DKP Gelar Sosialisasi PTAL di Anjongan, Budidaya Ikan di Kalbar Terkendala Harga Pakan

DKP Gelar Sosialisasi PTAL di Anjongan, Budidaya Ikan di Kalbar Terkendala Harga Pakan

  Senin, 7 December 2015 09:51
SOSIALISASI : Kegiatan sosialisasi pematangan teknologi adaptif lokasi (PTAL) pakan mandiri DKP) Kalimantan Barat, dihadiri puluhan pembudidaya ikan.

Berita Terkait

Meningkatkan produktivitas budidaya ikan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Barat menggelar sosialisasi pematangan teknologi adaptif lokasi (PTAL) pakan mandiri, Sabtu (6/12) pagi di Aula Balai Budidaya Ikan Sentral (BBIS) Anjongan. Sosialisasi diikuti kurang lebih 60 pembudidaya.

POTENSI pengembangan perikanan di Kalbar masih sangat terbuka. Apalagi luasan lahan yang potensi  untuk budidaya ikan masih sangat luas. Saat ini, lahan yang sudah dikelola untuk budidaya ikan hanya seluas 11.963 ha atau 0, 3 persen dari total lahan 4. 593. 209 ha di Kalbar, ujar Kepala DKP Kalbar, Ir. Gatot Rudiyono, SH, MM.

Hanya saja, sambung Gatot, bukan lahan yang menjadi kendala pengembangan budidaya ikan di Kalbar. Melainkan tingginya harga pakan ikan pabrikan yang berdampak terhadap biaya produksi yang harus dikeluarkan pembudidaya meningkat. “Dengan kondisi itu, maka gairah para pembudidaya untuk mengembangkan usahanya menjadi lesu atau menurun. Mengingat, cos biaya produksi budidaya ikan yang tinggi tidak sebanding dengan daya beli masyarakat,” paparnya.

Lebih jauh, Gatot menyebut, beberapa faktor yang menyebabkan tingginya harga jual pakan ikan di Kalbar. Salah satunya dikarenakan belum adanya pabrik pakan ikan di wilayah Kalbar, sehingga pakan yang dijual didatangkan dari daerah lain seperti pulau Jawa.Faktor lainnya, bahan baku pakan ikan seperti tepung ikan, bungkil kedelai dan minyak ikan, rata-rata 60 persen bahan bakunya masih diimpor dari luar negeri. Inilah yang menyebabkan harga pakan ikan begitu mahal harganya di Kalbar,” bebernya.

Menghadapi permasalahan itu, lanjut Gatot, maka Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuat kebijakan terkait pengembangan budidaya perikanan agar mengarah pada kemandirian dan berkelanjutan melalui Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari). Tujuannya, dengan menekan angka pakan maka keuntungan yang diperoleh pembudidaya akan semakin besar hingga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para pembudidaya ikan itu sendiri.

“Gerpari sendiri lebih ditekan kan pada pakan ikan untuk komoditas air tawar seperti nila, lele, patin, mas jelawat, biawan, tengadak dan gurame. Sebab, komoditas ikan air tawar ini merupakan pendukung ketahanan pangan dan gizi masyarakat,” ujarnya. BBIS Anjongan, terang Gatot, telah berhasil melakukan pengembangan pakan ikan berbahan baku lokal. Usaha yang telah dilakukan sejak tahun 2011 silam itu, membuahkan hasil setelah mendapatkan pendampingan dari tim Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (BPPKP) Kalbar.

“Baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, pembuatan pakan ikan di BBIS Anjongan semakin maju dan berkembang. Pakan yang dihasilkan untuk pematangan induk, pembesaran calon induk dan pembesaran benih sebar,” tuturnya.Dari hasil uji laboratorium, timpal Gatot, pakan yang dihasilkan BBIS Anjongan memiliki kandungan protein rata-rata berkisar 30-36 persen untuk pematangan induk, 28-30 persen untuk pembesaran calon induk dan benih sebar.

“Hasil ujicoba pemberian pakan terhadap pematangan induk ikan mas, nila, lele, patin, tengadak, biawan dan jelawat diperoleh tingkat kematangan telur, fekunditas dan daya tetas telur diatas 90 persen. Laju pertumbuhan terhadap pembesaran ikan nila dan pembesaran ikan lele diperoleh rata-rata laju pertumbuhan selama masa pemeliharaan 60 hari sebesar 3, 3 persen,” urainya.Kedepan, Gatot berharap pengembangan pakan ikan berbahan baku lokal itu tidak hanya dilakukan BBIS Anjongan, melainkan dapat ditiru oleh kelompok-kelompok pembudidaya lainnya. Bahkan, Gatot mengaku pihaknya siap membantu para pembudidaya untuk mendapatkan pakan berbahan baku lokal tersebut.

“Nanti, pembudidaya menyediakan bahan bakunya dan BBIS mempersiapkan formulasinya. Dan bagi kelompok yang telah mendapatkan bantuan mesin pencetak, cukup membeli bahan baku tersebut di BBIS dengan harga yang terjangkau Rp 5000. Bahan baku tersebut telah disusun formulasinya dan siap dicetak menjadi pelet,” tukasnya.Dalam sosialisasi tersebut, Kepala DKP Kalbar, Ir. Gatot Rudiyono, SH, MM juga berkesempatan menyerahkan bantuan berupa bibit dan pakan ikan kepada para peserta. (wah/pk)
 

 

Berita Terkait