Dulunya Rocker, Sempat Setahun Sakit Tenggorokan

Dulunya Rocker, Sempat Setahun Sakit Tenggorokan

  Minggu, 31 July 2016 10:17
SENIMAN: Para penyanyi khoomei berpose setelah tampil dalam Festival Nadaam di Ulan Bator. SEKARING RATRIRATRI/JAWA POS

Berita Terkait

Suara dari tenggorokan yang dihasilkan para penyanyi khoomei umumnya meniru suara alam. Bisa sampai belasan tahun untuk sampai taraf mahir.  

SEKARING RATRI A, Ulan Bator, Mongolia

Mata kekasihku Seperti bintang yang terlambat bersinar Kepangan rambutnya yang kasar  Seperti pohon aras di padang rumputku  (A-Shoo-De-Ke-Yo, Huun-Hur-Tu)

HARI-harinya selalu ditemani Metallica, Slipknot, dan Korn. Namun, begitu lulus SMA, dia tahu sekali apa yang ingin dilakukannya: belajar menyanyi yang sungguh ”menyiksa” tenggorokan. 

”Itu gara-gara kakek saya yang penyanyi khoomei. Dulunya saya penyanyi rock,” kenang Odbayar Oyunbayaar. 

Khoomei atau hooliin chor alias throat singing adalah seni menyanyi dengan menggunakan suara yang dihasilkan dari tenggorokan. Itu merupakan seni menyanyi tradisional khas Mongolia. 

Tapi, kesenian yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia itu bisa ditemui pula di Tuva dan Siberia, dua wilayah Rusia yang berbatasan langsung dengan Mongolia. Cara menyanyi serupa juga dipraktikkan orang-orang Inuit, penduduk Greenland, Alaska, dan Kanada yang berada di kawasan tak jauh dari Kutub Utara.

Pekan lalu khoomei menjadi salah satu bagian dari Festival Nadaam yang dihelat bertepatan dengan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Eropa di Ulan Bator, ibu kota Mongolia. Wakil Presiden Jusuf Kalla termasuk yang turut menikmati seni menyanyi yang tak mudah dipelajari itu. 

”Hampir setiap hari saya mengalami sakit tenggorokan di awal-awal belajar,” kata Oyunbayaar yang tampil bersama bandnya, Khusugtun, di festival tersebut. 

Menurut Oyunbayaar, agar bisa menyanyi dengan tenggorokan, si penyanyi harus menggunakan pernapasan perut. Dan, memompakan udara ke tenggorokan. ”Lalu, tarik napas sekuat-kuatnya, baru keluarkan suara,” kata alumnus Universitas Budaya dan Seni Mongolia itu, lantas memberikan contoh. 

Yang terdengar memang seperti suara seruling, cuitan burung, atau nggereng alias meraung. Tapi, sejatinya ada harmoni di sana. Itu pula yang diperlihatkan para penampil di hadapan para pemimpin dari Asia dan Eropa pekan lalu.

Satu band menyanyi bersamaan. Ada yang menggunakan nada tinggi, ada yang rendah. Terdengar rapi karena kuatnya harmonisasi para penyanyinya.

Itu pula sebabnya khoomei disebut pula hooliin chor alias harmoni tenggorokan dalam bahasa setempat. Para penyanyinya bisa menghasilkan dua atau tiga nada secara berkelanjutan. 

Instrumen pengiringnya macam-macam. Bisa menggunakan igil atau khomus, doshpulur (harpa dan gitar khas Tuva/Mongol), atau dunggur (perkusi). Belakangan, para seniman khomeei juga mulai terbuka dengan instrumen modern seperti gitar akustik maupun elektronik. Bahkan juga peralatan musik elektronik. 

Suara yang dikeluarkan para penyanyi khomeei pada umumnya meniru suara alam di sekelilingnya. Misalnya, suara binatang, pegunungan, aliran sungai, dan angin kencang. 

Itu sesuai dengan kondisi Mongolia yang merupakan negara dengan tingkat kepadatan penduduk terendah di dunia. Dan, sekitar 30 persen dari 3,1 juta penduduknya masih nomaden.

Negeri tanpa lautan itu dikelilingi padang rumput, gunung, dan padang pasir. Tidak heran pula kalau lirik lagu-lagu khomeei juga banyak bercerita tentang alam atau menggunakan alam sebagai metafora. Penggalan lagu A-Shoo-De-Ke-Yo dari band khomeei terkenal asal Tuva, Huun-Hur-Tu, di atas contohnya. 

Untuk bisa mahir menyanyi dengan menggunakan suara tenggorokan, waktu yang dibutuhkan cukup panjang. Yakni, 6 sampai 15 tahun. Oyunbayaar termasuk beruntung hanya butuh enam tahun. 

Teman kuliahnya, Khosbayar Bayarsaikhan, mengaku harus belajar sampai 10 tahun sebelum akhirnya mendapat kepercayaan tampil di festival besar seperti Nadaam. ”Saya sempat sampai sakit tenggorokan selama setahun,” kata pemuda 27 tahun itu. 

Bayarsaikhan bahkan mengaku sempat hampir menyerah dan ganti jurusan. Tenggorokannya terlalu sakit untuk digunakan menyanyi. ”Tapi, untunglah Odbayar menguatkan dan meyakinkan saya,” katanya. 

Kuncinya memang pada determinasi. Sakit mesti dilawan. Tak ubahnya berlatih memainkan gitar yang harus terus dilakukan kendati jari-jari rasanya sudah seperti berdarah-darah. 

Di tengah rasa sakit, Oyunbayaar dan Bayarsaikhan tetap berlatih tiga kali dalam sepekan. Kedisiplinan itu terus dijaga sampai sekarang kendati mereka bisa dibilang telah mahir. 

Menurut Oyunbayaar, rata-rata penyanyi khoomei dulunya penyanyi, atau minimal menggemari, rock. ”Sebab, pada dasarnya teknik menyanyinya tidak jauh berbeda,” katanya. 

Dalam terminologi musik metal dikenal growl. Itu adalah gaya vokal yang biasa digunakan para vokalis band bergenre death metal. 

Secara garis besar, tekniknya sama dengan khomeei. Si penyanyi harus menggunakan pernapasan diafragma atau perut. Juga, menggunakan tekanan udara di tenggorokan untuk menghasilkan suara. Termasuk saat menggapai nada-nada tinggi. 

Di Mongolia, pelestarian khomeei terjaga. Banyak anak muda di sana yang mempelajarinya dengan serius. Karena itu pula, wakil Mongolia kerap berjaya di beragam ajang khomeei internasional. 

Terakhir pada tahun lalu, band Khusugtun berhasil menjadi juara dunia di Rusia. ”Ketika itu ada kompetisi musik tradisional di sana. Seni bernyanyi menggunakan kerongkongan termasuk yang dilombakan,” kata Adiyadorj Gombosuren, salah seorang personel Khusugtun. 

Tak hanya itu, band yang terdiri atas enam personel itu pun pernah mengikuti ajang pencarian bakat, Asia’s Got Talent 2015. Hasilnya pun cukup membanggakan. Mereka menjadi runner-up. 

”Kami juga rutin tampil dalam acara-acara kenegaraan dan festival-festival besar, baik di Mongolia maupun di negara-negara lain,” kata Gombosuren. 

Meski sudah demikian populer, Gombosuren, seperti juga umumnya para sejawatnya, tak menjadikan kiprah di khomeei itu sebagai mata pencaharian utama. ”Kami menggeluti khomeei ini hanya bentuk kecintaan kami kepada Mongolia. Jadi, kami tetap membutuhkan pekerjaan dengan gaji tetap,” kata Gombosuren yang sehari-hari berprofesi polisi itu.

Ya, bagi Gombosuren dan warga Mongolia pada umumnya, khomeei hanyalah cara mereka memuja alam. Bersahabat dengannya. Menjadikannya bagian tak terpisahkan dari realita keseharian.

Termasuk dalam urusan romansa. Misalnya, tergambar dalam lanjutan lirik lagu yang sama dari Huun-Huur-Tu:  

Mata kekasihku yang belia

Seperti bintang yang bersinar di sore hari

Kepangan rambutnya terlahir di musim gugur

Seperti tanah pohon aras. (*/c10/ttg) 

Berita Terkait