Dirikan Sekolah Komunitas Perbatasan

Dirikan Sekolah Komunitas Perbatasan

  Selasa, 18 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

Kawasan perbatasan menjadi beranda depan Indonesia. Tetapi, warga di sana hidup dalam keterbatasan. Kondisi ini pun menjadi perhatian Dr. Syarifah Ema Rahmaniah. Ia bersama teman-temannya pun mendirikan Sekolah Komunitas Perbatasan.

Oleh : Marsita Riandini

Sekolah Komunitas Perbatasan terinpirasi dari hasil riset studi S3 Ema di perbatasan. Riset itu mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di masyarakat. Penelitian itu juga mampu mengungkap berbagai kendala yang dihadapi. Dia bisa mengeksplor lebih jauh data yang didapat, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu. “Ini memunculkan rasa malu. Saya melihat mereka serba keterbatasan, terabaikan,” ujar Kepala Prodi Sosiologi Program Magister Ilmu Sosial, Untan ini.

Setelah menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Kebangsaan Malaysia, perempuan kelahiran Pontianak pada 39 tahun silam ini kembali mengajar di Untan. Ia pun berbagi pengalaman kepada mahasiswanya terkait hasil penelitiannya itu. 

“Saya cerita ke teman-teman tentang masalah di perbatasan. Kemudian saya dibantu teman di Jakarta yang punya akses di kementerian,” tutur Ema.

Ia bersama teman-temannya melakukan survei di Sajingan. Tepatnya di Aruk. Dari survei itu mereka sepakat untuk membuat Sekolah Komunitas Perbatasan pada Juli 2015. Kemudian, dibuat program-program pendidikan alternatif  dengan  melakukan pemetaan hal yang dibutuhkan masyarakat di sana. 

“Kami buatlah beberapa pelatihan dan merekrut relawan,” tutur Mentor Sekolah Komunitas Perbatasan ini.

Pelatihan itu diantaranya tentang kewirausahaan, inkubator bisnis, juga membangun micro finance.  Mereka memberdayakan pengrajin bidai di Desa Sekidak, Kecamatan Jagoi Babang.  Kegiatan ini pun memiliki tantangan tersendiri. Para ibu di sana hanya bisa bahasa daerah setempat. Fokusnya juga hanya produksi, tetapi tidak punya skill untuk pemasaran. Belum lagi kendala bahan baku, yang harus dibeli dari Kalimantan Tengah. 

“Sementara, Pasar Serikin yang aksesnya dekat dengan mereka dikuasai oleh orang-orang di luar perbatasan. Sehingga produk mereka harganya menjadi rendah,” ujarnya prihatin. 

Ada pula program pendampingan lain terutama terkait pengelolaan sumber daya alam. Misalnya, penghasil beras merah. Mereka meminta agar beras merah ini dapat dijadikan bahan makanan siap saji atau menjadi bahan makanan yang bisa menjadi home industri. Tetapi permintaan ini belum direspon. 

“Untuk saat ini belum kami respon karena sulit. Tetapi kami hanya bisa bantu pengolahan holtikultura seperti ubi dan pisang,” jelas Ema yang aktif di MABM Kalbar ini. 

Seiring berjalan waktu, Sekolah Komunitas Perbatasan bertransformasi menjadi Pusat Studi Pengembangan Pedesaan dan Kawasan Perbatasan. “Jadi kami sudah punya tiga sekolah yakni Sekolah Komunitas Perbatasan, Sekolah Politik Perempuan, dan Sekolah Jurnalis Kampus,” urainya.  

Selain program pemberdayaan, perempuan yang menempuh pendidikan S1 dan S2 di International Islamic University, Malaysia ini pun pernah aktif melakukan pendampingan dan advokasi terhadap para pekerja migran selama menjalani kuliahnya dari tahun 1997-2006. 

“Saya memang aktif dalam organisasi baik dalam maupun luar kampus. Saya pernah mewakili perhimpunan pelajar Indonesia untuk melakukan pendampingan terhadap pekerja migran. Zaman ini pula dibentuknya Ikatan Pekerja Muslim Indonesia (IPMI),” kata Ema.

Setiap Sabtu Minggu, dia dan relawan lain mengunjungi penginapan para buruh migran yang bekerja di kilang minyak atau pun  pabrik-pabrik untuk melakukan pembinaan dan advokasi. Termasuk jika ada kasus kekerasan, pelecehan terhadap TKW di Shelter KBRI. “Kadang harus bermalam dan terpaksa meninggalkan mata kuliah hari itu,” jelasnya. 

Pengalaman itu membuatnya sadar bahwa menghargai orang lain itu bukan dari strata pendidikannya, status sosialnya, agama, maupun etniknya. Tetapi, sejauh mana nilai kemanusian yang dimiliki seseorang dalam membantu orang-orang yang membutuhkan.

 “Pekerja migran ini datang dari keluarga yang ekonominya menengah kebawah, tetapi mereka punya semangat dan empati yang luar biasa dalam membantu masyarakat Indonesia,” ungkap Ema.

Dia mencontohkan pada kejadian konflik di Poso dan tsunami di Aceh. Para pahlawan devisa ini turut menyisihkan uangnya untuk membantu para korban. “Saat itu kami membuat charity concert dengan mengundang Bapak Nurcholish Madjid, Hadad Alwi, Sulis, dan Mayada di Kuala Lumpur. Teman-teman pekerja migran inilah yang menyisihkan uangnya,” ulasnya. 

Proglam lainnya yakni adik asuh. Mereka membantu pendidikan anak-anak korban tsunami di Aceh, meskipun tanpa tahu siapa yang mereka bantu. Saat Ema kuliah S3, dia bertemu dengan salah satu mahasiswa dari Aceh yang ingin bertemu ibu angkat mereka. 

“Dia katakan ingin bertemu kakak angkat yang membiayai kuliah dirinya dan sekolah adik-adiknya,” terangnya. 

Ia berharap dengan pembinaan dan advokasi yang dilakukan para pekerja migran mempunyai modal untuk kembali ke tanah air dengan membuka peluang usaha.  Sebab, mereka datang ke Kuala Lumpur dengan keterbatasan sehingga rentan mengalami kekerasan, eksoploitasi, menjadi korban penipuan, beda majikan, dan dengan regulasi yang berbeda-beda. 

“Ibaratnya sesusah apapun di negeri sendiri, mereka akan jauh lebih aman,” pungkasnya. **

Berita Terkait