Dinamika Kesenjangan Ekonomi

Dinamika Kesenjangan Ekonomi

  Jumat, 22 April 2016 11:14   3,673

Membicarakan dinamika perekonomian sebuah negara tentu tak lepas dari persoalan kesenjangan ekonomi. Kesenjangan ekonomi atau bisa juga disebut ketimpangan ekonomi menurut Schaefer (2012), pada dasarnya adalah suatu kondisi di mana antar anggota masyarakat memiliki perbedaan jumlah kekayaan, prestise atau kekuasaan yang mencolok. Kesenjangan ekonomi dapat bervariasi, tergantung masyarakat, waktu, struktur ekonomi, dan sistem. Istilah tersebut dapat mengacu pada persebaran pendapatan atau kekayaan lintas lapisan masyarakat pada waktu tertentu, atau pendapatan dan kekayaan seumur hidup dalam jangka panjang.

Ada beberapa indeks numerik yang dapat digunakan untuk mengukur kesenjangan ekonomi. Di antara metode pengukuran kesenjagan yang ada, koefisien gini merupakan indeks yang paling terkenal. Koefisien gini memiliki skala 0 sampai 1. Angka 0 menunjukkan bahwa kesejahteraan merata, sempurna. Sedangkan, angka 1 berarti kesenjangan sudah tahap ekstrim, dimana hanya beberapa pihak yang menguasai perekonomian, dan sisanya nihil pendapatan. Menurut data World Bank, jurang kesenjangan sosial di Indonesia makin lebar sejak tahun 2000. Koefisien gini di Indonesia, per September 2015 dilaporkan sudah mencapai 0,41. Padahal, pada tahun 2000 masih dipoin 0,30.

Joseph E. Stiglitz dalam bukunya The Great Devide: Unequal Societies and What We Can Do About Them menyimpulkan bahwa sesungguhnya kesenjangan ekonomi adalah sebuah “choices” (pilihan-pilihan). Peraih Nobel Ekonomi tahun 2011 ini, menyebut kesenjangan ekonomi sebagai gejala sadar yang dibentuk para elite yang sekaligus penerima manfaat paling besar dari tatanan ekonomi. Jadi, secara singkat dapat dikatakan bila kesenjangan ekonomi adalah “produk” dari proses politik yang berulang dan menjadi struktur, sehingga akibatnya sulit diubah.

Saat ini, kesenjangan yang terjadi antara si miskin dan si kaya kian meruyak. Orang miskin yang kini jumlahnya 28,59 juta jiwa rata-rata berpenghasilan Rp 400-500 ribu perbulannya. Sementara si kaya penghasilannya Rp 5-10 juta perbulannya. Ini dua angka yang akrobatik sekali. Sementara harga kebutuhan pokok sama di pasaran. Kalupun kita bisa berkilah, si miskin kan dapat beras dengan harga terendah di dunia, dan berbagai macam tambahan bantuan keuangan lainnya dari pemerintah, itu tidak seberapa di banding penghasilan orang kaya tadi. Yang namanya daging, susu, keju, buah-buahan, beras berkualitas asing bagi orang miskin. Segelintir orang kaya telah menguasai kekayaan yang melimpah ruah. Terbongkarnya skandal Panama Papers menunjukkan hal itu. Lebih dari 2.000 nama orang Indonesia bermain didalamnya dengan nilai triliunan rupiah.

Teori Deaton

            Ekonom asal Skotlandia Angus Deaton, telah menganalisis teori konsumsi, kemiskinan dan kesejahteraan. Teori yang menghantarkannya meraih Nobel Ekonomi 2015 ini berkaitan sangat erat dengan kesenjangan ekonomi.

Pemahaman secara mendalam tentang pola konsumsi sangat penting. Sebab, lewat pengenalan pola konsumsi, para pembuat kebijakan bisa meluncurkan produk kebijakan yang tepat sehingga konsumen tidak dirugikan alias tidak menjadi miskin. Deaton telah banyak menginspirasi banyak peneliti dan periset tentang dahsyatnya efek (pola-pola) konsumsi terhadap perekonomian.

Terlebih karena konsumsi merupakan penyumbang terbesar pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) yang erat berkaitan dengan pendapatan perkapita (kesejahteraan) masyarakat. Penerapan analisis Deaton, contohnya terjadi pada dampak kebijakan pajak pertambahan nilai terhadap produk makanan. Pemberlakuan pajak pada makanan ini jelas mempengaruhi konsumsi. Namun, pengaruh pajak ini sangat berbeda pada setiap individu. Warga miskin akan mudah tertimpa beban sehingga mengurangi konsumsi, sedangkan warga mapan relatif tidak begitu terpengaruh.

Dilema Pertumbuhan Ekonomi

Sebuah bangsa, tentu terus berupaya agar bagaimana pertumbuhan ekonomi meningkat, meningkat dan terus meningkat. Namun, tanpa disadari –atau sengaja tidak disadari– pertumbuhan ekonomi memberi efek yang sangat signifikan bagi kesenjangan ekonomi. Pertumbuhan yang tinggi diperlukan untuk memberikan lapangan kerja serta menurunkan jumlah orang miskin dan mengatasi kesenjangan kemakmuran yang melebar.

Berly Martawardaya, dosen FEB-UI dan ekonom Indef menuliskan bahwa: ada mazhab ekonomi yang menyatakan bahwa masyarakat harus memilih apakah mendahulukan pertumbuhan ekonomi atau mengurangi kesenjangan. Namun, tidak sedikit studi yang menyatakan bahwa mengurangi kesenjangan juga mendorong pertumbuhan ekonomi. (Koran Sindo, 12/4)

Disini, pertumbuhan ekonomi saya analogikan sebagai sebuah kue. Semakin besar pertumbuhan, semakin besar pula kue. Dengan semakin besarnya kue, semakin besar pula pembagian porsi. Hanya, yang menjadi pesoalan apakah pembagian tersebut adil dan merata? Sayangnya tidak. Barangsiapa yang memiliki garpu lebih besar, akan lebih besar pula ia mencakup porsi. Apalagi bila memiliki dua garpu besar, maka porsi kue yang diperolehnya sangat besar. Yang memiliki garpu kecil, harus puas dengan porsi kecilnya. Namun, parahnya ada yang tidak memiliki garpu sama sekali!

Persoalan Kemiskinan

Mengidentifikasi penyebab naik turunnya angka kemiskinan secara teknis bisa dikatakan mudah dilakukan. Kita tinggal melihat apakah garis kemiskinannya bergeser naik atau turun. Kemudian menggolongkan penduduk mana saja yang tingkat pengeluarannya di bawah garis kemiskinan tersebut. Semakin tinggi kenaikan garis kemiskinan, semakin tinggi pula kemungkinan naiknya angka kemiskinan. Sulitnya ialah mencari akar persoalan mengapa orang miskin tidak kunjung mampu keluar dari kerentanannya.

Padahal, telah banyak program pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan dari tahun ke tahun. Akumulasi dana yang telah dikeluarkan pun telah mencapai ratusan triliun rupiah. Namun, tetap saja belum mampu menuntaskan persoalan ini. Bahkan pertumbuhan ekonomi yang selalu menunjukkan tren positif selepas krisis ekonomi 1998 pun tidak mampu menghilangkan kosakata kemiskinan di Indonesia. Lalu, apakah kemudian bisa kita katakan bahwa pertumbuhan ekonomi selama ini tidak inklusif? Artinya, pembangunan selama ini masih kurang menyentuh masyarakat miskin.

Apabila melihat meningkatnya kemiskinan, bisa jadi pernyataan tersebut benar adanya. Indeks yang mengukur ketimpangan kesejahteraan, dalam hal pengeluaran atau pendapatan, di antara penduduk ini terus meningkat dalam dekade terakhir.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi selama ini lebih dinikmati oleh kelompok masyarakat yang sudah relatif kaya. Sementara yang dinikmati masyarakat miskin hanya sebagian kecil. Tingkat pengeluaran atau pendapatan masyarakat miskin ini bisa jadi turut meningkat. Namun, secara riil daya beli mereka justru merosot sebab tidak mampu mengimbangi laju kenaikan harga barang yang mereka konsumsi.

Paradoks yang miskin semakin miskin, dan yang kaya semakin kaya, kini telah dapat diibaratkan sebagai semboyan persoalan kesenjangan kita. Entah sampai kapan.

Muhammad Husein Heikal

Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Saat ini menempuh studi Ekonomi Pembangunan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, USU. Menulis opini, esai dan puisi dibeberapa koran/majalah lokal dan Nasional.