Dosen, Dokter, Polisi, sampai Pengusaha pun Ikut Kemah Dongeng

Dosen, Dokter, Polisi, sampai Pengusaha pun Ikut Kemah Dongeng

  Senin, 27 June 2016 09:30
Mochammad Awam Prakoso di Kampung Dongeng, Ciputat, Tangerang Selatan (23/6). Foto: Hilmi Setiawan/Jawa Pos

Berita Terkait

​Lewat kaderisasi rutin, Kak Awam telah menelurkan ratusan pendongeng yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Kerap mendongeng untuk anak-anak di lokasi bencana.  

M. HILMI SETIAWAN, Tangerang Selatan

LEWAT beragam sumber, Mochammad Awam Prakoso mendata satu per satu TK, SD, dan taman pendidikan Alquran di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan. Tak lupa, alamat lengkap mereka dicatat. 

Sebab, Awam bermaksud mengirimi semua tempat anak-anak menuntut ilmu itu surat. Isinya seragam: permohonan agar diberi kesempatan mendongeng. 

”Saya tak peduli diberi honor atau tidak saat itu. Yang penting, kemampuan mendongeng bisa terasah,” kata pria yang biasa disapa Kak Awam tersebut. 

Ketika itu, 1999, Awam baru saja kehilangan pekerjaan. Dia menjadi korban rasionalisasi di bank tempatnya bekerja sejak lulus kuliah pada 1996 akibat krisis moneter.     

Otomatis, dia harus mencari sumber penghasilan lain. Sampai kemudian tebersit ide dari pengidola Kak Seto (Seto Mulyadi) dan Neno Warisman itu untuk menekuni kegiatan mendongeng. 

”Saat kuliah saya juga sudah mendongeng. Tetapi  untuk keponakan-keponakan,” kata pria kelahiran Blora, 18 Mei 1973, itu.

Berawal dari kesempatan yang diberikan sebagian sekolah yang dia kirimi surat tersebut, karir ayah tiga anak itu mulai merambat naik. Saat memasuki pertengahan 2000-an, dia pun memetik hasil perjuangan keras tersebut. Panggilan untuk mendongeng sangat padat. 

Yang paling banyak menjadi materi dongengnya adalah kisah-kisah islami yang dipetik dari Alquran dan hadis. Juga kisah-kisah dongeng populer di Nusantara seperti Malin Kundang dan Si Kancil, tapi di sana-sini dipermak. Misalnya dibumbui kisah bencana alam. 

Awam juga menguasai 150 karakter suara. Mulai hewan, tokoh kartun, hingga berbagai suara aneh lain yang sangat diperlukan untuk mendukung kisah yang didongengkan. 

Seiring karir mendongeng yang mulai meroket itu, bersama sang istri, Yuliana, Awam mendirikan Kampung Dongeng. Di awal pendirian pada 2009; ayah Naufal Firjatullah Prakoso, 17; M. Miqdad Prakoso, 13; dan Hilmiy Tsakif, 8; itu harus membagi rumah kontrakan untuk tempat tinggal dan markas Kampung Dongeng. 

”Lokasinya tidak jauh, sekitar 100 meter dari tempat saat ini,” jelasnya di saung Kampung Dongeng, Ciputat, Rabu lalu (23/6). 

Karena saking sempitnya, dia harus membuka lapak mendongeng di jalan ketika itu. Jadilah setiap ada motor yang lewat, dongeng harus distop dulu. Anak-anak diminta minggir, memberikan jalan kepada pengendara motor yang lewat.

Tapi, seiring berjalannya waktu, Awam terus membenahi Kampung Dongeng. Yang terbaru, yang belum selesai dibangun ketika Jawa Pos ke sana, adalah taman baca bantuan salah satu bank pelat merah Indonesia. 

Kampung Dongeng itu kini menempel persis di samping kediaman keluarga. Bangunannya terdiri atas pelataran yang luas dan dilengkapi panggung di salah satu sisi. Di atas panggung ada kamar panggung untuk menginap para relawan pendongeng.

Selain membangun Kampung Dongeng, Awam memang tak lupa untuk melakukan kaderisasi. Tiga bulan sekali dia menggelar Kemah Dongeng yang berdurasi tiga hari. 

Rata-rata pesertanya 50 orang. Sekitar 30 persen dari total peserta itu umumnya lantas ikut bagian Kampung Dongeng dengan membuka cabang di daerah masing-masing. Untuk sisanya, ada yang menjadi pendongeng profesional mandiri. Tapi, ada pula yang sama sekali tidak menjadi pendongeng. Mereka umumnya berasal dari kelompok profesional. Antara lain guru, dosen, dokter, polisi, sampai pengusaha.

Bagi kelompok profesional itu, kemampuan mendongeng sengaja dicari untuk menunjang profesi. Polisi, misalnya, menggunakan kemampuan itu untuk menghadapi kasus yang melibatkan anak-anak. 

Berkat kaderisasi yang rutin dijalankan itu, saat ini ada 260-an pendongeng profesional didikan Kak Awam. Mereka tersebar di 57 ”cabang” Kampung Dongeng. Mulai Semarang, Tegal, dan Blora di Jawa Tengah; Bojonegoro di Jawa Timur; Palembang di Sumatera Selatan; Kalimantan Timur; Kalimantan Selatan; bahkan Papua dan Papua Barat. 

”Markasnya berbeda-beda. Ada yang menggunakan balai pertemuan warga, kantor kepala desa, perpustakaan umum, dan rumah kediaman pribadi,” terang dia.

Meskipun memiliki banyak ”franchise”, Kak Awam menegaskan tidak memungut biaya atau setoran. Sebaliknya, dia malah kerap berbagi rezeki dengan mengajak cabang Kampung Dongeng untuk mengerjakan proyek CSR (corporate social responsibility) dari berbagai perusahaan. 

Dia mencontohkan, pihaknya pernah mendapatkan proyek CSR kegiatan mendongeng yang bernilai Rp 10 juta sampai Rp 15 juta. Ongkos itu sudah termasuk honor dan keperluan peserta kegiatan mendongeng. Proyek-proyek seperti itu kerap dibagikan oleh Kak Awam ke jaringannya di daerah.

Kak Awam mengatakan, kegiatan mendongengnya tidak melulu komersial. Bahkan lebih banyak untuk tujuan sosial dan edukasi bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Perpustakaan Nasional (Perpusnas). 

Misalnya, mendongeng di lokasi bencana alam untuk mendampingi anak-anak korban bencana. Selain itu, Kak Awam rajin mendongeng di rumah sakit tempat anak-anak dirawat.

Hampir semua bencana alam pernah dia sambangi. Mulai tsunami di Aceh, gempa di Padang, kisruh sosial Syiah di Madura, sampai bencana langganan banjir di Jakarta.

”Manfaat mendongeng bagi anak-anak itu banyak sekali. Paling utama adalah untuk media edukasi yang tidak membosankan,” katanya. Selain itu, jadi media untuk membangun karakter. Misalnya karakter selalu minta izin kepada orang tua, jujur, antre, disiplin, dan lainnya. 

Dia mencontohkan salah seorang anaknya yang sekarang bersekolah di Bogor yang selalu SMS untuk minta izin ketika akan bermain dengan teman-temannya. ”Padahal, tinggal berangkat nonton aja kan bisa. Tapi, dia selalu izin ke saya,” jelasnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengapresiasi apa yang dilakukan Awam dan para pendongeng lain. Bagi Anies, bercerita atau mendongeng adalah bentuk tertua dari kegiatan mengajar. 

”Bercerita dan mendengarkan cerita itu sesuatu yang kita sukai secara alami,” katanya.

Karena itu, Anies berharap aktivitas mendongeng atau bercerita bisa terus ditumbuhkan. Sebab, selama ini ada kecenderungan kemampuan akademis diutamakan secara tidak imbang. 

Padahal, banyak riset yang menyebutkan bahwa mendongeng begitu penting dan memiliki dampak besar bagi tumbuh kembang anak-anak. ”Mulai dari meningkatkan kemampuan mendengar, berbahasa, imajinasi, empati, dan kemampuan karakter positif lainnya,” katanya. (*/c11/ttg) 

Berita Terkait