Dukung Prancis, tapi Hijau Total saat Aljazair Main

Dukung Prancis, tapi Hijau Total saat Aljazair Main

  Selasa, 21 June 2016 09:30
LEBIH RAMAH: Suasana di Marche aux Puces atau Pasar Kutu, Marseille. Banyak pendatang dari Afrika Utara, khususnya Aljazair, yang menghuni kawasan ini. MUHAMAD ALI/JAWA POS

Berita Terkait

Ada kampung pendatang di Marseille yang dikenal ganas, ada pula yang lebih ramah. Di ”Pasar Kutu”, suasana mirip pasar Ramadan gampang ditemukan.

BASKORO YUDHO, Marseille 

TAK perlu cemas jika ingin mengunjungi Daerah 15.” Begitu saran Rudi Natamihardja yang seharian mengantar saya mengunjungi basis-basis kaum pendatang di Marseille, Prancis. ”Itu (Daerah 15) hanya sebuah pasar. Kejahatan kecil-kecilan memang ada, tapi tidak sehoror di La Castellane,” jelas pria yang tengah menempuh studi S-3 di Marseille tersebut.

Daerah 15 adalah nama lain Marche aux Puces atau ”Pasar Kutu”. Kawasan di Chemin de la Madrague Ville, Mar seille, itu merupakan tempat berkumpulnya warga\ pendatang yang berprofesi pedagang. Ciri khas pasar tradisional yang kumuh, kotor, dan kurang tertata juga terlihat di Marche aux Puces. Selain lantainya yang becek dan banyak sampah berserakan, penataan stan tak mempertimbangkan estetika. Itu terlihat dari stan penjual buah dan sayur-mayur yang menjadi satu dengan los barang-barang elektronik. 

Mengapa disebut Pasar Kutu? Menurut Rudi, istilah tersebut muncul karena kawasan itu dulu adalah sebuah pasar loak. Banyak orang yang mencari barang-barang bekas di sana. ”Dan biasanya di barang bekas itu ada kutunya,” lanjut dia. Nah, akibat makin derasnya arus imigran yang memasuki Marseille, sedangkan profesi mereka mayoritas adalah pedagang, kawasan pasar loak tersebut diubah menjadi pasar tradisional. Ribuan pendatang, baik pengungsi maupun imigran, kemudian ditampung di Pasar Kutu tersebut sejak 1988. ”Tapi, transaksi barang bekas tetap ada di sini. Ada area khusus yang menjual barang loakan,” ujarnya.

Saat memasuki Marche aux Puces, Saya  merasa tidak sedang berada di Prancis. Pasalnya, di antara ribuan orang yang melakukan transaksi jual beli, jarang yang memakai bahasa Prancis. Mayoritas memang pendatang dari Afrika Utara. 

Wajah-wajah Arab lebih mendominasi. Pedagang atau pembeli laki-laki kebanyakan berjenggot, sedangkan yang perempuan mayoritas berkerudung. ”Lihat saja barang dagangannya. Mirip pasar Ramadan,” ucap Rudi sambil menunjuk deretan los yang menjual kurma, tasbih, sajadah, kerudung, dan ke perluan ibadah kaum muslim lainnya.

Karena pedagang dan pembeli adalah pen datang dan rata-rata berasal dari negara yang sama, kultur serta bahasa mereka tetap terjaga. Jadi, tak heran jika jarang terdengar orang yang memakai bahasa Prancis di sana. 

”Namun, mereka tetap loyal kepada Prancis. Buktinya, kalau Prancis main pas Euro 2016, mereka tetap menonton dan memberikan dukungan,” jelasnya. ”Mereka ikut menyanyikan La Mar seillaise (lagu kebangsaan Prancis, Red),” ucapnya.

Namun, jangan ditanya kalau timnas Aljazair bermain. Aktivitas di Pasar Kutu bisa berhenti total. ”Waktu Aljazair main di Piala Dunia 2014, kawasan ini berubah menjadi hijau total (sesuai warna kostum dan bendera Aljazair, Red). Mereka bisa berpesta seharian kalau Aljazair menang,” ungkapnya.

Mengutip World Population Review, Marseille, kota tertua di Prancis, memang melting pot. Posisi geografisnya di tepi Laut Mediterania membuatnya terus dibanjiri pendatang. Beragam etnis pun terwakili di sana. Pada 2014 tercatat 41,8 persen dari mereka yang berumur di bawah 18 tahun merupakan keturunan pendatang. Sepanjang abad ke-20 terjadi berkali-kali gelombang kedatangan pendatang. Baik yang berstatus pengungsi maupun imigran. Kebanyakan dari Eropa, terutama dari Italia dan Yunani. Mereka terutama didorong faktor perang dan ekonomi.

Pada 1950-an, 40 persen warga Marseille merupakan pendatang dari Italia dan keturunannya. Selain Italia dan Yunani, tercatat arus kedatangan dari Rusia (1917), Armenia (1915 dan 1920-an), Vietnam (1920-an, 1950-an, dan sesudah 1975), Korsika (1920-an dan 1930-an), Spanyol (setelah 1935), Afrika Utara (antara Perang Dunia I dan II), serta Sub-Sahara. 

Data dari World Population Review juga memperlihatkan, kebangsaan terbesar di kota pelabuhan itu pada 2006 adalah Aljazair. Mencapai  70 ribu orang. Kini, sepuluh tahun berse lang, jumlahnya sudah pasti berlipat-lipat. Jadi, wajar kalau tim nasional Aljazair kemudian memiliki banyak sekali pendukung di sana.

Perekonomian Marseille memang terus tumbuh. Tapi, begitu pula kriminalitasnya. Kota di bagian selatan Prancis itu pun tercatat sebagai kota paling berbahaya di Eropa. Yang tekun mengikuti sepak bola juga pasti tahu, duel dua tim dari dua kota terbesar di Prancis, Olympique Marseille (Marseille) dan Paris Saint-Germain (Paris), selalu memusingkan pihak keamanan. 

Sebab, laga selalu penuh dengan potensi kerusuhan. Kendati tak seganas La Castellane, kampung kelahiran Zinedine Zidane, aroma kriminalitas dalam level kecil-kecilan juga terasa di Marche aux Puces. ”Jadi, hati-hati sama dompet. Di sini banyak copet. Jaringan mereka kuat,” tutur Rudi. 

Kejahatan kecil lainnya antara lain pemalsuan merek. Banyak anak muda yang menjual rokok Marlboro di pintu masuk pasar. Rokok-rokok impor itu tak hanya ditawarkan kepada pengunjung pasar. Tapi juga kepada orang yang kebetulan berjalan melewati trotoar depan pasar. ”Itu Marlboro palsu,” kata Rudi.

Meski lebih terbuka terhadap orang asing, mereka tak lantas tidak memasang sikap hati-hati. Seorang pria sempat marah-marah kepada saya yang tengah mengambil gambarnya saat membeli sayuran. ”Garder la camera (jauh kan kamera)!” teriak pria itu sewot.

Mengapa tak mau difoto? ”Ya, di sini memang begitu. Kalau mau ambil gambar, harus izin dulu. Kecuali kita sudah kenal,” terang Rudi. (*)

Berita Terkait