Dulu Sering Dipanggil Guru BK, Kini Selalu Buat Bangga

Dulu Sering Dipanggil Guru BK, Kini Selalu Buat Bangga

  Jumat, 21 Oktober 2016 08:54
Bangga: Zakaria (kiri) saat diberi ucapan selamat oleh Komisaris Utama Jawa Pos Group Azrul Ananda. (foto kanan) Zaka sedang mempresentasikan aksi positifnya. jpg

Berita Terkait

Keluar masuk BK (Bimbingan Konseling) sewaktu SD dan SMP sudah biasa bagi Zakaria Anshari (16). Namun proses dalam pembentukan karakter membuatnya menjadi anak yang peka, dan peduli pada sesama. Bahkan sekarang ia menjadi Duta Partisipasi Anak Kalimantan Barat dan aktif di Forum Anak untuk memperjuangkan hak-hak anak yang ada di Kalbar. 

SYAHRIANI SIREGAR

Dikenal sebagai anak yang bandel dan sering dipanggil guru BK, begitulah Zakaria sewaktu duduk di bangku SD dan SMP. Banyak alasan yang membuat ia menjadi incaran guru BK. Seragam sekolah yang tak pernah rapi karena baju yang tak pernah dimasukkan ke celana. Sepatu juga tak pernah berwarna hitam, serta senang berantem dan tawuran. Bahkan belum satu minggu bersekolah ia pernah melompati pagar sekolahnya. Tak tanggung-tanggung orang tuanya pun turut dipanggil, tak cuma sekali. 

Rasa khawatir sempat menghampiri Normawati, sang mama. Betapa tidak. Sebagai anak sulung dari dua bersaudara, Zakaria adalah tumpuan keluarga. Ia harus menjadi contoh yang baik untuk sang adik. “Apa pun yang dibutuhkan Zakaria bakal saya penuhi asal dia jadi anak baik,” harap Normawati saat itu.

Normawati menyadari bahwa si anak punya watak yang keras. Anaknya itu tidak mudah menerima nasehat. Namun saat duduk di bangku kelas tiga, sifat Zaka mulai melunak. Dia tak sekeras kepala seperti sebelumnya. Nasihat mamanya mulai mau didengarnya. 

Perubahan pun terjadi pada perilakunya. Dia jadi lebih lembut dan mudah menerima pendapat orang lain. Dia juga lebih rajin belajar. Yang lebih menyenangkan, Zaka tergabung di sejumlah komunitas, salah satunya komunitas pencinta anime dan manga yang membuka jalan pikirannya.

Ia menjadi lebih banyak membaca dan memperhatikan lingkungan sekitar karena di komunitas ini ia bisa sharing dengan karakteristik orang yang berbeda dan dari berbagai usia. Tak hanya anak muda seusianya tapi ia banyak belajar dari yang lebih dewasa. “Aku sering interaksi dan dengar pendapat orang lain di group chat ini, share berbagai hal dan mulai belajar cara bersosialisasi yang baik,” ujar Zakaria pada Pontianak Post, kemarin.

Sampailah ia diajak untuk bergabung di Forum Anak oleh kakak kelasnya. Ia pun mulai menunjukkan keseriusannya dengan menjadi Duta Partisipasi Anak di Kalimantan Barat. Ia peka dan aktif berdiskusi merumuskan masalah-masalah anak di daerahnya, mencari solusi dan menyampaikannya ke wali kota dan gubernur. Beberapa di antaranya adalah penyamarataan kurikulum pendidikan, karena dalam praktiknya kurikulum sekolah di Pontianak berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Fasilitas pendidikan, melawan asap rokok, dan masalah akte lahir. Ternyata masih banyak anak di Kalbar yang belum memiliki akte lahir.

Dari forum anak inilah ia kenal dengan orang-orang yang menginspirasi, seperti anak-anak yang berprestasi, ketua OSIS, aktivis yang membawanya ke arah yang lebih positif. “Forum anak sudah seperti keluargaku sendiri, beraktivitas dan berjuang bersama untuk pemenuhan hak-hak anak,” ungkap siswa SMA Negeri 1 Pontianak itu.

Aksi positifnya di forum anak inilah dikirimnya untuk mengikuti Zetizen National Challenge go to New Zealand. Ia sangat aktif mensubmitnya di Zetizen dan telah melalui berbagai tahap penjurian, salah satunya Zetizen Summit di Surabaya pekan lalu. Hingga akhirnya dia terpilih sebagai pemenang dan berhak menikmati perjalanan ke Selandia Baru.

“Tak menyangka bisa terpilih, tapi sewaktu tahap penjurian aku memang sempat ditanya lama sekali oleh dewan juri, mungkin sekitar 15 menit lebih, ditanya secara spesifik. Di awal-awal memang sempat begegar tapi berusaha menjawab dengan sebaik mungkin,” ujarnya. 

Dari berbagai kegiatan komunitas yang diikutinya ternyata ia sangat menikmati dan seolah mendapatkan passion untuk planning masa depannya. Ia sangat senang bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang, bersosialisasi dan mengemukakan pendapatnya di depan umum.

Sang mama yang mendambakannya menjadi seorang dokter harus bernegosiasi terlebih dahulu. “Awalnya saya menginginkan Zakaria melanjutkan kuliahnya di kedokteran nantinya, karena saya kan di bekerja di dunia kesehatan dan saya ingin dia meneruskan klinik. Tapi sepertinya passionnya tidak ke arah sana. Dia lebih senang ke dunia sosial. Apa pun pilihannya nanti saya akan tetap support,” tambah Normawati.

Zakaria tumbuh menjadi anak yang mandiri, meski usianya masih muda ia telah diberi kepercayaan yang besar di keluarga. Sejak SMP dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri, bahkan ia biasa membantu mamanya untuk mengerjakan tugas kuliah seperti karya tulis ilmiah. Tak diragukan, Zakaria memang mumpuni di bidang akademik, baik itu eksakta maupun bahasa, ia juga peraih NEM 100 untuk nilai UN Bahasa Inggris sewaktu SMP.

Pengalaman di Zetizen membuka matanya lebih lebar lagi. Di Zetizen banyak sekali anak-anak muda yang menginspirasi. Ia mendapatkan banyak pengalaman pengetahuan yang bisa diceritakannya ke orang lain. Di New Zealand nanti ia berharap bisa banyak belajar di sana bersama anak-anak muda lainnya yang menginspirasi. 

Begitu juga harapan sang mama, karena New Zealand adalah negara dengan masyarakat maju. Dengan begitu, ia berharap anaknya bisa belajar banyak dan mengaplikasikan ilmu yang didapatkan sepulangnya dari negara yang terkenal dengan keindahannya sehingga dijuluki surga dunia tersebut. (*) 

 

    

Nama        : Zakaria Anshari

Lahir        : Pontianak, 27 Mei 2000

Pendidikan:

MIN Teladan Pontianak

SMP Negeri 3 Pontianak

SMA Negeri 1 Pontianak

Prestasi:

50 Besar Esai Terbaik Lomba Esai Nasional UGM Tahun 2015

Juara III Lomba Debat Hukum Kalbar Tahun 2016

Duta Partisipasi Anak Kalimantan Barat Tahun 2016

Berita Terkait