Ditaksir Pria Beristri

Ditaksir Pria Beristri

  Sabtu, 16 January 2016 10:23

Berita Terkait

Setiap wanita lajang tentu mendambakan sosok pendamping hidup yang bisa memberikan kebahagian kepadanya. Beragam kriteria menjadi pilihan. Lantas bagaimana jika ternyata pria yang menawarkan cintanya seorang yang sudah beristri? Oleh : Marsita Riandini

Setiap orang berhak mencintai dan dicintai. Namun kadang kala rasa cinta itu menyasar pada orang yang tidak tepat. Beragam alasan kenapa hal itu bisa terjadi. Mulai dari kuantitas pertemuan yang tinggi, hingga seringnya mendengar curahan hati.

For Her berkesempatan mewawancarai Ai (nama samaran,red) yang pernah berpacaran dengan pria beristri. Menurut dia, pria beristri tahu betul bagaimana memanjakan wanita agar hubungan tetap  bertahan. Berbeda ketika pacaran dengan pria yang single yang hanya tahu bagaimana cara mencintai dan menjalaninya tanpa tahu bagaimana mempertahankan hubungan agar tetap harmonis. “Dalam segi pengertian misalnya. Ketika pacaran dengan pria single kadang harus bicara langsung ketika minta sesuatu, sementara dengan pria beristri itu akan mengerti dengan sendirinya tanpa harus diminta,” ujar dia.

Dari sisi psikologis, pacaran dengan lelaki lajang yang memiliki perbedaan usia tidak terlalu jauh, cenderung mengedapankan egoisme masing-masing. Pria yang telah menikah dianggap jauh lebih matang dalam memperlakukan pasangannya. Sikap-sikap dan tindakan pun dianggap sesuatu yang baru oleh wanita yang belum menikah, karena tidak ditemui pada pria yang masih lajang. “Wanita khan sulit ditebak. Kadang lelaki single tidak bisa membedakan apakah wanita itu benaran marah atau tidak dan langsung meninggalkannya dengan dalih mencari udara segar. Sementara pria beristri lebih berusaha membujuk atau merayu dengan kata-kata romantis, kadang diberi surprise berupa hadiah,” ungkapnya.

Namun, lanjut Ai, ada banyak resiko yang dihadapi. Terutama rasa sakit hati, sebab pria tersebut akan berbagi hati. “Dia akan berbagi hati, karena saya bukanlah satu-satunya perempuan yang dia cintai. Mau tidak mau harus melihatnya bersama istri sahnya secara bebas. Sedangkan kami melaluinya secara sembunyi-sembunyi,” ujarnya yang mengaku merasa bersalah menjalin hubungan terlarang karena sudah mengganggu keharmonisan rumah tangga orang lain.

 

 

Tak Ada Puber Kedua

Menanggapi hal ini,  Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalbar, Dr. Fitri Sukmawati, M. Psi, S. Psi, mengatakan bahwa ada beragam alasan kenapa banyak wanita memilih pria yang sudah beristri sebagai pendamping hidupnya. Salah satu alasannya, karena mereka menganggap pria yang sudah menikah jauh lebih mapan. “Mereka maunya yang instan dan mapan. Padahal membangun rumah tangga bersama dari awal itu ada kenikmatan sendiri, sekaligus belajar tentang proses kehidupan,” ucap dosen di IAIN Pontianak ini.

Memilih pasangan hidup tentu ada tujuannya. Buat apa menikah dengan seseorang yang sudah beristri bila nantinya rumah tangga dipenuhi permasalahan. “Sebab menikah itu khan ingin memiliki keturunan, hidup bahagia, tenang dan penuh cinta kasih,” tutur dia.

Mengenai tanggapan bahwa ketika seseorang sudah beristri lalu mencintai orang lain dianggap puber kedua, Fitri menjelaskan tidak ada yang namanya puber kedua. “Masa puber  ya terjadi sekali saja dengan segala tanda yang ditimbulkan. Jadi secara psikologi tidak ada yang namanya puber kedua,” ulasnya.  Sikap itu ditentukan oleh masing-masing individu. Apakah harus menghindar atau memberikan sinyal  menyambut cinta pria tersebut dengan sejumlah konsekuensi yang ada. “Kalau dia perempuan belum berkeluarga, maka  kembali kepada individu dan kepercayaan masing-masing. Landasan agama menjadi penting. Apakah siap menjadi istri kedua, atau memilih menghindar,” pungkasnya. **

Berita Terkait