Dorong Jiwa Kewirausahaan Sejak Masa Kuliah

Dorong Jiwa Kewirausahaan Sejak Masa Kuliah

  Senin, 24 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

ISU strategis seperti MEA sangat erat hubungannya dengan kewirausahaan yang masih belum berkembang di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat. Hal tersebut dapat direalisasikan melalui berbagai program pendidikan kewirausahaan yang dimasukkan ke dalam kurikulum perkuliahan.

Data terkini dari Global Entrepreneurship Monitor (GEM) menunjukkan Indonesia baru memunyai sekitar 1,65 persen pelaku wirausaha dari total jumlah penduduk 250 juta jiwa. Data itu juga menunjukkan bahwa jumlah yang dimiliki Indonesia tertinggal ketimbang tiga negara di kawasan Asia Tenggara yakni Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ketiganya mencatatkan angka 7 persen, 5 persen, dan 3 persen dari total jumlah penduduk masing-masing.

Kendati begitu, masih menurut GEM, hasrat rakyat Indonesia untuk menjadi pelaku wirausaha menduduki posisi kedua. Posisi ini cuma satu level di bawah Filipina. Sementara, negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang bahkan memiliki jumlah pengusaha lebih dari 10 persen dari jumlah populasi.

Berangkat dari data-data tersebut, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kalimantan Barat mendorong agar pendidikan kewirausahaan dapat ditularkan melalui kalangan perguruan tinggi. Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Hipmi Kalbar, Nedy Achmad mengatakan, mental wirausaha mesti ditingkatkan kepada mahasiswa saat di bangku kuliah. “(Program pendidikan kewirausahaan) penting terhadap upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” katanya kepada Pontianak Post beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, tantangan pertumbuhan ekonomi ke depan adalah pengangguran dan kemiskinan. Salah satu strategi yang harus terus ditingkatkan adalah menjadikan program kewirausahaan sebagai prioritas pilihan bagi kalangan mahasiswa. Sehingga, setelah mereka menyelesaikan pendidikannya, mereka akan memiliki bekal. Bekal untuk memasuki dunia usaha yang mungkin akan mereka pilih di kemudian hari.

Wirausaha, merupakan pilar bagi ekonomi suatu negara. Kehidupan berwirausaha merupakan sokoguru dari tegaknya ekonomi bangsa. Pembangunan kewirausahaan dalam era globalisasi berjalan seiring dengan perkembangan digital yang sangat dinamis.  “Dalam MEA yang selalu saja diperbincangkan ini, hal itu dapat menjadi tantangan dalam lingkungan bisnis yang semakin ketat dan tajam,” jelasnya.

Nedy menambahkan, perguruan tinggi sebagai salah satu tempat meramu generasi muda, memiliki peranan untuk melatih sekaligus memotivasi generasi muda agar menjadi generasi yang memiliki semangat serta daya juang tinggi, cerdas, kreatif, inovatif, dan berkepribadian tinggi.

Terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Tanjung Pura, Muhammad Fahmi menuturkan, hingga saat ini memang belum ada program dalam kurikulum perguran tinggi yang secara khusus menggodok mahasiswa untuk menjadi wirausaha. Akan tetapi, salah satu jalan yang dapat dipilih oleh mahasisawa yang tertarik pada dunia wirausaha ialah dengan bergabung pada komunitas wirausaha.

Komunitas atau inkubator bisnis dapat menjadi pilihan, bagi mereka yang ingin berkuliah sambil belajar berwirausaha. “Di Untan sudah ada inkubator bisnis, juga komunitas enterpreneur yang bisa menjadi jalan bagi calon wirausaha ini untuk belajar kepada mereka yang sudah terjun langsung di dunia usaha,” terangnya yang juga Ketua Business Development Service-provider (BDS) Kalimantan Barat ini, pekan lalu.

Setelah semua sarana sudah cukup tersedia, tinggal bagaimana mahasiswa yang tadinya belum tergerak untuk menjadi wirausaha dapat didorong melalui perkuliahan yang mereka ambil. Tentu saja, hal itu membutuhkan upaya lain untuk mengenalkan wirausaha kepada selain mahasiswa ekonomi yang dibimbingnya.

Fahmi mengatakan, tak hanya sekedar melipatgandakan jumlah pengusaha. Indonesia juga perlu menciptakan pengusaha baru yang berkualitas dan terdidik yakni dari kalangan mahasiswa. Pengusaha berlatarbelakang sarjana ini, akan memiliki kemampuan meningkatkan kapasitas usahanya serta akan kuat menghadapi persaingan yang semakin ketat di era masyarakat ekonomi Asean (MEA). “Mereka tetap akan muncul, tinggal bagaimana nantinya jiwa kewirausahaan itu dikembangkan,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait