Disambut Presiden dan Parade Juara Keliling Lisbon

Disambut Presiden dan Parade Juara Keliling Lisbon

  Rabu, 13 July 2016 09:30

Berita Terkait

Lisbon - Setelah menjuarai Piala Eropa 2016, timnas Portugal pulang ke negaranya. Di rumah sendiri, A Selecao das Quinas melakukan parade juara dan mendapatkan sambutan dari ribuan suporter.

Pesawat yang mengangkut tim Portugal mendarat di Bandara Portela, Lisbon, Senin (11/7/2016). Tak lama setelah mendarat, pesawat tersebut mendapat sambutan berupa tembakan meriam air berwarna merah dan hijau, yang merupakan warna kebesaran timnas Portugal. Begitu pintu pesawat dibuka, muncul pelatih Fernando Santos dan kapten tim Cristiano Ronaldo yang mengenakan setelan jas warna biru tua. Keduanya memamerkan trofi Piala Eropa 2016. Tim Portugal kemudian naik bus tingkat beratap terbuka menuju istana kepresidenan Belem. Dalam perjalanan dari bandara ke istana kepresidenan, mereka dielu-elukan oleh para suporter yang menyambut di pinggir jalan.

Presiden Portugal, Marcelo Rebelo de Sousa, langsung menyambut Ronaldo dan kawan-kawan di istana kepresidenan. Marcelo Rebelo de Sousa menjanjikan penghargaan untuk semua anggota tim. "Saya harus memuji setiap orang. Saya akan memberi mereka penghargaan the Order of Merit of Commanders. Hal itu belum pernah diberikan kepada tim nasional," ujar Marcelo Rebelo de Sousa kepada RTP.

Setelah bertemu presiden, tim Portugal selanjutnya kembali melakukan parade juara di jalan-jalan kota Lisbon dan menemui ribuan suporter di pusat kota. Air mata itu menetes lagi di pipi Cristiano Ronaldo. Sama persis seperti air mata yang jatuh setelah laga final Euro 2004 di Estadio da Luz, Lisbon. Bedanya, Ronaldo menitikkan air mata di Stade de France kemarin (11/7) bukan karena bersedih. Bukan pula karena capitao Portugal itu harus mengakhiri laga lebih cepat pada menit ke-24.

Sebaliknya, air mata Ronaldo adalah tanda kebahagiaan setelah mengakhiri rekor sialnya saat membela Portugal. Di usianya yang menapak 31 tahun, Ronaldo akhirnya mengangkat trofi major tournament pertama setelah 13 tahun bersama Seleccao das Quinas, julukan Portugal.

Mimpi itu terwujud setelah Portugal mempecundangi tuan rumah Prancis 1-0 dalam final Euro 2016 via gol Eder pada menit ke-109 (babak perpanjangan waku). ’’(Final Euro 2016) memang bukan final yang saya harapkan, tetapi berakhir dengan happy ending,’’ ujar Ronaldo sebagaimana dikutip Sky Sports.

’’Inilah yang selalu saya rindukan sejak (final Euro) 2004. Setiap kali Euro saya berharap kepada Tuhan, berilah saya kesempatan ini lagi dan Anda lihat sendiri kan,’’ imbuh pemain dengan 133 caps dan 61 gol itu.

Euro 2004 merupakan awal mula Ronaldo merasakan naik turunnya prestasi Portugal. Dimulai dari dia yang hanya berlabel pemain termuda pencetak gol Euro sepanjang sejarah Portugal sampai menjadi pemain paling berpengaruh di skuad besutan Fernando Santos. Euro 2016 pun tak ubahnya roller coaster bagi Ronaldo. Sempat dikritik mandul dalam dua laga awal, dia menjawabnya dengan dua gol ke gawang Hungaria di laga pemungkas fase grup. Ronaldo kembali bermain biasa-biasa saja melawan Kroasia dan Polandia sebelum memberikan kontribusi gol dan assist di semifinal kontra Wales.

Nah, di final kemarin, Ronaldo juga tidak tampil sebagai pembeda di lapangan. Tapi, ada yang bisa dibanggakan. ’’Setidaknya, setelah pengalaman ini saya semakin percaya dengan rekan-rekan di Portugal. Tim ini punya kualitas dan kemampuan bersama dengan strategi kemenangan pelatih kami,’’ sebut Ronaldo seolah menegaskan bahwa Portugal bisa menjadi juara tanpa dirinya. Ronaldo ditarik keluar karena cedera lutut pada menit ke-25. Posisinya kemudian digantikan Ricardo Quaresma. Sepeninggal Ronaldo, Portugal makin menguatkan defense. Hanya ada Nani dan Joao Mario di area pertahanan Prancis. Walaupun tak bisa dimungkiri, sepanjang 24 menit awal bersama Ronaldo, Portugal sudah menerapkan garis defense yang rendah.

Keberhasilan Portugal merebut juara juga diganjar dengan terpilihnya empat penggawa Seleccao das Quinas dalam Tim Terbaik Euro 2016 (starting eleven). Mereka adalah Ronaldo, Pepe, kiper Rui Patricio, dan bek kiri Raphael Guerreiro. Melengkapi skema 4-2-3-1, ada nama Joshua Kimmich, Jerome Boateng, dan Toni Kroos (Jerman); Aaron Ramsey dan Joe Allen (Wales); serta Antoine Griezmann dan Dimitri Payet (Prancis). Yang menarik, tidak ada nama Gareth Bale (Wales).

Tim terbaik dipilih oleh 13 anggota pengamat teknik UEFA. Dipimpin Ioan Lupescu, anggotanya adalah Sir Alex Ferguson, Alain Giresse, David Moyes, Packie Bonner, Mixu Paatelainen, Savo Milosevic, Peter Rudbæk, Gareth Southgate, Thomas Schaaf, Jean-François Domergue, Ginés Meléndez, dan Jean-Paul Brigger.

Menurut Ferguson yang juga duta pelatih UEFA, pemilihan tim terbaik mengacu berbagai kriteria. Untuk lini serang, misalnya. ’’Kami memilih pemain fleksibel dan kreatif serta memiliki kemampuan mengkreasi peluang dan mencetak gol,’’ ujarnya di situs resmi UEFA. ’’Kami percaya tim terbaik ini mempresentasikan yang terbaik sepanjang turnamen,’’ imbuhnya. (ren/c19/dns)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait