Distribusi Kosmetik dan Suku Cadang Tanpa Izin

Distribusi Kosmetik dan Suku Cadang Tanpa Izin

  Jumat, 19 January 2018 10:02
DIAMANKAN: Polda Kalbar menangkap tersangka yang terkait dengan peredaran kosmetika palsu di Kalbar. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar berhasil mengungkap sindikat distribusi kosmetik atau alat kecantikan dan berbagai jenis suku cadang kenadaraan bermotor (spare part) di beberapa lokasi di Kota Pontianak. 

Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono mengatakan, pengungkapan distribusi alat kecantikan dan suku cadang kendaraan bermotor ini berawal dari informasi masyarakat. Dari informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus di bawah pimpinan Kombes Pol Mahyudi Nazriansyah. 

Dikatakan Didi, pada 15 Januari 2018, tim Subdit I Direktorat Reserse Kriminal Khusus dipimpin AKBP Sardo M Pardamen melakukan penggerebekan terhadap salah satu toko di Jalan Sultan Muhammad, No. 114 Kecamatan Pontianak Kota, Pontianak. 

Dari penggerebekan itu, tim berhasil menemukan sejumlah jenis kosmetik atau alat kecantikan yang tidak memeiliki izin edar dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM). 

Selanjutnya pemilik, karyawan berikut barang buktinya diamankan dan dibawa ke Polda Kalbar untuk proses lebih lanjut.

Penyelidikan terhadap kosmetik ilegal tidak berhenti di situ saja. Pada tanggal 17 Januari 2018, tim kembali melakukan pengembangan dengan menggeledah sebuah rumah di Jalan Wonobaru Gang Wonodadi Pontianak Selatan yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan atau gudang kosmetik. 

Di lokasi itu, polisi mengamankan puluhan jenis barang alat kecantikan yang tidak memiliki izin edar dari BBPOM dan lebel penggunaan bahasa Indonesia. 

"Jadi barang-barang ini adalah ilegal. Karena tidak memiliki izin edar dan tidak ada lebel penggunaan bahasa Indonesia," kata Didi dalam keterangan pers, kemarin.

Menurutnya, barang-barang tersebut di datangkan dari Cina yang kemudian masuk Indonesia (Kalbar), melalui jalur pelabuhan, Jakarta-Pontianak. 

"Ada dua tersangka yang kita amankan. Selanjutkan kita proses sesuai dengan undang undang yang berlaku," tegasnya. 

Di sisi lain, pada 15 Januari 2018, Subdit I Ditreskrimsus Polda Kalbar juga menggerebek sebuah bengkel motor yang terletak di Jalan Tanjung Raya 2, Parit Mayor Kecamatan Pontianak Timur. 

Dalam penggerebekan itu, tim mengamankan berbagai jenis spare part kendaraan bermotor yang tidak dilengkapi petunjuk dalam bahasa Indonesia. 

Dalam kasus itu, polisi mengamankan pelaku berinisial LK dan 13 jenis spare part kendaraan bermotor.

Ditemui secara terpisah, Kepala BBPOM Pontianak Corry Panjaitan mengungkapkan, siap barang baik itu makanan maupun obat, termasuk kosmetik yang tidak dilengkapi oleh izin edar mengandung bahan kimia yang berbahaya. 

"Kita tidak tahu apa isinya (kandungannya). Yang jelas pasti mengandung bahan kimia yang berbahaya," katanya.

Dalam hal ini BBPOM Pontianak tidak akan melakukan uji laboratorium untuk memastikan bahan yang terkandung dalam kosmetik tersebut. 

"Tidak perlu diuji lab lagi. Kalau sudah tidak ada izin edarnya, ngapain kita uji. Kan merugikan kita. Udah pasti itu berbahaya," terangnya. 

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga harus merasakan dinginnya jeruji besi, lantaran melakukan tindak pidana penggelapan kendaraan. 

Pelaku adalah Sumairah. Warga Jalan Parit Pekong, Pontianak Utara. Ia ditangkap tanpa perlawanan di kediamannya. 

Kapolsek Pontianak Timur, Kompol Abdul Hafidz mengatakan kasus penggelapan yang dilakukan pelaku terjadi depan salah satu kafe Jalan Panglima Aim, Pontianak Timur, pada 17 Januari 2018. 

Dia menjelaskan, saat itu korban Saleh menggadaikan sepeda motornya kepada pelaku Rp2 juta. Sekitar sebulan sekalian korban hendak menebus kendaraannya. 

Saat uang sudah diserahkan kepada pelaku, lanjut dia, sepeda motor miliknya tidak kunjung diserahkan oleh pelaku. “Korban menunggu penyerahan motor, tetapi tidak juga diserahkan. Tidak ada itikad baik dari pelaku hingga akhirnya dilaporkanlah kasus itu kepada pihaknya,” kata Hafidz, Kamis (18/1). 

Hafidz menuturkan, berdasarkan laporan korban dilakukankah serangkaian penyelidikan, hingga pada akhirnya pada Rabu 17 Januari kemarin didapatlah informasi keberadaan pelaku di kediamannya. 

Berdasarkan informasi itu, dia menambahkan, dilakukanlah pengecekan. Dan ketika berada dikediamannya pelaku ditemukan dan diamankan untuk kepentingan proses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut. 

"Untuk barang bukti hingga saat ini masih dilakukan pendalaman keberadaannya," ucapnya. 

Hafidz menyatakan dari hasil pemeriksaan yang bersangkutan telah mengakui perbuatannya. "Sesuai dengan perbuatannya pelaku dikenakan pasal 372 dengan ancaman pidana penjara empat tahun," tegasnya. (adg/arf) 
 

Berita Terkait