Dorong Pontianak Jadi Kota Kopi

Dorong Pontianak Jadi Kota Kopi

  Rabu, 21 March 2018 11:00
RACIK KOPI : Dimas J Fajar saat meracik kopi dengan mesin espresso di Segitiga Coffee, Jalan Karya Baru, Selasa (20/3). SITI SULBIYAH / PONTIANAK POST

Berita Terkait

Barista Pontianak Ingin Ikut Sertifikasi

Sejumlah barista yang berdomisili di Kota Pontianak berkeinginan untuk mengikuti Sertifikasi Barista yang akan digelar oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di dua kota, Jakarta dan Bali. Hingga saat ini diketahui belum ada barista yang mengantongi sertifikat itu meski telah mengikuti berbagai kelas pelatihan barista dari berbagai lembaga. 

SEPENGETAHUAN Dimas J Fajar dari Pontianak Coffee Project, saat ini barista yang ada di Pontianak belum ada yang punya Sertifikat Barista. Meski demikian, dia menilai bukan berarti kompetensi barista yang ada di kota ini diragukan. Sebab beberapa barista yang dia kenal telah mengikuti pelatihan hingga kelas-kelas barista oleh lembaga yang memberikan pelatihan barista. Bahkan beberapa diantaranya dilatih oleh lembaga internasional. “Hanya mereka ini tidak diuji, mereka belum ikut ujian untuk mendapatkan sertifikasi secara nasional,” katanya, Selasa (20/3) kemarin.

Menurut info yang didapat, Sertifikasi Barista tersebut akan dilaksanakan di Jakarta pada April 2018 dan Bali pada Mei 2018. Barista yang ingin ikut sertifikasi ini dapat memilih satu diantara dua kota tersebut, dan tidak dipungut biaya alias gratis. 

Hal ini diakui oleh Dimas disambut baik oleh barista yang ada di Pontianak. Secara pribadi, dia tertarik untuk mengikuti sertifikasi ini. Begitupun dengan rekan-rekannya sesama barista. “Sudah saya sounding ke teman-temn barista dan sesama pengusaha coffee shop. Namun tentu kita lihat dulu jadwalnya,” tuturnya.

Pemilik usaha Segitiga Coffee ini, berpendapat Sertifikasi Barista yang dicanangkan oleh pemerintah, lantaran barista saat ini sudah dianggap sebagai profesi. Barista dijelaskan dia merupakan orang yang secara khusus bekerja untuk membuat dan menyajikan kopi yang berbasis espresso.

“Barista lebih khususnya adalah orang yang berada di balik mesin espresso. Karena itulah mesin ekspresso itu digunakan secara khusus untuk kebaristaan. Tidak semua orang bisa mengoperasikan mesin itu, maka dipandang perlu adanya sertifikasi,” jelasnya.

Menurutnya dengan mengantongi Sertifikat Barista, seorang barista akan diakui secara nasional bahkan internasional sebagai orang yang ahli dalam menyajikan kopi berbasis espresso. Pun dengan begitu masyarakat tidak meragukan kemampuan barista yang telah memiliki sertifikasi, sehingga berdampak positif bagi kemajuan usaha coffee shop.

Terpisah, Kabid Ekonomi Kreatif Kota Pontianak, Harry Ronaldi menilai Sertifikasi Barista penting dimiliki karena akan menjadikan seorang peracik kopi menjadi profesional. Artinya mereka mengetahui secara teori dan praktek bagaimana mengolah kopi secara baik dan tepat. 

Selain itu dengan bekal sertifikasi ini menurutnya kesempatan untuk berkarir sebagai barista profesional semakin terbuka. Apalagi diyakini Harry, usaha yang menggunakan jasa barista pasti akan mengalami peningkatan dari sisi kunjungan oleh para penikmat kopi. “Masyarakat dan wisatawan akan menikmati kopi yg berkualitas. Karena dari proses awal sampai akhir ditangani oleh barista profesional karena telah bersertifikasi,” ucapnya.

Dengan semakin menjamurnya usaha warung kopi disertai dengan kehadiran barista-barista handal yang bersertifikasi menurutnya akan mengokohkan Kota Pontianak sebagai kota kopi. Usaha ini pun menurutnya akan semakin berkembang. “Pontianak akan jauh dikenal lagi dengan kopinya,” katanya.

Adapun terkait dukungan, dia menyebut sejauh ini pemerintah Kota Pontianak mendukung penuh hal-hal yang dapat meningkatkan kompetensi barista serta kemajuan usaha kopi di kota ini. Dukungan tersebut dalah satunya diwujudkan melalui kegiatan festival kopi baik dalam maupun luar negeri.

“Dukungan yang diberikan yakni dengan mengadakan festival barista atau kopi sebagai upaya mempromosikan kopi Pontianak,  mengikuti festival di luar kota hingga luar negeri, memfasilitasi informasi bekraf mengenai sertifikasi barista, serta memfasilitasi perbankan atau perusahaan untuk mengadakan festival kopi,” sebutnya.

Dengan adanya dukungan tersebut, dia berharap akan lebih banyak barista atau pelaku ekonomi kreatif yang konsen terhadap usaha kopi atau coffee shop. Apalagi di era ekonomi Asean saat ini, kota ini berpeluang kedatangan barista atau pengusaha coffee shop dari negara lain.

“Apalagi di zaman masyarakat ekonomi Asean, tidak menutup kemungkinan barista dari negara Asean membuka cabang atau menjadi barista di Kota Pontianak,” pungkasnya. (sti)

Berita Terkait