Disebut Nabok Panyugu, Dipercaya Usir Roh Jahat

Disebut Nabok Panyugu, Dipercaya Usir Roh Jahat

  Rabu, 17 Agustus 2016 10:29
BERKUMPUL: Warga berkumpul berdoa bersama jelang 17 Agustus di Panyugu, Desa Darit, Kecamatan Manyuke, Kabupaten Landak. ISTIMEWA

Berita Terkait

Ritual Memanjatkan Doa di Hari Kemerdekaan

Beragam cara memaknai ulangtahun kemerdekaan Indonesia. Di Kecamatan Manyuke, Kabupaten Landak, ada ritual unik untuk menyambut hari kemerdekaan. Mereka menyebutnya ritual Nabok Panyugu. 

AGUS PUJIANTO, Landak

SIPI (73) memersiapkan dengan sebatang bambu yang sudah diraut. Namanya pabayo. Alat peraga ini, dibuat setiap kali akan melakukan ritual adat. Bisa dibilang, pabayo ini lambang khusus Dayak Kanayatn sebagai simbol penyambutan terhadap kehadiran Jubata. 

Adapun bentuk pabayo tersebut menyerupai kembang yang dibuat melalui rautan pada batang bambu yang sudah dikuliti, dengan menggunakan pisau raut. Menurut sejarah, dalam setiap rautan memiliki makna tersendiri, begitu juga dengan tingkatannya. Pabayo ini nantinya, akan ditancapkan ke tanah di tempat acara ritual akan dilaksanakan.

Sejumlah persyaratan ritual sudah siap untuk dipersembahkan: telur mentah, beras lemang, darah, satu ekor babi, dan dua ekor ayam. Peraga itu tersusun rapi di atas klangkang yang juga terbuat dari bambu. Tak lama, gong (tawak) ditabuh sebanyak tujuh kali, menandakan ritual segera dimulai. Doa berbahasa Kanayatn diucapkan Sipi yang didapuk sebagai pelaksana adat.  

Namanya ritual Nabo Payunggu. Ritual tahunan digelar setiap akan memperingati ulang tahun kemerdekaan Indonesia ini, bentuk ungkapan rasa nasionalisme terhadap bangsa yang diperagakan melalui upacara adat. Sejumlah tokoh masyarakat di Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak hadir memanjatkan doa di sebuah tempat yang disebut Panyugu.

“Ritual ini, untuk memohon kepada sang kuasa dan roh nenek moyang kami untuk melindungi, menjaga, dan mengawasi. Agar semua masyarakat yang hadir dalam perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia nanti diberikan kesehatan serta keselamatan,” kata Sipi. 

Panyugu yang terletak di Darit, Kecamatan Menyuke itu bernama Sambilan Ansekng Landak. Artinya sembilan kekuatan Landak ada di tempat itu, yang berasal dari daerah atau tempat berbeda. 

Ritual unik sebelum perayaan kemerdekaan itu, kata Sipi, sudah menjadi identitas bagi masyarakat, sebagai bagian dari NKRI. Meski caranya berbeda, dengan wujud budaya, masyarakat adat menunjukkan rasa nasionalisme mereka dengan mentransformasikan kecintaan terhadap bangsa melalui adat-istiadat sesuai kepercayaan nenek moyang. “Ini kami lakukan setiap tahun, untuk menyampaikan permohonan dan harapan agar negri ini berjaya, tentram, damai dan aman,” ungkapnya. 

Stepanus Titus, koordinator adat yang juga patih di Kecamatan Manyuke menambahkan, selain bertujuan untuk memohon bangsa dan daerah tetap aman tentram. “Kami itu minta tolak balak dari ancaman luar dan dalam,” ungkapnya. 

Panyugu, kata Titus, merupakan benda yang disakralkan. Bentuk peninggalan nenek moyang pada saat sebelum kemerdekaan melawan Belanda. Saat itu, pejuang berjuang dengan senjata seadanya, bambu runcing dan mandau untuk membela negara. “Panyugu ini, menandakan perjuangan nenek moyang meraih kemerdekaan. Makanya kami setiap tahun mengadakan ritual menyambut 17 Agustus.  

Ibarat makam pahlawan saat ini. Kami berdoa di sini untuk keselamatan bersama,” katanya.(*) 

Berita Terkait