Dua Perupa Kalbar Pajang Karyanya di Pameran Besar Seni Rupa 2016

Dua Perupa Kalbar Pajang Karyanya di Pameran Besar Seni Rupa 2016

  Minggu, 11 September 2016 11:29
PAMERAN: Fathul Iksan saat berpose di samping hasil karyanya yang dipajang di Pamerkan Besar Seni Rupa ke 4 tahun 2016 yang digelar Kemendikbud Ri di Taman Budaya Manado, Sulawesi Utara. (Ikhsan & Jayus for Pontianak Post)

Berita Terkait

 

Eksistensi seni rupa karya perupa Kalimantan Barat tidak bisa diremehkan. Terbukti dua karya seni berjudul Lancang Kuning karya Fathul Ihsan dan Perahu Nusantara karya Jayus Agus Tono lolos seleksi dan menjadi peserta Pameran Besar Seni Rupa ke 4 tahun 2016 di Manado, Sulewesi Utara.

Raut wajah bahagia Fathul Ihsan alias Ihsan tidak bisa disembunyikan lagi saat mengetahui dirinya menjadi salah satu peserta Pameran Besar Seni Rupa ke 4 tahun 2016 (PBSR#4) itu. 

Karya seni berupa lukisan diatas canvas yang berjudul Lancang Kuning dipilih kurator sebagai salah satu karya seni yang di pajang di dalam event tahunan yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI). “Rasanya tidak nyangka saja bisa terpilih,” ujar Ihsan, yang juga desain grafis sekaligus layouter Harian Pontianak Post ini.

    Ihsan sebelumnya tidak memprediksi karya lukisnya lolos. Karena berdasarkan pengalaman, Pameran Besar Seni Rupa sebelumnya berdasarkan penunjukan oleh Taman Budaya, namun kali ini publikasi cukup luas lewat jalur open call seleksi dari pusat.

    "Tidak memprediksi dan bahagia dapat mewakili Kalimantan Barat," katanya.     Dalam pameran ini, Iksan mengirim lukisan berjudul Lancang Kuning. Lukisan ukuran kanvas 59,7cm x 74,2cm, cat akrilik di atas kanvas itu terpajang bersama karya perupa lainnya. 

    Menurut Ihsan, Lancang Kuning dipilih karena termasuk salah satu bentuk warisan budaya kerajaan melayu yang ada di Kalimantan Barat, sisi menariknya ingin merepresentasikan salah satu alat transportasi dalam tradisi kerajaan untuk mengantar tamu-tamu raja menyusuri sungai kapuas. 

    Dikatakan Ihsan, karya ini sekaligus untuk membedakan Lancang Kuning yang berasal dari Riau, dimana mempunyai bentuk dan ukuran lebih besar serta memakai layar. 

    "Alhamdulillah, pemilihan objek lukisan itu memenuhi tema pameran yang telah ditentukan panitia, yaitu epicentrum, pemaknaan dimana korelasi salah satu unsur tradisi merupakan pula pusat (epicentrum) perkembangan kebudayaan dimasa-masa mendatang sebagai pondasi yang tak layak terlupakan sebagai identitas individu," kata Ihsan.‎

    Ihsan tidak sendirian, perupa lainnya adalah Jayus Agus Tono. Perupa yang eksis melestarikan sepeda onthel di Pontianak ini juga terpilih sebagai peserta pameran bertaraf nasional itu. Karyanya berjudul Perahu Nusantara dipajang di dinding pameran. 

    Kegiatan ini sendiri diikuti 26 kontingen dari berbagai daerah di Indonesia. Tentunya ini menjadi sesuatu yang sangat membanggakan bagi kedua dan Kalimantan Barat pada umumnya.

 Pameran Besar Seni Rupa (PBSR) sendiri telah diselenggarakan sebanyak empat kali, sebelumnya sukses diselenggarakan di Jambi pada tahun 2013, Papua tahun 2014 dan NTT pada tahun 2015. Kali ini Manado, Sulawesi Utara sebagai tuan rumah sejak tanggal 6 -9 September 2016.

    Perhelatan yang digelar Kemendikbud RI tersebut melibatkan ratusan perupa tanah air yang terpilih mewakili 34 provinsi seluruh Indonesia, maupun undangan khusus dari kelompok seni dan perguruan tinggi seni. Mereka memajang karyanya, baik berupa lukisan dengan berbagai medium, grafis, patung, instalasi hingga mural.

    Masing-masing provinsi dipilih dua perupa dari pendaftar yang ada, oleh tim juri lintas bidang diantaranya Pustanto (Direktorat Kesenian Kemendikbud), Rikrik Kusmara (FSRD-ITB Bandung), dan Yusuf Susilo Hartono (Pelukis dan Pemred Majalah Seni Rupa Galeri), yang masing masing sebagai kurator.

    PBSR kali ini mengusung tema besar "Harmoni dalam Keragaman Budaya" dengan sub tema "Episentrum Lokal".    Hal itu sebagai perwakilan wilayah Indonesia yang memiliki modal kultural dan modal alam yang unik, aneka bahan, teknik (dalam tradisi dan yang terbarukan) untuk mendapatkan karya-karya seni rupa dalam tataran inspiratif bahkan adiluhung.

    Menurut Pustanto, pemeran ini hendaknya dapat memdororong munculnya kekuatan dan kualitas baru dalam luasnya geografis indonesia menjadi episentrum yang tersebar di Indonesia.

    Sementara itu Rikrik, Kurator Pameran mengatakan, serelah melihat keseluruhan karya yang ada dalam PBSR kali ini, Ia mencoba membandingkannya dengan PBSR sebelumnya. Menurutnya, hasil karya-karya yang dipajang tahun ini terasa lebih beragam meskipun belum seideal yang diharapkan.  Dari segi artistik, masih terasa adanya kesenjangan antara karya2 perupa di jawa dan luar jawa, terutama Indonesia timur. (arf)

 

 

 

Berita Terkait