Dua Bersaudara Tewas Terseret Arus Sungai

Dua Bersaudara Tewas Terseret Arus Sungai

  Minggu, 14 February 2016 09:10
HARI KURNIATHAMA/PONTIANAK POST DUKA : Dua kakak beradik saat disemayamkan di rumah duka. Seorang warga menunjukkan lokasi kejadian sebelum korban ditemukan meninggal terseret arus

SAMBAS—Diduga terseret arus sungai yang meluap sungai, dua bersaudara di Desa Semperiuk B Kecamatan Jawai Selatan akhirnya meregang nyawa. Kedua korban tersebut Safitri Binti Suriadi dan Gilang Saputra bin Suriadi Jumat (12/2) sekitar pukul 17.00 wib di sekitar aliran anak sungai Dusun Sejalan Desa Semperiuk B.

Safitri seorang siswi kelahiran 14 Oktober 2007 dan adiknya Gilang Saputra kelahiran tanggal 8 Mei tahun 2009. Adapun kronologis kejadian sekitar pukul 15.30 wib korban berdua mandi di jamban depan rumah sekitar pukul 16.00 wib, salah satu saksi Arif yang berusia 3 tahun melihat kedua korban turun ke sungai dan hanyut terbawa arus. Selanjutnya dilaporkan kepada

Pamannya Zaidan dan kemudian Zaidan dengan tetangga langsung melakukan pencarian. Sekitar pukul 16.40 wib kedua korban ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Salah satu tetangga orangtua korban, Muzanni, menceritakan kronologis kejadian dimana, saat itu menjelang sore dan masuk waktu sholat Ashar. Kedua korban dan teman-teman sebayanya bermain di sungai dekat jamban. Kebetulan arus sungai waktu itu pasang surut. Lalu ditegurlah oleh salah satu warga agar tidak bermain di sungai nanti dikhawatirkan hal tak diinginkan, sementara ayah korban saat ini itu masih bekerja di ladang. Kedua korban sempat naik ke darat, sholat asar tiba, anak-anak ini pun kembali ke sungai. “Setengah jam setelah sholat asar usai, ada salah satu teman sepermainannya datang dan memberitahukan soal kedua kakak beradik ini, barulah heboh,” kata Muzanni.

Dengan logat Sambas anak itu menyampaikan informasi bahwa kedua korban meninggalkannya di sungai. Setelah menyimak omongan anak belia itu warga pun heboh. Sejumlah warga langsung ke lokasi tempat kedua korban mandi. Setelah dicek ternyata kedua kakak beradik ini tidak ada. Setelah itu secara gotong royong seluruh warga sekitar bersama orangtuanya mencari korban, setelah lebih dari satu jam pencarian akhirnya warga menemukan keduanya dalam kondisi tak bernyawa di sepanjang sungai tersebut menuju muara ke sungai Sambas besar. Tentunya, kata dia, orang tua dan masyarakat sekitar berduka atas kejadian ini. Apalagi kejadian tenggelamnya anak di sungai tersebut bukanlah pertama kalinya. “Memang sungai itu dalam, saya saja kalau berdiri di sungai itu tenggelam, kurang lebih lebar sungai sekitar 8 meter,” katanya.

Selain itu, kata dia, kejadian yang dialami Suriadi ini bukanlah pertama kalinya, anaknya dulu juga pernah terseret arus, saat itu usia anaknya hampir sama dengan salah satu anaknya yang kini juga meninggal akibat terseret arus sungai.

Sementara itu, Kapolsek Jawai Selatan IPTU Dwiyono membenarkan kejadian meninggalnya dua bersaudara ini diduga terseret arus sungai. “Kedua jenazah sudah dimakamkan tadi pagi Sabtu (13/2) sekitar pukul 10.00 wib,” ungkapnya. Ia juga menegaskan wafatnya kedua anak ini bukan dikarenakan banjir karena di desa tersebut tidak mengalami banjir. Usai kabar keduanya hilang. Masyarakat dan polisi mencari kedua korban. dan sekitar 16.40 hari itu ditemukan. “Korban Safitri ditemukan sekitar 500 meter jaraknya dari lokasi hilangnya korban, sedangkan adiknya sekitar 1 Km hampir mendekati hulu sungai Sambas besar,” ungkapnya.

Menurut informasi yang diterima kepolisian, bahwa di sungai tersebut sejak tahun 2010 setidaknya sudah ada lima anak meninggal karena diduga tenggelam. Bahkan orangtua korban kedua kaka beradik ini pun pernah kehilangan anaknya sekitar 10 tahun lalu atas nama Riyan yang dulu umurnya kurang lebih dengan Gilang adiknya yang juga tewas terseret arus. (har)