Dua Menit Gelap Seperti Malam

Dua Menit Gelap Seperti Malam

  Kamis, 10 March 2016 08:10
GMT: Kombinasi sejumlah foto menunjukkan fase gerhana matahari total yang terjadi di Indonesia, Rabu (9/3) kemarin. Permulaan gerhana terlihat dari foto kiri atas, sementara akhir gerhana terlihat pada foto kanan paling bawah. Foto diambil di sebuah pantai di Ternate. REUTERS/Beawiharta

Berita Terkait

KENDAWANGAN - Gerhana matahari total (GMT) di Kabupaten Ketapang menjadikan wilayah yang dilintasinya gelap ibarat malam dalam waktu dua menit. Gelapnya wilayah yang dilintasi itu tak hanya terjadi di Kendawangan.

Sejumlah warga Pesaguan, Kecamatan Matan Hilir Selatan dan warga Kecamatan Benua Kayong yang ditemui mengakui hal itu. “Di sini (Pesaguan_red) sangat jelas terlihat gelap, dan kemudian berubah berbentuk cincin. Pagi tadi langit cerah di sini,” kata seorang pemuda, Ujang, saat ditemui di Pesaguan.

Demikian juga di Desa Padang, Kecamatan Benua Kayong. Kurniawan, warga setempat mengakui melihat matahari tertutup. Tampak jelas pergeseran orbit matahari dan bulan, membentuk seperti sabit. Sedangkan di Kecamatan Delta Pawan juga diakui warga gelap.

Di Masjid Al-Ikhlas Ketapang digelar salat gerhana secara berjemaah. “Ayam sempat berkokok saat langit tiba-tiba menjadi gelap,” ujar Reni, seorang ibu rumah tangga. Jika warga di Kecamatan Matan Hilir Selatan bisa menyaksikan dengan jelas prosesi GMT, beda halnya dengan di Kendawangan.

Di Kendawangan, fenomena alam tersebut sebagian tertutup awan. Apalagi sebelumnya hujan mengguyur kawasan ini dari malam sampai dini hari. Walaupun demikian, tidak menyurutkan semangat warga memadati Kota Kendawangan yang diketahui mengalami gerhana matahari total (GMT) terjadi 100 persen.

Sejak Selasa petang, Kendawangan mendadak padat. Warga dari Kota Ketapang berdatangan ke Kendawangan, baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Ramainya warga yang datang membuat tiga penginapan di Kendawangan sejak sore sudah penuh. Pengunjung lainnya terpaksa menginap di tempat kenalan dan keluarga.

Tidak sedikit yang meluncur ke Kendawangan pada subuh hari, dan tiba di Kendawangan sebelum pukul 07.00. Meskipun pada puncak gerhana matahari total sebagian langit tertutup awan, pengunjung masih bisa menikmati keindahan alam Kendawangan usai GMT terjadi. Pulang dari Kendawangan, tidak sedikit pengunjung singgah di Pantai Sisik Kendawangan, maupun Pagar Mentimun.

Demikian juga melihat secara langsung kondisi Pelabuhan Kendawangan serta menyaksikan laju perkembangan pembangunan pusat industri di Kecamatan Kendawangan.

Usai menyaksikan GMT di kompleks Pelabuhan Kendawangan, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ketapang, Yulianus menegaskan, walaupun kondisi alam yang menutup sebagian langit sehingga prosesi GMT tidak sepenuhnya bisa dilihat dengan mata telanjang, namun fenomena alam ini sangat membanggakan.

Sebab, peristiwa tersebut tergolong langka. Kejadian serupa terjadi di Indonesia pada tahun 1983 silam. Dari prediksi, kata Yulianus, kejadian serupa di Kendawangan akan terjadi kembali 350 tahun ke depan. “Fenomena alam ini tentu harus kita
manfaatkan secara maksimal untuk menggali potensi kepariwisataan,” katanya.

Selain dapat meningkatkan daya tarik wisata, diharapkan adanya fenomena alam ini bisa mengungkap maksud dan makna terjadinya gerhana matahari. Misalnya bagaimana jika dilihat dengan mata telanjang, sinar matahari pasca terjadi gerhana total bisa merusak mata.

 

Pontianak Mendung

Fenomena gerhana matahari di Pontianak pagi kemarin tidak terlihat sempurna. Mendung disertai awan hitam tebal menyelimuti bayangan matahari. Meski demikian, warga tetap antusias menikmati detik-detik berakhirnya gerhana parsial.

Beruntung, matahari yang sebelumnya tertutup awan itu tiba-tiba sinarnya langsung menyengat. Kejadian itu sekitar pukul 08.05 seusai salat kusuf. Melihat itu, sejumlah awak media dan fotografer langsung mencari posisi tepat, untuk membidik fenomena langka ini.

Begitu juga dengan masyarakat yang sebagian sudah keluar dari saf salat di Masjid Mujahidin juga turut antusias menyaksikannya dengan kacamata khusus.

Sejumlah pelajar bahkan menyiapkan kamera lobang jarum yang terbuat dari kardus. Semula, saat matahari tertutup awan gelap, para pelajar itu tampak lesu. Mereka hanya duduk dan membopong kardus buatannya. Namun, sesaat setelah matahari mulai muncul, satu persatu berkumpul membentuk lingkaran di tengahnya diletakkan sebuah kardus besar.

Antusias masyarakat untuk melihat gerhana juga terlihat saat warga melemparkan kacamata gerhana dari lantai dua tower Mujahidin. Melihat itu, warga berebut meraihnya, bahkan ada yang terjerembab.

Waktu yang singkat itu, juga tidak disia-siakan oleh pengamat dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional untuk mengabadikan momen langka itu. “Sebenarnya kita bisa menyaksikan gerhana dengan intensitas 93 persen jika kondisi alam bagus,” kata Iskandar Bakri, Operasional Perekayasa Muda Lapan, Rabu (9/3).

Jika kondisi cerah, kata Iskandar, maka gerhana bisa disaksikan sejak pukul 06.23 dengan puncak gerhana pukul 07.27 dan berakhir 08.40. Meski tidak terlihat sempurna, ia mengaku tidak kecewa. “Sudah kami prediksi. Kami tidak kecewa, ini kondisi alam,” sebut Iskandar.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak, Hilfira Hamid mengatakan, fenomena gerhana matahari dirasa momen yang sangat berharga. Mengingat, di tahun-tahun mendatang belum tentu bisa menyaksikan langsung.  Selain itu, fenomena ini bukan hanya sebagai destinasi wisata, namun juga wisata relegius, dengan menggelar salat gerhana.

“Alhamdulillah, peristiwa langka ini mengajarkan banyak hal. Selain bernuansa relegius, juga wahana edukasi bagi para pelajar,” kata Hilfira.

Dikatakan pula, antusias masyarakat penuh dengan keingintahuan ingin menyaksikan langsung gerhana matahari. Selain memang peristiwa langka yang belum tentu beberapa tahun mendatang ada lagi. Disebutkan pula, jika pihaknya juga menyebar 200 kacamata kepada masyarakat. “Ada banyak hikmah di balik fenomena ini. Semoga Pontianak semakin lebih baik,” harapnya. (gus/dan)

Berita Terkait