Dua Kapal Vietnam Ditenggelamkan

Dua Kapal Vietnam Ditenggelamkan

  Rabu, 6 April 2016 09:00
PENENGGELAMAN KAPAL : Dua kapal illegal fishing asal Vietnam ditenggelamkan di perairan Pulau Datuk, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Selasa (5/4). Kedua kapal ikan asing ini sebelumnya ditangkap oleh Satgas Anti-illegal fishing Mabes Polri bersama Dit Polair Polda Kalbar. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK- Direktorat Polair Polda Kalbar menenggelamkan dua kapal illegal fishing asal Vietnam di perairan Pulau Datuk, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Selasa (5/4).  Kedua kapal ikan asing (KIA) ini sebelumnya ditangkap oleh Satgas Anti-illegal fishing Mabes Polri bersama Dit Polair Polda Kalbar di wilayah territorial di sekitar perairan Pulau Sempadi. 

Kedua Kapal Vietnam yang ditenggelamkan di perairan Pulau Datuk itu diantaranya, KM. Sinar-533/BV99253TS dan  KM Sinar-288/BV3240TS. 

Kasubdit Gakkum Direktorat Polair Polda Kalbar AKBP Yuri Nur Hidayat mengatakan, penenggelaman kapal ikan asing berbendera Vietnam ini setelah penyidik Polair Polda Kalbar mendapat surat izin pemusnahan barang bukti dari Kepala Pengadilan Negeri Pontianak No.03/Pen.Pid.Prkn/2016 PN Pontianak tanggal 16 Maret 2016. "Alhamdulillah hari ini kedua kapal Vietnam bisa kita musnahkan. Selanjutnya menunggu perkembangan penyidikan," ujar Yuri usai prosesi penenggelaman kapal, kemarin.

Dijelaskan Yuri, untuk penyidikan perkara illegal fishing ini, Dit Polair bersama Mabes Polri. "Penyidikannya gabungan, Dit Polair Polda Kalbar dan Mabes Polri. Saat ini berkas perkarana sudah masuk tahap satu," jelasnya.

Proses penenggelaman kapal tersebut, lanjut Yuri, pihaknya bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI dan Gegana Sat Brimob Polda Kalbar. Dimana kedua kapal ditenggelamkan dengan cara diledakan dengan dinamit berkekuatan rendah, sehingga bangkai kapal diharapkan bisa menjadi rumpon bagi ikan. "Memang penenggelaman kapal kali ini kami tidak menggunakan dinamit berkekuatan tinggi, sehingga tidak sampai menghancurkan body kapal yang justru menjadi sampah di laut. Bangkai Kapal ini diharapkan bisa menjadi rumpon atau rumah bagi ikan di sekitar perairan itu," jelasnya.     

Di waktu yang bersamaan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI juga menenggelamkan 21 barang bukti Kapal Ikan Asing (KIA) pelaku Ilegal Fishing yang dilakukan secara serentak di beberapa lokasi berbeda. 

Penenggelaman kapal dipimpin langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti selaku Komandan Satgas 115 di Pusat Pengendalian Ditjen PSDKP KKP, Gedung Mina Bahari IV Lantai 12.

Pemusnahan terhadap 23 KIA pelaku Ilegal Fishing, terdiri dari 13 Kapal Vietnam dan 10 Malaysia, dilakukan di tujuh lokasi berbeda. Titik lokasinya antara lain Batam, 5 kapal (4 Malaysia dan 1 Vietnam), Tarempa-Riau, 2 kapal (Vietnam), Idi/Langsa-Aceh, 3 kapal (Malaysia), Tarakan-Kalimantan Utara, 2 kapal (Malaysia), Belawan-Sumatera Utara, 1 kapal (Malaysia), Pontianak-Kalimantan Barat, 2 kapal (Vietnam) serta Ranai-Kepulauan Riau, 8 kapal (Vietnam).

Penenggelaman kapal pelaku illegal fishing ini mengacu pada Pasal 76A UU No. 45/2009 tentang Perubahan Atas UU No 31/2004 tentang Perikanan, yaitu benda dan/atau alat yang digunakan dalam dan/atau yang dihasilkan  dari  tindak  pidana  perikanan  dapat dirampas untuk negara atau dimusnahkan setelah mendapat persetujuan ketua pengadilan negeri, dan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht) sebagaimana diatur dalam KUHAP.

Direktur penanganan pelanggaran Direktorat Jenderal PSDKP Fuad Himawan mengatakan, penenggelaman ini penenggelaman kapal illegal fishing yang ke tiga kalinya di tahun 2016. Hal ini menambah jumlah kapal yang sudah ditenggelamkan sejak bulan oktober 2014 sampai dengan saat ini menjadi 176 kapal terdiri dari 30 malaysia, 43 filipina, 1 rrc, 21 thailand, 63 vietnam, 2 papua new guinea, 14 indonesia, 1 belize dan 1 kapal tak bernegara (stateless).  "Pemerintah tidak akan berhenti melakukan pemberantasan penangkapan ikan secara Ilegal untuk menegakkan kedaulatan Indonesia di laut serta mewujudkan laut sebagai masa depan bangsa," katanya.

Terpisah, Assisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat Willy Ade Chaidir dalam Press Gethring di Aula Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat mengatakan, kasus illegal fishing saat ini menjadi sorotan dan menarik perhatian. Menginggat belum lama ini ada peristiwa ditabraknya Kapal Pengawas Hiu 011 milik Kementerian Kelautan dan Perikanan oleh kapal penjaga pantai Tiongkok saat melakukan penangkapan terhadap kapal  ikan Kway Fey 10078 berbendera  Tiongkok. "Kasus illegal fishing ini menjadi sorotan, terlebih paska insiden ditabrakanya kapal pengawas KKP oleh kapal penjaga pantai China," kata Willy, kemarin.

Menurutnya, setidaknya ada empat kementerian yang mengawasi kasus tersebut, Kementerian Hukum Politik dan Keamanan, Kementerian KKP, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Hukum dan HAM.

Saat ini, lanjut Willy, pihaknya sedang menunggu proses pelimpahan berkas perkara ke delapan kapal  ikan Kway Fey 10078 berbendera  Tiongkok yang saat ini diamankan di PSDKP Pontianak. "Kami sedang menunggu pelimpahan berkas kedelapan ABK kapal ikan Kway Fey 10078. Mereka saat ini berada di PSDKP Pontianak," terangnya. (arf)

Berita Terkait