Dirut PDAM Tirta Khatulistiwa Tutup Usia

Dirut PDAM Tirta Khatulistiwa Tutup Usia

  Selasa, 16 Agustus 2016 09:30
DIMAKAMKAN: Sutarmidji ikut melepas dan mengantarkan jenazah Afandi dari rumah duka menuju pemakaman, Senin (15/8). IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Dikenal Sebagai Sosok Penyabar dan Bersahaja

Direktur Utama PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak Asnan Afandi, tutup usia pada Minggu (14/8) malam. Kepergian figur yang dikenal penyabar dan bersahaja ini meninggalkan jejak mendalam di hati banyak orang, termasuk Wali Kota Pontianak. 

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

RUMAH duka almarhum Afandi di Jalan Pak Benceng, Gang Wonorejo, Kota Baru ramai dikunjungi para pelayat sejak pagi, Senin (15/8). Ratusan orang terlihat hadir, hendak mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir di Pemakaman Umum Jalan Karya Sosial, Pontianak Kota.  

Mulai dari kerabat, tetangga, hingga para pejabat di lingkungan Pemkot Pontianak dan rekan kerja di PDAM Tirta Khatulistiwa turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum. Termasuk orang nomor satu di Pemkot Pontianak Sutarmidji dan wakilnya Edi Rusdi Kamtono. 

Kepergian Afandi meninggalkan jejak mendalam di hati banyak orang. Sebagian tak menyangka almarhum yang sehari-hari terlihat bersahaja ini meninggal di usia 40 tahun akibat penyakit kanker kulit.

Kesedihan paling dalam terlihat dari wajah istri, Yenni Roosniartini. Air matanya tak henti terus mengalir di pelupuk mata hingga membasahi pipi, melepas kepergian suaminya. Hingga usai pemakaman ia pun terlihat sendu, tak banyak bicara.

Anak pertama almarhum, Auliya Nuruljannah (15 tahun) menceritakan, ayahnya menjalani perawatan di rumah sakit sejak Sabtu pekan lalu. Di mata siswi SMAN 1 Pontianak itu, almarhum adalah sosok yang penyabar, apa adanya dan jarang sekali marah.

“Bapak tidak pernah minta macam-macam, kalau marah juga cuma sebentar, marahnya diam. Abis itu baru dipanggil diajak diskusi,” ungkap Auliya saat ditemui di rumah duka.

Hal serupa diungkapkan Wali Kota Pontianak Sutarmidji. Dia mengenang Afandi sebagai sosok yang paling penyabar dan taat beribadah. Padahal dirinya mengaku sering marah ketika membahas permasalahan PDAM, namun Afandi tetap meladeninya dengan senyuman. 

“Saya mau marah bagaimana juga dia tetap senyum, akhirnya kemarahan pun hilang,” kenangnya.

Sutarmidji juga memuji peran kepemimpinan Afandi di PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak. Dia mengatakan, almarhum merupakan satu-satunya Dirut yang berhasil membawa PDAM Pontianak terus berkembang. Dari yang semula mengalami kerugian Rp1,2 miliar, hingga kini berhasil mendapatkan keuntungan Rp25 miliar.

“Ini merupakan prestasi dan bukti kerja keras almarhum. Pemkot sangat kehilangan dan sangat susah mencari pemimpin BUMD seperti yang sekarang, kami harap bisa menemukan orang seperti beliau untuk melanjutkan apa yang telah beliau lakukan,” ujarnya.

Sutarmidji bercerita, saat almarhum masih dirawat di RS, hampir setiap hari ia datang menjenguk. Termasuk siang harinya sebelum meninggal, hingga akhirnya ia mendapat kabar meninggalnya Afandi sekitar pukul 19.30, Minggu malam. 

“Siangnya saya masih ke rumah sakit dan beliau masih bisa senyum. Hampir tiap hari saya ke RS, beliau selalu dalam kondisi sadar,” katanya. 

Di lain kesempatan, orang nomor satu di Pemkot Pontianak ini sempat merasa tidak tega melihat almarhum yang seolah menahan sakit atas penyakitnya. “Saya tidak tega, tapi beliau masih bisa senyum. Mau duduk waktu saya datang, saya bilang jangan, tetap saja di posisi yang dirasa paling nyaman, beliau ini memang contoh pemimpin yang mengayomi,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas PDAM Pontianak Edy Suratman juga turut menyampaikan duka mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Selama menjabat Dirut PDAM, dia merasa almarhum telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik.

Sosok penyabar tampaknya memang sangat lekat pada diri ayah dua anak itu. Menurut Edy, almarhum sosok yang tak pernah marah dan selalu tenang dalam menghadapi situasi sesulit apapun. “Insyallah beliau mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah,” ujarnya. 

Menurut informasi yang dihimpun Pontianak Post, almarhum lahir di Jombang, 23 November 1975. Asnan Afandi wafat dengan meninggalkan satu orang istri, Yenni Roosniartini dan dua orang anak yakni Auliya Nuruljannah dan Alfiyyah Misbahussaniyyah. Serta satu orang anak angkat bernama Muhammad Rosid Alfaris. 

Almarhum merupakan jebolan Institut Teknologi Surabaya. Setelah diangkat sebagai Direktur Teknik PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak pada 2012, ia kemudian dipercaya memimpin sebagai direktur utama hingga sekarang. Semoga almarhum khusnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kelapangan dada serta keikhlasan.(*)

Berita Terkait