Ditemukan Produk Tak Layak Edar

Ditemukan Produk Tak Layak Edar

  Rabu, 22 June 2016 09:30

Berita Terkait

PONTIANAK - Menjelang Idulfitri, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kota Pontianak mulai menggelar inspeksi mendadak ke sejumlah pasar swalayan, Selasa (21/6). Meski bebas dari produk kedaluwarsa atau ilegal, petugus masih menemukan sejumlah produk yang kemasannya rusak.  

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Pontianak, Haryadi S Triwibowo menjelaskan, inspeksi ini bertujuan untuk melindungi konsumen dari barang-barang kedaluwarsa, tanpa izin edar BBPOM maupun MUI. Dalam waktu dekat pihaknya akan gencar melakukan sidak dan pengawasan sebagai antisipasi tren musiman beredarnya makanan bermasalah tersebut jelang lebaran.

Untuk hari pertama ada empat lokasi swalayan yang dituju. Salah satunya di swalayan Garuda Mitra, Jalan H Rais A Rahman, Pontianak Barat. Setelah dilakukan pemeriksaan ada beberapa produk makanan dan minuman khususnya kemasan kaleng, ditemukan rusak, penyok dan berkarat. 

“Produk yang kondisi kemasannya seperti ini sudah tidak layak dijual. Meski masa kedaluwarsa dan izinnya terdaftar,” ujar Haryadi. 

Dalam pemeriksaan tersebut, bisa diketahui legalitas produk impor  dengan mengecek kode barang di situs resmi Kementerian Perdagangan. Semua produk tersebut terdaftar dan memiliki izin resmi. Hanya kondisi fisik kemasannya saja yang rusak hingga isinya tak layak dikonsumsi. 

“Jika kalengnya penyok dan berkarat tentu akan memengaruhi produk dalam kemasan. Rusak, tidak steril, jadi tak layak konsumsi, bisa saja menimbulkan penyakit, karena itu tidak boleh dijual,” jelasnya.  

Padahal Haryadi mengatakan sejak beberapa bulan lalu pihaknya sudah rutin melakukan pembinaan untuk temuan yang seperti ini. Artinya pemilik usaha masih saja melanggar. “Kami akan beri peringatan keras, jangan sampai sudah ada korban baru dilakukan penindakan,” katanya.  

Untuk itu Disperindag akan membuat surat pernyataan bahwa barang tersebut sudah tidak layak dipajang atau dijual. Jika masih saja dilanggar atau bahkan sampai ada korban, bisa saja izin usahanya dicabut. “Intinya kami ingin melindungi konsumen,” ucapnya. 

Disperindag mengutamakan pembinaan terlebih dahulu. Caranya dengan memberikan surat peringatan (SP) mulai dari SP1 sampai SP3. Diharapkan para pengusaha tidak melakukan kesalahan yang sama hingga berulang kali.

“Padahal jika melanggar yang rugi adalah pemilik swalayan sendiri. Karena konsumen sudah cerdas, saat melihat kemasan tidak sesuai standar mereka enggan membeli,” imbuhnya.  

Menurut Haryadi, sidak ini akan terus berlanjut ke seluruh pasar swalayan atau supermarket yang ada di Pontianak. “Hari ini ada empat supermarket, besok kami ke wilayah Pontianak Timur, lusa di wilayah Pontianak Utara,” pungkasnya.

Salah satu warga yang ditemui saat berbelanja, Ida (60) mengaku sangat mendukung upaya yang dilakukan Disperindag dalam rangka melindungi konsumen. Dengan demikian masyarakat merasa lebih aman untuk membeli produk-produk yang beredar di pasaran. 

“Kalau bimbang sih tidak juga, tapi dengan ini tentu lebih baik, antisipasi jangan sampai ada produk berbahaya beredar,” ujarnya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Pontianak menguji sample makanan dan minuman berbuka puasa di delapan titik. Sebanyak 37 sampel dilakukan uji lab. Hasilnya, seluruh sample dinyatakan negative dari bahan yang membahayakan kesehatan.

“Dari 37 sampel makanan dan minuman yang diambil, semua negative. Baik dari formalin, boraks dan lainnya. Negative,” ujar Kabid Penyehatan Lingkungan dan Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Dadang Fitrajaya di ruang kerjanya, Selasa (22/6).

Berdasarkan hasil uji lab, Dadang menyimpulkan tingkat kesadaran masyarakat Kota Pontianak dalam mengolah makanan dan minuman semakin membaik. Hal itu, terlihat dari hasil lab yang menyatakan semua sample negative kandungan berbahaya. 

“Alhamdulillah kesadaran masyarakat di kota pontianak sudah semakin membaik. Semua lokasi yang kami ambil ada 37 sampel makanan dan minuman yang diambil negative, baik itu dari formalin, borak dan lainnya,” tegasnya.

Meski hasil negatif dalam uji sample. Dadang masih menemukan beberapa pedagang yang tidak menutup dagangannya dengan benar. Padahal, posisi tempat jualan berada dekat dari jalananan, yang tentu saja kata dia cemaran debu maupun kuman bisa saja mempengaruhi kualitas dagangan. 

“Masih ada pedagang yang tidak menutup dagangan. Ya mungkin kalau lalat karena vector bawa penyakit, debu pinggir jalan biasa membawa kuman,” katanya. 

Dia mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan bahan berbahaya ketika membuat jajanan. Dia kembali memastikan, pengawasan makanan minuman ini kedepan akan rutin dilakukan.

“Masyarakat sudah baik pengetahunnya tentang pengeloaan makanan. Kalau dicampur juga pasti membahayakan,” tukasnya. (bar/gus) 

Berita Terkait