Ditinggal Anak Jadi TKI, Berteman Tumor 25 Tahun

Ditinggal Anak Jadi TKI, Berteman Tumor 25 Tahun

  Jumat, 25 March 2016 13:37
TUMOR: Kakek Menah terpaksa mengemis karena sebatangkara, ditinggal anak jadi TKI dan menderita tumor di bawah perut. AIRIN FITRIANSYAH/PONTIANAKPOST

Karena kondisi, Menah, 75 tahun mesti mengemis. Dia mengaku sudah tak bisa bekerja lagi. Tumor yang tumbuh di dekat alat vitalnya, kini semakin membesar. Supaya tak terlihat jelas, dia selalu mengenakan sarung kemana-mana. Termasuk saat mengemis.

Airin Fitriansyah, BENGKAYANG

SIANG, pukul 11.00 wib, cuaca sangat cerah di Jalan Jerendeng, Pasar Bengkayang terlihat seorang kakek tua bertubuh kurus, berpakaian kumal, mengenakan topi dan sarung lusuh, berjalan mengharapkan belas kasihan.

Kakek tua itu bernama Menah (75). Dia mengaku menderita penyakit tumor dan tinggal sendirian di dekat RS Abul Aziz, Kelurahan Pasiran, Kota Singkawang.

Dia terpaksa mengemis untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dikarenakan tidak ada pihak keluarga maupun kerabat yang ada di Kalbar ini. Sedangkan anak satu-satunya, sudah bertahun-tahun tidak pulang, karena bekerja menjadi TKI di Malaysia.

Menah menyampaikan keluarga besarnya tidak lagi peduli terhadap dirinya.  Semua sanak-saudaranya berada di Jawa Timur.  Hanya dirinya sendiri tinggal sebatangkara di temani tumor yang sudah 25 tahun dideritanya.

‘’Sebenarnya saya tidak mau jadi pengemis. Tapi mau bagaimana lagi? Bekerja tidak bisa. Kalau dipaksakan bekerja penyakit saya akan semakin parah," ucapnya, Kamis (24/3). Dia mengatakan, hasil mengemis tidak membuatnya kaya. Tapi mengemis hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Asalkan makan dan minum seadanya dan bisa bertahan hidup untuk besok.

Kakek tua tanpa sanak saudara ini menyampaikan menderita penyakit tumor sudah dialami dua puluh lima tahun. Nanun tidak ada satupun yang membantu pengobatannya.

Dia melanjutkan selama menderita penyakit tumor juga belum pernah mendapat bantuan dari Dinas Kesehatan Daerah maupun program Kementerian Kesehatan dari pemerintah pusat.

Sedang program Badan Penyelenggara Jminan Sosial (BPJS) Kesehatan tidak mampu dilaksanakannya. Ini karena program kesehatan tersebut tidak gratis dan masih membutuhkan biaya bulanannya.

"Saya mengemis tidak kuat untuk jauh-jauh. Hanya meminta belas kasihan orang yang berada di sekitar pasar saja. Ada yang memberi lima ratus rupiah, ada seribu rupiah, ada lima ribu bahkan pernah juga ada yang memberi lima puluh ribu rupiah. Tapi paling banyak seribu rupiah," paparnya.

Menah menjelaskan penghasilan mengemis hanya cukup makan seadanya. Terkadang hanya cukup untuk memenuhi makan sekali dalam satu hari. Apalagi, dia tidak mampu berjalan kaki dengan jarak jauh.

Menurut dia, kalau sudah berjalan kaki dengan jarak jauh. Penyakit yang di derita mulai kambuh dan menyaitkan. Akhirnya tidak bisa membuat kakek tua ini tidur nyenyak di malam hari. Bahkan tidak mampu untuk melanjutkan pekerjaan mengemis di Pasar Singkawang maupun di Pasar Bengkayang.

Ia menambahkan sudah seharian berada di Pasar Bengkayang. Berangkat dari Kota Singkawang pagi-pagi menggunakan angkutan bus penumpang. Rencananya hanya dua hari mengemis di Pasar Bengkayang. Setelah itu kakek tua akan melanjutkan perjalanan kembali pulang ke rumahnya di Kelurahan Pasiran, Kota Singkawang.

"Saya mengemis dua hari di Pasar Bengkayang. Sedangkan mengemis di Singkawang tiga hari. Sisanya ada dua hari untuk istirahat sebentar menghilangkan rasa sakit. Dan saya ucapkan terima kasih kepada orang-orang yang sudah membantu. Semoga amal kebaikan, serta rezekinya ditambah oleh Allah," tutupnya sembari meminta izin melanjutkan perjalanan. (*)