Dua Atlet Kaltim Gagal Mendarat

Dua Atlet Kaltim Gagal Mendarat

  Sabtu, 17 September 2016 09:37
SUMEDANG – Dua atlet kontingen Kalimantan Timur yakni Lis Andriana dan Taufik, gagal landing saat bertanding di cabang olahraga Paralayang PON XIX di Kampung Toga, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, kemarin (16/9). Kedua atlet tersebut diduga mengalami gangguan cuaca sehingga tidak mampu mendarat secara mulus.

Berita Terkait

SUMEDANG – Dua atlet kontingen Kalimantan Timur yakni Lis Andriana dan Taufik, gagal landing saat bertanding di cabang olahraga Paralayang PON XIX di Kampung Toga, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, kemarin (16/9). Kedua atlet tersebut diduga mengalami gangguan cuaca sehingga tidak mampu mendarat secara mulus.

 
Salah seorang anggota Rescue Badan SAR Nasional (Basarnas) Denny Manurung mengatakan, kejadian gagal landing tersebut terjadi tidak lama setelah sebelumnya Lis Andriana dengan nomor peserta 47 gagal mendarat. Lis mengalami mengalami luka memar di bagian panggul sebelah kanan karena terseleo.

”Kejadian sekitar pukul 10.29, Lis mendarat namun posisinya tidak tepat atau mungkin dia tidak pas ngatur posisi landing-nya, akhirnya kaki kanannya cedera,” papar Denny, kemarin (16/9).  

”Lis langsung dievakuasi ke ruang medis dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat,” tambahnya.

Selain Lis, atlet Paralayang lainnya pun gagal landing terjadi pada kontingen sedaerahnya yaitu Kalimantan Timur atas nama Taufik, 42. Atlet pria dengan nomor peserta 45 itu juga tak mulus saat mendarat.

Berbeda dengan Lis yang terluka di bagian kaki, Taufik justru mendarat dengan tubuh bagian atas terlebih dahulu menyentuh tanah. Dampakanya, Taufik menglami lecet-lecet di tangan sebelah kiri. ”Taufik mengalami crash landing diawali tubuh dulu yang terjatuh. Taufik luka-luka di daerah tangan tapi tidak berat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Basarnas Bandung, Slamet Riyadi menjelaskan, belum bisa memastikan faktor penyebab para atlet crash landing di permukaan tanah. Kendati, kemungkinan tiupan angin yang tiba-tiba berubah juga ikut berpengaruh.

”Kemungkinan pada saat itu angin cukup kencang, dan pengereman pun kurang maksimal, akibatnya terjadi crash. Korban sudah ditangani oleh tim medis venue,” urainya.

Slamet mengatakan, untuk mengantisipasi kemungkinan bencana, Basarnas dan rescue yang lainnya, akan terus standby di venue yang dianggap rawan. ”Bukan hanya personel, bahkan helikopter Dolpin HR 3601 milik Basarnas pun standby di venue Pangandaran,”  pungkasnya. (yul/rie)

Berita Terkait