Dr Endy Pencipta Femicam, Permudah Deteksi Dini Kanker Serviks hingga ke Pelosok

Dr Endy Pencipta Femicam, Permudah Deteksi Dini Kanker Serviks hingga ke Pelosok

  Minggu, 28 February 2016 09:12

Berita Terkait

Teknologi feminine camera (femicam) diciptakan demi memudahkan tenaga medis dalam pemeriksaan kanker serviks sejak dini. Alat ini terbilang murah dan mudah dibawa, sehingga bisa digunakan hingga ke daerah terpencil.   

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak   

SEBAGAI ahli kandungan yang juga pensiunan guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Endy M Moegni SpOG, sudah sangat lekat berhubungan dengan kanker serviks. “Bahkan saat pengukuhan menjadi guru besar pada 2007, saya mempresentasikan tentang kanker ini,” katanya saat ditemui sebelum menjadi pembicara seminar di LKIA, Sabtu (27/2).

Dari banyak pengalaman tentang kanker tersebut, dia menyadari jika seseorang ketika sudah mengidap kanker, maka penyembuhannya tidak akan bisa total. Sebab itu, menurut dia, seharusnya penyakit ini bisa diketahui atau diteksi dini. Namun masalah utama yang lumrah terjadi, diakui dia, adalah ketiadaan alat. Terutama, yang dimaksudkan dia, peralatan sederhana dan mudah digunakan di mana saja.

“Alatnya sebenarnya sudah ada yang disebut colposcopy, itu alat buatan luar negeri hanya untuk rujukan,” terangnya. Jadi, lanjut dia, misalnya ada orang melakukan pap smear atau pemeriksaan leher rahim yang tidak normal untuk mendeteksi kanker rahim dari alat tersebut, bisa dilihat untuk kemudian dikonsultasikan. Namun, dia mengungkapkan jika alat tersebut ternyata cukup mahal, di mana harganya berkisar antara Rp200 juta – Rp400 juta. Tenaga medis, diakui dia, masih merasa kesulitan karena belum bisa optimal jika hanya mengandalkan alat tersebut. Terlebih, dia menambahkan, tidak semua rumah sakit juga memilikinya. “Jika hanya untuk pemeriksaan awal tentu susah, pasien yang terakomodir juga yang ada di kota saja,” ucapnya.

Selain metode pap smear yang dianggap kurang cocok dilakukan di Indonesia, sebab harus ada laboratorium khusus, ahli khusus dan hanya terdapat di kota besar, pemerintah, menurut dia, juga mulai mencanangkan pemeriksaan dengan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Yaitu, dijelaskan dia, cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin. IVA, digambarkan dia, merupakan pemeriksaan leher rahim dengan cara melihat langsung dengan mata telanjang leher rahim, setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3 – 5 persen. “Ditunggu 1 menit, jika ada gejala prakanker tentu ada perubahan, jika tidak berubah artinya normal,” terangnya.

Metode ini sangat sederhana, tetapi Endy masih merasa tetap ada kekurangan atau belum lengkap. Karena jika hanya melihat langsung, tenaga medis yang tidak semuanya spesialis obstetri ginekologi (obgyn), diakui dia, bisa saja ragu-ragu. “Karena ragu jadinya mereka memberi rujukan lagi untuk pengobatan prakanker. Rujukan bisa menumpuk, padahal belum pasti pasien mengalami gejala kanker atau tidak,” ungkapnya.

Untuk melengkapi kekurangan tadi, terfikirlah Endy menciptakan alat yang lebih sederhana, lebih murah, namun berkualitas sajak 2012. Kemudian setelah mengalami berbagai percobaan dan perubahan, akhirnya pada 2015 lalu femicam selesai dibuatnya. Dengan alat yang dibanderol harga sekitar Rp15 jutaan ini, dipastikan dia, jika nantinya tenaga medis hanya tinggal mengirim hasilnya ke dokter spesialis obstetri ginekologi (obgyn). Alat ini juga, diharapkan dia, bisa menjangkau seluruh tempat hingga ke pelosok-pelosok. “Dengan alat ini tenaga kesehatan juga akan belajar lebih banyak sehingga menjadi berpengalaman dan ahli,” ucapnya.

Dijelaskananya, femicam merupakan sebuah kamera pintar yang didesain untuk mendokumentasikan atau memvisualisasikan dalam bentuk gambar hasil pemeriksaan kanker serviks. Gambar yang dihasilkan, menurut dia, dapat dijadikan media penjelasan untuk pasien, dan juga sebagi alat konsultasi kepada spesialis tentang berbagai kelainan yang ditemukan pada saat pemeriksaan fisik genetalia eksternal dan inspekulo. “Ini untuk melengkapi IVA tersebut,” katanya.

Dari sisi tenaga medis, gambar-gambar ini, menurut dia, dapat menjadi alat pembelajaran yang sangat berharga di kemudian hari. Bahkan, dia menambahkan, merupakan objek yang dapat diteliti dan bermanfaat di kemudian hari. Jika kanker bisa diditeksi sejak awal, diharapkan dia, akan lebih baik. Sementara, dia mengungkapkan, prakanker diketahui berlangsung 5 – 10 tahun. “Dengan ini bisa lebih cepat diketahui, jika prakanker, pengobatannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik,” paparnya.

Dia berharap dengan alat ini bisa membantu pemerintah dan masyarakat pada umumnya, dalam rangka mengurangi penderita kanker serviks. Mengingat kasus kanker serviks ini merupakan penyebab kematian wanita terbesar pertama di Indonesia. (*)

Berita Terkait