Dilema Skripsi

Dilema Skripsi

  Senin, 17 Oktober 2016 09:58

Berita Terkait

Skripsi menjadi syarat yang harus dipenuhi untuk menuntaskan pendidikan strata 1 (S1). Tetapi, penulisan skripsi tidaklah mudah. Banyak mahasiswa kesulitan dan memerlukan waktu lama untuk menyelesaikannya. Ada yang memilih melanjutkannya walau tertatih-tatih, namun ada pula yang memilih berhenti merampungkan skripsinya,

Oleh: Marsita Riandini

Semester awal perkuliahan biasanya dilalui dengan mudah. Namun, keluhan pun mulai terdengar pada semester akhir. Tepatnya ketika memasuki proses penulisan skripsi. Kebanyakan mahasiswa merasa bingung saat memasuki tahap skripsi. Ada yang bingung menentukan judul, sulit dalam melaksanakan penelitian, gagal dalam percobaan, serta masih banyak kendala lainnya.

Bahkan, ada juga yang mengeluh dosen pembimbingnya sulit ditemui sehingga susah untuk berkonsultasi. Akhirnya, ada yang memilih menyerah. Harapan mencapai gelar sarjana pun pupus begitu saja.

Apakah ada langkah cepat untuk menyelesaikan skripsi? Syamsul Kurniawan, S.Th.I, M.S.I mengatakan sebenarnya skripsi dapat diselesaikan dalam waktu cepat dengan hasil yang berkualitas. Namun, tak bisa dicapai dengan cara instan, melainkan harus dipersiapkan sejak awal.

“Logikanya sejak awal masuk ke perguruan tinggi, seseorang sudah punya rencana. Ada target yang ditentukan dalam proses menyelesaikan pendidikannya,” ujar dosen di IAIN Pontianak ini.

Sejak awal mahasiswa sudah bisa mempelajari segala hal tentang skripsi dan proses pembuatannya. Lebih baik lagi jika didukung dengan minat kajian pada bidang tertentu. Sehingga saat akan mengajukan judul, mahasiswa punya kemauan dan kemampuan untuk menyelesaikan skripsi sesuai dengan tema yang diangkat.

“Saya membayangkan jika semester tiga saja mahasiswa sudah punya fokus keahlian masing-masing. Misalnya, pada mata kuliah A dia mengarahkan minatnya pada bidang kajian tertentu, atau pada mata kuliah B dia juga mengarahkan pada kajian bidang tertentu. Maka saat mau mengajukan judul dia sudah kompeten di bidang tersebut. Tidak sulit lagi bagi dia untuk menyusun skripsi,” jelas penulis buku Pemikiran Pendidikan Islam Soekarno ini. 

Ada berbagai kendala mahasiswa dalam proses penyusunan skripsi. Diantaranya tema yang diangkat tidak sesuai dengan kemauan dan kemampuan. “Mau belum tentu mampu, mampu juga belum tentu sesuai kemauan. Ini yang membuat seseorang ogah-ogahan dalam menyelesaikan skripsi. Ini juga akan mempengaruhi psikologis mahasiswa,” terangnya.

Dia mencontohkan pada mahasiswa yang tertarik dengan tema pemikiran pendidikan. Namun, saat pengajuan judul lebih memilih tema berkaitan dengan pola pembelajaran. Akibatnya dalam proses penyelesaiannya, ia tidak menyeriusi skripsi yang dibuat.

“Ini tidak hanya satu atau dua orang mahasiswa saja yang saya temukan, tetapi banyak yang datang ke saya dan mengeluhkan skripsi yang mereka buat tidak sesuai dengan kemauannya,” kata Syamsul.

Menurunnya minat baca di kalangan mahasiswa juga menjadi kendala besar dalam proses penyelesaian skripsi. Banyak mahasiswa yang bergantung pada gadget yang dimiliki.

“Referensi yang mereka punya kebanyakan ingin yang instan. Padahal sesuatu yang instan itu bisa mengenyangkan tetapi belum tentu bergizi dan menyehatkan,” ujarnya mengingatkan.

Tidak hanya soal skripsi, banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas karena dikejar deadline. Akibatnya, timbul kesan bahwa pengerjaan karya tulis ilmiah hanya untuk memuaskan hati dosen, bukan untuk kepentingannya pribadi.

“Hasilnya, dia tidak belajar proses menulis yang seharusnya. Padahal proses menulis ini penting untuk memudahkan dia saat menyusun skripsi nanti,” paparnya.

Syamsul juga menyarankan agar menghindari penulisan skripsi asal cepat. Biasanya jika ingin cepat, orientasinya hanya nilai. Sementara kualitas skripsi itu tidak dipikirkan.

“Padahal bagusnya skripsi itu cepat tetapi berkualitas. Jika sudah dipersiapkan sejak awal, saya rasa tidak butuh waktu lama untuk membuat proposal sebab dia sudah siap dengan tema yang diangkat,” pungkasnya. **

 

Berita Terkait