Duit Narkoba Rp2,7 Triliun

Duit Narkoba Rp2,7 Triliun

  Rabu, 26 Oktober 2016 09:30
NARKOBA RP2,7 T: Badan Narkotika Nasional merilis barang bukti transaksi keuangan hasil kejahatan narkotika selama setahun terakhir senilai Rp2,7 triliun di Gedung BNN, Jakarta, Selasa (25/10). MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Berita Terkait

Mengalir ke 11 Negara, Punya Pabrik dan Apartemen

JAKARTA – Badan Narkotika Nasional (BNN) menuntaskan kasus transaksi mencurigakan senilai Rp2,7 triliun milik sindikat narkotika Pony Candra. Uang panas itu mengalir ke 11 negara dengan memalsukan commercial invoice atau faktur pembelian barang impor. BNN berhasil menyita aset Pony Candra senilai Rp 83,5 miliar.

Kepala BNN Komjen Budi Waseso menyatakan, kasus transaksi mencurigakan yang diduga merupakan hasil bisnis narkoba itu ditangani sejak April lalu. Nilainya Rp3,6 triliun. ’’Kami telusuri selama hampir tujuh bulan,’’ ujarnya.

Transaksi mencurigakan tersebut dikendalikan oleh anak buah Pony Candra berinisial R dan JT. R menggunakan 15 nama perusahaan sebagai kedok. Uang itu dikirim ke 11 negara, yakni Tiongkok, Taiwan, Hongkong, Singapura, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Inggris, Filipina, dan Thailand. ’’Uang tersebut dikirim dengan modus seakan-akan melakukan impor,’’ jelas Budi.

Dalam kurun 2014 hingga 2015, ada 1.831 lembar faktur pembelian barang impor. Total uang yang terkirim ke luar negeri mencapai Rp2,7 triliun. ’’Kami bekerja sama dengan sebelas negara tersebut agar bisa mendeteksi uang hasil narkotika itu,’’ kata Budi. Semua rekening tersebut milik bandar internasional. ’’Artinya, sindikat Pony Candra ini membayar narkotika yang dibelinya,’’ sambung mantan Kabareskrim itu.

Ada juga dua anak buah Pony Candra, yakni RUS dan ET, yang mengelola money changer sebagai kedok untuk mencuci uang hasil narkoba. Selanjutnya, uang hasil narkotika itu dimasukkan ke bank sebagai hasil penukaran uang.

Pengejaran keempat pelaku tidak mudah. Mereka berpindah-pindah tempat. Akhirnya mereka ditangkap di kompleks Perumahan Pluit Sakti, Jakarta Utara, pada 17 Oktober. Dari pengakuan mereka, ada sejumlah aset milik sindikat tersebut. Di antaranya, 5 unit apartemen, 2 ruko mewah, 2 kios, pabrik kemasan, 2 mobil mewah, perusahaan money changer, 40 kartu ATM, dan sejumlah mata uang asing. Total aset sindikat narkotika Pony Candra mencapai Rp 83,5 miliar.

BNN masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengungkap kasus dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari 72 sindikat narkoba di Indonesia. BNN mendapat persetujuan dari Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk menggunakan sejumlah aset milik bandar yang telah disita. ’’Saat ini tinggal menunggu menteri keuangan,’’ ujar Budi.

Dalam kondisi keuangan negara seperti sekarang, sangat masuk akal bila menggunakan uang narkoba untuk memberantas kejahatan tersebut. ’’Sehingga tidak perlu mengurangi uang negara,’’ katanya. (idr/c17/ca)

 

Berita Terkait