Dunia Lain di Taman Anggrek Hitam Selimbau

Dunia Lain di Taman Anggrek Hitam Selimbau

  Sabtu, 16 April 2016 07:11

Berita Terkait

SUNGAI-SUNGAI kecil Selimbau benar-benar mempesona. Sampai saya berpikir, kenapa orang-orang sibuk dan berebut tiket liburan keluar negeri. Padahal, Kalimantan Barat memiliki berjuta keindahan alam yang tak kalah dengan negara lain. 

Saat sampan yang kami tumpangi menyusuri lorong-lorong, saya merasa berada di dunia lain. Dunia yang sebelumnya tidak pernah saya kunjungi. Rerimbunan pepohonan dan kicauan burung serta satwa liar menyatu seirama menciptakan nada, nyanyian alam.

Bulu kuduk saya merinding. Hutan Kalimantan Barat memberikan saya pelajaran baru. Sayang jika hutan seindah ini harus hancur di tangan-tangan jahil perambah hutan.

Sampan kami terus bergerak menuju sungai-sungai kecil. Tiba pada sebuah salah satu pohon besar yang mungkin usianya sudah ratusan tahun. “Ini pohon Rengas. Pohon ini tempat favorit kami berfoto,” ujar Walidad.

Saya pun tertarik untuk berfoto dengan pohon itu. Maklum, pohon itu terlihat unik, karena dari pangkal batang hingga ke atas sudah tidak lagi utuh alias “kroak”. Dan kroakan pohon itu bisa memuat dua sampai tiga tubuh orang dewasa.

 

Pada saat saya ingin berfoto, tiba-tiba kulit kayu yang saya pegang terlepas dari batang pohonnya. Nyaris saya kecebur ke sungai yang kedalamannya mencapai empat meter itu. Beruntung Walidad cepat meraih tas kamera saya. Jika tidak, mungkin akan tercebur bersama isi-isinya. Kaki saya membentur lis perahu, dan sedikit cidera. Terlepas dari peristiwa itu, saya masih bisa bersyukur karena tak jadi tercebur.

Saya tak bisa melupakan pengalaman mengikuti petualangan anggrek liar di sungai ini. Ketika kelembapan belantara tropis menyentuh ujung hidung saya.

Perahu terus berjalan, terbawa arus sampai ke antara interior hutan Borneo yang penuh biji-biji anggrek hitam Coelogyne Pandurata, serta rumpun anggrek tebu Bulbofilum yang tengah memanjat pohon setinggi 7 meter, dan segumpal tanaman anggrek dengan daun menyerupai keris.

Selimbau merupakan pintu masuk menuju kawasan Danau Sentarum, gugus danau pasang surut di Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Sekitar 700 kilometer dari Kota Pontianak.

Jalur petualangan anggreknya meluas dari aliran Batang Belitung, Sungai Terus, Belantik, dan Markadung. Spesies anggrek liarnya cenderung tumbuh epifit pada pepohonan tua jenis kayu Belantik, Kawi, Mutun, dan Putat di tepian sungai.

Menurut Walidad, Taman Anggrek Hitam Selimbau didirikan pada tahun 2007, sebelumnya diawali oleh penemuan dari seseorang  ilmuwan anggrek Cifor (Center for International Forestry Research), Leon Budi Prasetyo.

Waktu itu, kata Walidad, Leon sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Saat itu, dia sering singgah di Kota Selimbau. Dalam keisengannya dalam menyusuri

Sungai Selimbau, secara tidak sengaja menemukan habitat Anggrek Hitam, yang kebetulan tidak jauh dari makam para Raja Selimbau. Setelah melakukan sosialisasi dan penedakatan dengan masyarakat serta dilajutkan demgan musyawarah, akhirnya didirikan Kelompok Wisata Anggrek Danau Sentarum yang diketuai Abang Saharman. Sementara Abang Walidad sendiri sebagai wakil ketuanya.

Setelah itu, kawasan itu ditetapkan sebagai Hutan Lindung dengan taman inti seluas 5 hektar, sedangkan penyangganya sepanjang sembilan kilometer ke arah timur dan sembilan kilometer ke arah selatan. “Maka daerah-daerah yang terdapat Anggrek Hitam dinyatakan tertutup untuk dieksploitasi,” terang Walidad.

Taman Anggrek Hitam Selimbau menjadi laboratorium alam, tidak boleh diganggu dan dijaga oleh juru pelihara yang digaji oleh Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu.

Menurutnya, Taman Wisata Anggerak Hitam Selimbau juga mempunyai beberapa cabang,  diantaranya di Danau Lembuyan, Pelaik, Desa Engkrengas yang memiliki Anggrek Hitam terbaik dan terbanyak, serta Desa Benuis yang memiliki luas 20 hektar Taman Anggrek Hitam,  sebagai penyangga Taman Anggrek Hitam di Selimbau.

Dikatakan Walidad, Anggrek yang terbaik adalah tumbuh sepanjang lorong, kanal, atau stut jalan pintas dari Selimbau menuju Engkrengas melewati hutan. Dan hutan itu pada jam 12 siang hari, Dimana sinar matahari tidak mampu menembus ke bawah. “Sedangkan turis-turis bisa menikmati perahu yang melalui di air yang tenang sambil berbaring dan membelai anggrek yang menjulur dari kayu-kayu tua,” katanya.

Berdasarkan penelitian, Anggrek Hitam yang ada di Selimbau diperkirakan diatas 50 tahun umurnya. Populasinya sangat banyak dan diklaim lebih baik dari Taman Anggrek di dataran tinggi Peru, Amerika. “Januari 2016 mencapai titik terindah, karena air pasang pada titik maksimal. Dimana pun turis yang akan mengunjungi tempat itu, yang sakit atau yang lumpuh bisa berbaring di atas sampan, bisa memegang atau memotret anggrek yang tumbuh dilokasi itu,” bebernya.

Untuk jenis, lanjut Walidad berdasarkan data, ada 45 jenis anggrek yang tumbuh secara liar di Taman Anggrek Hitam dan penyangganya. Sedangkan di Taman Nasional Danau Sentarum terdapat  155 jenis. “Jumlahnya bisa saja bertambah,” lanjutnya.

Menurut Walidad, Anggrek Hitam memiliki keistemewaan, dari segi mitos mempunyai kekuatan tertentu, bahkan pada film Anaconda III yang konon proses sutingnya ada di puncak hulu Kapuas, Anaconda itu akan hidup abadi apabila memakan bunga Anggrek Hitam.. Selain itu Anggrek Hitam adalah tanaman lanka dan hampir punah, masuk ke Apendik  I. “ Karena saat itu hanya mampu berdaun dua atu empat lembar pertahun. Jadi apabila kita mengambil satu rumpun maka baru bisa pulih dalam waktu 10 tahun yang akan datang. Maka dilarang untuk dieksport atau diternakan di rumah penduduk,” paparnya.

Saat ini, lanjut Walidad, tim peneliti sedang melakukan perkecambahan biji Anggrek Hitam dari spora pembibitan dalam botol. Yang kemungkinan bisa menghasilkan 70 ribu bibit yang baru.

Wow, luar biasa. Tak heran jika Selimbau dijuluki, Sepenggal Surga di Jantung Borneo. (arief nugroho)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait