Dua Jam Terapung

Dua Jam Terapung

  Jumat, 22 April 2016 09:00
PENCARIAN: Petugas penyelamat sedang mencari keterangan dari seorang nelayan dalam pencarian korban tenggelamnya kapal tugboat, Rabu (20/4). ISTIMEWA yang dikabarkan hilang. PENCARIAN: Petugas penyelamat sedang mencari keterangan dari seorang nelayan dalam pencarian korban tenggelamnya kapal tugboat, Rabu (20/4).ISTIMEWA yang dikabarkan hilang. PENCARIAN: Petugas penyelamat sedang mencari keterangan dari seorang nelayan dalam pencarian korban tenggelamnya kapal tugboat, Rabu (20/4). ISTIMEWA

Berita Terkait

Kisah ABK Tugboat yang Selamat

PONTIANAK - Dua jam setengah, dua Anak Buah Kapal  TB. Karya Makmur Abadi II bertahan di lautan. Menahan lapar, ketakutan ditelan gulungan ombak. Hanya satu yang menjadi motivasi di saat keprasahan hidup dan mati mereka: keluarga.

Wajah Jimmy, salah satu korban selamat, masih tampak tegang. Bibir hitamnya terkatup rapat saat duduk di kursi Posko Penanganan Kecelakaan Kapal TB Karya Makmur Abadi II di KSOP Pontianak. Begitu juga dengan Edo Saputra. Keempat pasang mata itu melirik ke kiri dan kanan. Tampak kecemasan menghantui pikiran mereka. 

“Tenang saja, kami tidak menginterograsi, hanya ingin mengorek informasi kronologi sebelum kapal tenggelam. Biar kami bisa menentukan titik koordinat. Biar teman-teman yang masih hilang bisa ditemukan,” kata Herman, perwakilan SAR Pontianak meyakinkan kedua ABK yang nyawanya lolos dari maut ganasnya cuaca lautan itu. 

Mengenakan kemeja loreng, lelaki berambut cepak itu mulai membuka obrolan. Setiap kata yang keluar, tak lebih dari dua kalimat. “Sebelum kapal karam, kami masih terima telepon,” kata Jimmy, bercerita. Sementara Edo masih mengatup rapat informasi.

Sebelum peristiwa mencekam terjadi, semua awak kapal tugboat masih bercengkrama, dan menempati posisi sesuai tugasnya. Jimmy dan Edo, berperan sebagai juru mudi. 

Semula, semua awak kapal tak pernah menduga bakal menghadapi cuaca buruk. Padahal, lima jam sejak bertolak dari Pontianak, kondisi alam normal, tidak menandakan mendung pertanda hujan. Selepas muara jungkat, prakiraan cuaca juga masih sama.

“Kejadiannya cepat Bang. Tiba-tiba langit berubah gelap, angin kencang,” kata Jimmy menceritakan detik-detik tenggelamnya kapal, namun masih belum diamini Edo. 

Mendadak hujan turun begitu deras. Kecepatan angin datang dengan cepat. Cuaca cerah berubah gelap. Suasana tenang menjadi mencekam. Semuanya awak masih bertahan di posisi masing-masing. 

Perairan tenang berubah bergejolak seiring dengan hembusan angin kencang hingga membentuk gulungan ombak yang siap menerkam seisi kapal bertonasi 66 GT itu.

Kuatnya ombak seakan tak memberi kesempatan badan kapal kembali ke posisi aman. Dalam hitungan menit, kapal tunda itupun dipaksa menyerah, tergulung ombak.

Ganasnya ombak seakan tak memberi ruang kru kapal untuk meraih bahkan sempat mengenakan pelampung (life vest). “Kejadiannya cepat Bang, padahal pelampung ada di kapal, tapi kami ndak sempat ambil,” ujar Jimmy mengenang peristiwa mencekam itu.

Jimmy dan Edo refleks meloncat ke laut. Mujur bagi Jimmy, sebab ada sebuah galon air yang terapung tak jauh dari rengkuhan tanggannya. Malang bagi Edo, dia harus terombang-ambing di lautan tanpa tumpuan.

Melihat hal itu, Jimmy meringankan mengayuh kaki, mendekati rekan se juru mudi. Dekapan tangan warga asal Kapuas Hulu ini semakin erat pada galon, saat tangan Edo meraih pundak Jimmy. 

Dua nyawa manusia bertumpu pada kekuatan angin dalam galon bervolume 19 liter itu. Jimmy bergandengan dengan Edo, terapung mengarungi lautan dengan bantuan arah angin.

Keempat ABK lain tak seberuntung Edo dan Jimmy. Mereka hanya bisa meraih tali yang terurai dari sisa karamnya kapal. Nahas lagi bagi Arrohman Nurkhalid, dia sepertinya tenggelam bersama kapal.

“Tiga orang masih kelihatan pegang tali setelah kapal tenggelam, tapi Khalid ndak nampak lagi, kemungkinan ikut tenggelam bersama kapal,” kata Jimmy mengenang nasib tragis keempat rekannya yang tenggelam.

Dua jam lebih, kedua ABK yang terapung bertumpu pada galon itu untuk bertahan, menunggu pertolongan datang. Perasaan mereka campur aduk. Bukan hanya takut dan cemas, tapi bahkan kelaparan. “Kami kelaparan Bang, belum makan. Air laut kami minum, asin,” kata Jimmy, baru Edo menimpali. 

Berjam-jam terapung di lautan bukan hal mudah melewatinya. Meski sudah tiga hari berlalu, raut wajah kedua ABK ini masih trauma. Saat kejadian Jimmy kerap meneriaki Edo agar jangan melepaskan pegangan di punggungnya. Selama dua jam itu, keduanya teriak meminta pertolongan secara bergantian. Hingga akhirnya sebuah kapal nelayan samar-samar mendekat perlahan.

“Sama sekali ndak nyangka, keberadaan kami bisa diketahui nelayan. Kami sangat bersyukur nyawa kami selamat,” ujar Jimmy beryukur juga sedih, sebab keempat rekannya masih belum diketahui keberadaannya. 

Edo Saputra baru berani bicara saat ditanya. Warga asli Darit, Kecamatan Menyuke, Landak itu mengaku masih trauma berat. Getir-getir peristiwa mencekam, masih dirasakan. Dia sama sekali tidak menyangka, pelayaran keduanya ini mengalami musibah.

Edo baru dua bulan bekerja di pelayaran. Selama itu, baru dua kali mengalun bersama gelombang. Namun nahas baginya, alih-alih mencukupi mencukupi kebutuhan di usia mudanya, dia mendapatkan musibah. 

“Saya hanya bisa berdoa waktu ngambang di laut. Selalu terpikir orangtua dan keluarga, ini motivasi saya bertahan,” kata Edo lirih. “Saya juga gitu Bang, kepikiran istri dan keluarga di kampung,” ujar Jimmy menimpali. Hingga saat ini, Edo masih belum mau memberi kabar keadaannya pada keluarga. 

Kedatangan kedua ABK ke Posko Penanganan Kecelakaan TB. Karya Makmur Abadi II di KSOP Pontianak menjadi angin segar bagi tim rescue. Setelah tiga hari tanpa kabar, keduanya datang untuk memberikan titik koordinat lokasi karamnya kapal. Dengan demikian, bisa memudahkan area pencarian.

“Mereka masih sempat menerima telepon sebelum tenggelam, artinya itu tidak terlalu jauh dari buih satu (buih yang terluar pada sungai kapuas). Informasi ini akan kita cocokkan dengan pencarian,” kata Kepala Seksi keselamatan Berlayar, Penjagaan Dan Patroli KSOP Pontianak, Miftakhul Hadi.

Setelah menentukan titik koordinat, tim rescui gabungan juga akan menggabungkan dengan data arah angin dari BMKG. “Arah kapal kita sudah tahu, tinggal arah angin. Karena keberadaanya tetap bergeser,” ujarnya.

Diakui Hadi, kondisi cuaca di perairan luar Kapuas kerap berubah ekstrem. Bahkan, dirinya memastikan sering menerima laporan dari nakhoda. 

“Semula cerah, tiba-tiba hujan derah, gelap, angin kencang. Padahal sebelumnya diberitakan BMKG cuaca bagus. Makanya kepala BMKG berinisiatif minta izin memasang alat untuk mengetahui apa sih yang terjadi,” ungkapnya.

Mengantisipasi musibah terulang, pihaknya akan memberikan edaran terhadap kapal kecil yang keluar dari alur kapuas, diimbau mempersiapkan safety. “Ini agar saat cuaca berubah, semua kru sudah dalam keadaan terpasang alat keselamatan,” katanya.

Hingga hari ketiga pencarian, masih belum ada tanda-tanda keberadaan keempat korban kapal karam. Sejumlah titik koordinat sudah disisir oleh kapal rescue, namun masih juga belum ditemukan titik terang. 

“Tim SAR gabungan dibantu oleh nelayan pada hari ke-3 sudah melakukan pencarian di empat titik kordinat. Namun hingga saat ini keberadaanya masih belum juga diketahui,” kata Humas Sar Pontianak, Untung Supriadi. (gus)

Berita Terkait