Dorong Beli Listrik Malaysia

Dorong Beli Listrik Malaysia

  Jumat, 13 May 2016 09:30

Berita Terkait

Beban Subsidi Negara Lebih Hemat

PONTIANAK—Komisi IV DPRD Kalimantan Barat mendorong pemerintah dan PT PLN agar membeli listrik dari negeri jiran guna menerangi 14 kabupaten/kota tanpa pemadaman. Itu karena membeli listrik dari Sesco, Malaysia justru jauh lebih efisien dibandingkan produksi PT. PLN Kalbar. Hal tersebut terungkap dari rapat kerja antara Komisi IV, PT. PLN dan Dinas Pertambangan dan Energi Kalbar baru-baru ini.

“Kalau boleh jujur, komisi IV lebih setuju pemerintah membeli listrik dari Malaysia. Sebab hitung-hitungannya banyak efisiensi. Beban subsidi uang negara juga jauh lebih hemat,” ungkap Abul Ainen, juru bicara Komisi IV DPRD Kalbar kepada sejumlah wartawan.

Menurutnya, nilai beli listrik dari Sesco, Malaysia hanya Rp1.200 kwh sesudah dikurskan. Sementara nilai jual ke masyarakat Kalbar hanya sekitar Rp900 per kwh saja. Dana subsidi negara yang terpakai hanya sekitar Rp200 per kwh. Listrik Malaysia sendiri bahkan sudah memanfaatkan energi terbarukan yakni listrik tenaga air (PLTA)

Sementara, sambungnya, produksi listrik PT. PLN justru terbilang sangat mahal. Sebab sampai sekarang listrik tenaga diesel yang boros energi masih terpakai. Makanya tak heran harga untuk 1 kwh saja mencapai Rp2.800. Sementara dijual rata-rata ke masyarakat Kalbar harganya hanya memang Rp900 kwh. Hanya saja beban subsidi yang ditanggung oleh negara terlampau besar yakni Rp1.900 per 1 kwh. Itu artinya sudah terjadi selisih harga sekitar Rp1.700 dibanding listrik murah Sesco, Malaysia. 

”Namun memang yang jadi pertanyaan kami ialah, apakah pemerintah tahu berapa banyak kwh dijual PLN ke masyarakat. Harusnya PLN menjelaskan panjang lebar. Sebab begitu tahu angka, jelas keuangan negara akan lebih hemat. Selama ini kan banyak masyarakat tak paham,” tutur dia.

Abul melanjutkan program beli listrik Malaysia sebanyak 95 mega watt (mw) yang dilakukan PLN harus didukung penuh. Masalahnya dengan daya listrik tersebut mampu mengaliri setidaknya enam kabupaten/kota, mulai dari  Kota Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Sambas, dan Sanggau. Kabarnya daerah-daerah tersebut ke depan tak akan pernah lagi mengalami pemadaman secara bergilir, terkecuali gangguan teknis di Malaysia. 

Di Kalbar sendiri, katanya, beban puncak listrik justru terjadi pada malam hari. Bebannya bahkan mencapai 480 mega watt. Itu berarti masih ada sekitar 378 mw yang memakai produksi listrik PLN. Jelas saja sebanyak delapan kabupaten lain akan merasa dengki dan iri karena masih  akan mengalami pemadaman listrik secara bergilir.

Dengan situasi tersebut, lanjut dia, harusnya pemerintah Kalbar mendorong pemberlakuan khusus untuk listrik di Kalbar. Apalagi peluang untuk membeli listrik lebih banyak dari Sesco cukup terbuka lebar. Kalbar harusnya memanfaatkan dengan membeli listrik luar saja bagi kabupaten-kabupaten tersisa, agar tidak lagi terjadi cerita kantor PLN diserbu warga.

Jika semua listrik dibeli dari Malaysia, lantas apa pekerjaan PLN ? Menurutnya, tugas PLN yang utama adalah bagaimana memperbaiki sistem jaringan supaya terkoneksi se-Kalbar. Pasalnya selama ini masih banyak daerah-daerah pedalaman yang belum teraliri listrik sejak puluhan tahun silam. 

”PLN di sana saja fokus tugasnya. Urus masalah koneksi listrik se-Kalbar sehingga masyarakat seluruh Kalbar mampu menikmati listrik secara merata,” usulnya.

Keuntungan lain yang diperoleh membeli listrik murah asal Malaysia yakni terjadinya revisi tarif dasar listrik bagi warga Kalbar. Tentunya warga akan merasakan listrik murah karena beban subsidi tidak lagi berat. Harusnya momen demikian dimanfaatkan negara demi kemaslahatan umat. 

Politikus Gerindra Kalbar ini melanjutkan, berdasarkan keterangan PLN, Kalbar tengah merampungkan 12 proyek PLTU untuk daya listrik sebanyak 542 megawatt. Hanya saja, pembangkit itu belum sepenuhnya beroperasi. Keberadaan pembangkit-pembangkit tersebut memungkinkan Kalbar akan mengalami surplus listrik. 

Kelebihan daya listrik Kalbar itu justru nanti dapat dijual kembali ke Malaysia. Itu karena beban puncak Kalbar terjadi di malam hari dengan pemakai mayoritas rumah tangga. Sementara di Malaysia beban puncaknya ada di siang hari. “Pada siang hari banyak industri beroperasional. Malaysia juga masih kekurangan listrik meskipun menjual listrik untuk Kalbar pada malam hari,” tukasnya. 

Komisi IV DPRD Kalbar berjanji akan terus mendorong PLN membeli listrik asal Malaysia secara bijak dan terukur. Ia juga meminta jangan lagi ada cerita dan protes pembelian listrik dikaitan dengan kemandirian bangsa dan listrik sebagai rahasia negara. Masalahnya di negara- negara maju dan berkembang, soal jual beli listrik dari negara tetangga sudah menjadi hal biasa dan lumrah apabila menguntungkan keuangan negara. 

“Mau mengandalkan PLN juga tidak bisa. Lihat sejak puluhan tahun silam sampai sekarang, pemadaman listrik masih terus terjadi. Sudah jutaan kali warga Kalbar menyumpah PLN karena listrik sering byar pet, terlebih menjelang puasa mendatang,” ungkap dia. (den)

 

Berita Terkait