – Durian Kuning. Kata ‘Kutejensis’ digunakan untuk menandai lokasi asal tanaman ini diwaktu dilakukan klasifikasi, yaitu  dari Kutai. Sedangkan kata ‘jensis’ merujuk sebagai penghargaan pada botanis Jerman, Justus Carl Hasskarl -lahir di Kassel, 6 Desember 1811 dan meninggal di Kleve, 5 Januari 1894  (Wikipedia- Justus Carl Hasskarl). Ia pernah bekerja di Kebun Raya Bogor dan melakukan retaksonomi marga durian.

Sebelum digunakan ‘Durio Kutejensis’, tanaman ini diberi nama Lahia Kutejensis (1858). Hingga manuskrip ini diturunkan belum ditemukan literatur yang menjelaskan makna kata ‘lahia’. Nama terkini tanaman ini adalah "Durio kutejensis (Hassk). Becc." Bagian ‘Hassk’ digunakan untuk tetap menghargai botanis Justus Carl Hasskarl. Sedangkan bagian ‘Becc’ diperuntukkan kepada botanis terbesar di abad ke-20, Odoardo Beccari.  Ia ke luar masuk hutan Kalimantan ‘berburu’ durian. Kata ‘Becc’ tercantum juga pada banyak spesies yang lain seperti:. D. affinis Becc., D. conicus Becc., D. dulcis Becc,, D. conicus Becc, D. graveolens Becc., D. sumatranus Becc dll.

Di daerah Sintang dikenal dengan sebutan Pekawai (Dio Abritianto 2011, Buah Pekawai?). Beberapa nama yang lain adalah durian pulu, durian nyekak, durian lukak,  ukak,  ukan pakan, durian lai, durian merah, durian tinggang, ruas, sekawi, papakin, rian isu, paken, durian kuning, serta Durian Utan (Year of the Durian: Durio Kutejensis Hassk. Becc.; www.yearofthedurian.com). 

Spesies ini juga ditemukan di di Nanga Pinoh, Kalimantan Barat dengan sebutan ‘Lai Mansau’. Pohon induk Lai Mansau berumur 50 tahun. Warna kulit buah kuning dan jika  dibelah tampak lima juring berisi 14—17 pongge (jamaludin jamal, 13 April 2014)

Durio kutejensis merupakan salah satu tanaman asli Kalimantan. Dewasa ini, spesies ini juga dibudidayakan di Jawa. Juga ditemukan di Turki, (Michael J. Brown, 1997). Kabarnya juga dikembangbiakkan di negara bagian Quensland (Australia). Buah ini lebih disenangi oleh mereka yang tidak dapat menerima bau yang tajam dari durian pada umumnya. (Wikipedia – Durio kutejensis)

Sebagai tumbuhan tropis, cocok ditanam pada zona antara 15oLS dan 15oLU, dengan curah hujan cukup tinggi (2 000-4 000 mm/tahun) selama sekitar 100 – 150 hari hujan. Ketinggian tempat antara 200 – 600 m dpl, dengan suhu antara 25o–35o C. Walaupun dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah, namun yang optimal ialah tanah dengan drainase baik, remah namun dapat menahan air, pH berkisar antara 4,5 – 6,5.

Penyerbukannya dilakukan oleh kumbang, burung dan kelelawar. Ketiga jenis binatang ini ‘mengunjungi’ bunga Durio Kutejensis secara bergantiang selama 24 jam, Kedaan ini memungkinkan keberhasil bidudaya buah jenis ini cukup tinggi (Takazu Yumoto, dari Universitas Kyoto, Jepang, 2000)

Buah Durio kutejensis ini memiliki aroma yang lembut, warna daging atraktif, daya simpan yang lebih lama, dan musim panen yang berbeda dengan durian.. Aroma yang sangat lembut bahkan hampir tidak beraroma lebih cocok bagi konsumen baru, terutama di pasar ekspor Warna yang menyolok dan atraktif, kuning tua atau oranye, sangat menarik dan menggugah selera. Di samping itu, juga menunjukkan kandungan karoten atau provitamin A yang tinggi. Dengan karakter warna yang atraktif menungkinkan buah ini dipasarkan dalam bentuk olahan minimal. Daya simpan lebih lama yang dimilikinya  akan menjadi salah satu solusi dalam distribusi. durian, baik di dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor. Kelebihan ini memberikan peluang pasar baik domestik maupun ekspor (Panca Jarot Santoso, 2012, Balai Penelitian tanaman buah tropika, Kementerian pertanian, Lai durian berwarna atraktif)

Potensi pasar seperti ini ada baiknya ditangkap untuk penelitian lanjut oleh para ahli buah tropika di Kalimantan Barat, khususnya d universitas Tanjungpura. Semoga!.

 

 

.

 

Leo Sutrisno