Dilewati Tronton Jembatan Ambruk

Dilewati Tronton Jembatan Ambruk

  Sabtu, 21 November 2015 11:12
MUSTAAN/PONTIANAK POST

 
Akses ke Putussibau Putus

 

PUTUSSIBAU—Sebagian besar jembatan kayu di Jalan Lintas Selatan (Jalan Strategis Nasional) dalam dua tahun terakhir diganti dengan jembatan besi permanen. Pada saat proyek sedang berlangsung, kontraktor pelaksana membangun jembatan sementara atau darurat. Jembatan darurat inilah yang rawan menimbulkan kecelakaan bagi pengendara yang melintas jembatan tersebut tak berhati-hati.

Seperti yang terjadi Jumat (20/11) malam, jembatan Muang dusun Menin desa Mujan kecamatan Boyan Tanjung  yang berada di berbatasan dengan Desa Pemawan ambruk, saat dilintasi Tronton yang membawa eksavator dari Sanggau. Akibatnya, akses penghubung masyarakat Boyan Tanjung menuju Putussibau atau sebaliknya putus total, demikian juga dengan bis dari dan tujuan Pontianak.

Ambruknya jembatan darurat sungai Muang di benarkan Camat Boyan Tanjung, Sudarso, SPd, M.Si. "Trontonnya masuk kedalam anak sungai," kata Sudarso dihubungi via telpon, Jumat (20/11) siang. Jembatan yang roboh tersebut diperkirakan panjangnya delapan meter, jembatan yang ambruk itu merupakan jembatan darurat yang dibuat pemerintah karena jembatan yang lama tengah dibangun.

Sudarso memastikan dalam musibah tersebut tidak ada korban jiwa, dan dirinya belum melaporkan kejadian tersebut ke pemerintah karena dirinya yakin jembatan tersebut akan diperbaiki sementara oleh perusahaan yang ada di kecamatannya. "Kalau tak salah tronton yang lewat jembatan tersebut milik salah satu perusahaan disana. Tepai saya belum dapat konfirmasi pasti masalah itu," tuturnya.

Mantan KUPT Dinas Pendidikan Kecamatan Boyan Tanjung ini juga yakin dalam beberapa hari ini  jembatan tersebut sudah bisa dilalui. Akibat ambruknya jembatan Muang membawa dampak bagi pedagang di Putussibau. Salah satunya Akuang, ia mengaku persediaan barang sembako ditokonya  mulai berkurang, padahal sebelumnya ia sudah memesan sembako ke Pontianak melalui ekspedisi.

"Biasanya pagi jam lima Subuh sudah sampai, tapi hingga sekarang belum juga. Katanya ekpedisi tak bisa lewat karena jembatan di Boyan ambruk," katanya. Ia khawatir jika terputusnya penghubung dari Pontianak menuju kota Putussibau berlangsung lama, akan berpengaruh terhadap harga barang dipasar tradisonal."Pastinya barang dipasar akan naik, karena barang sulit didapat saat ini," jelasnya.

Untuk itu ia berharap pemerintah segera mengatasi masalah ini jangan sampai berlarut-larut karena kasihan dengan masyarakat perbatasan. Sementara itu Ana Mariana, ST. M.M Kadis Bina Marga dan Pengairan Kapuas Hulu membenarkan jembatan Muang di Boyan Tanjung yang ambruk. “Jembatan yang ambruk itu merupakan jembatan darurat yang dibuat pemerintah Provinsi,” terang Ana ramah.

Ana mengaku sudah berkoordinasi dengan orang yang memiliki alat berat tersebut, kemungkinan dari mereka juga sudah menangani kerusakan tersebut. "Jembatan ambruk karena tidak adanya kesadaran pengguna jalan yang membawa alat berat tersebut. Saya kurang tahu dari perusahaan mana tronton yang membawa alat berat tersebut.Mestinya mereka itu lebih berhati-hati," ucap Ana.

Iman Shabirin SPd.I, Anggota DPRD Kapuas Hulu, salah seorang yang terganggu perjalanannya. Dari Putussibau, ia bermasuk pulang ke kampungnya di Kecamatan Pengkadan.

“Saya dua jam menunggu di situ, maupulang kampung, terpaksa kembali lagi ke Putussibau,” ujarnya. Politisi Partai Demokrat ini sangat memang menyayangkan kendaraan melebihi muatan sering melalui Jalan di Kapuas Hulu.

Dikatakan Iman, kendaraan yang melebihi muatan menjadi masalah klasik. Selain belum memiliki jembatan timbang, jalan nasional di Kapuas Hulu belum standar nasional. “Jalan nasional, tetapi lebarnya baru 4,5 meter. Seharusnya jalan nasional lebar tujuh meter,” ungkapnya. Jembatan yang ada di jalan nasional di Bumi Uncak Kapuas Hulu masih banyak yang berbahan kayu dan kecil. (aan)