Dikira Ngos-ngosan Biasa, Ternyata Aortanya Robek

Dikira Ngos-ngosan Biasa, Ternyata Aortanya Robek

  Rabu, 20 September 2017 10:00
OPERASI SULIT: Ismail bersama istri saat masih berada di ICU RSUD dr Soetomo. DWI WAHYUNINGSIH/JAWA POS

Berita Terkait

Surabaya Sukses Lakukan Operasi Jantung Paling Sulit 

Tim Bedah Jantung RSUD dr Soetomo Surabaya berhasil melakukan operasi jantung prosedur Bentall tanpa bantuan konsultan asing. Sungguh prestasi yang layak diacungi jempol. Sebab, operasi tersebut termasuk yang supersulit dan paling berisiko. 

Dwi Wahyuningsih, Surabaya.

Penyakit jantung bisa mengenai siapa saja, tanpa terkecuali. Termasuk buruh tani seperti Ismail yang tinggal di Desa Tunjung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Namun, penyakit lelaki berumur 46 tahun itu bukan penyakit jantung yang sering kita dengar seperti jantung koroner, klep jantung bocor, atau pembesaran jantung. 

Yang diderita Ismail jauh lebih parah dan lebih mematikan daripada semua jenis penyakit jantung. Yakni, aorta diseksi Stanford tipe A. Yaitu, robeknya pembuluh darah aorta. Itu adalah pembuluh darah terbesar yang berpangkal di serambi kiri jantung dan berujung di perut bawah.

Pembuluh darah itu bertugas mengirimkan darah bersih (darah yang sudah dimuati zat-zat nutrisi penting dan oksigen) ke seluruh tubuh. Aliran darah di aorta sangat deras. Karena itu, dindingnya berlapis tiga dan sangat tebal. Berbeda dengan dinding pembuluh darah balik atau vena, yang membawa darah ‘kotor’ dari seluruh tubuh kembali ke jantung untuk ‘dibersihkan’.

Berbeda dengan penyakit jantung yang lain, robeknya aorta sering tanpa gejala. Begitu gejala muncul, harus langsung diatasi. Jika tidak, akibatnya bisa fatal.

’’Begitu orangnya batuk, bersin, atau mengejan, bisa langsung meninggal,’’ kata dr Yan Efrata Sembiring SpB (K) TKV yang memimpin pembedahan terhadap Ismail pada pekan lalu.

Ismail mengaku tidak punya sakit jantung. Satu-satunya gangguan kesehatan yang pernah dikatakan dokter di Blitar kepadanya adalah darah tinggi. ’’Darah tinggi saya 140 (mmHg, Red). Pernah juga sampai 200 (mmHg, Red),’’ tuturnya.

Namun, sejak dua bulan lalu, dia merasa cepat lelah. ’’Baru nyangkul 10 menit saja sudah ngos-ngosan (terengah-engah, Red). Tapi, saya ndak mikir macam-macam,’’ ungkapnya.

Karena itu, semua orang di rumah Ismail panik ketika pria kelahiran 15 Mei 1971 itu tiba-tiba pingsan saat sedang bercengkerama dengan teman-teman yang juga tetangganya.

Ceritanya, Jumat siang, 28 Juli 2017 itu, seperti biasa sepulang dari sawah, Ismail ngobrol santai dengan tetangganya. 

Saat sedang asyik ngobrol, Ismail tiba-tiba pingsan. Berbagai upaya untuk menyadarkannya tidak berhasil.

Karena itu dia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan tempat tinggalnya.

Di sini pun ternyata dokter juga tidak berhasil 'membangunkan' Ismail. Sehingga mereka memutuskan untuk memberikan perawatan intensif.

Baru pada sekitar pukul 21.00 WIB, Ismail sadar. Tak lama setelah itu, dia merasakan nyeri yang hebat di dada kirinya.

’’Rasanya seperti ada dorongan yang kuat dan menyakitkan dari dalam dada. Sakitnya luar biasa. Dari dada, punggung, sampai perut. Saking sakitnya, saya sampai pingsan,’’ tuturnya.

Yang dirasakan Ismail itu merupakan gejala khas robeknya aorta. Karena posisinya yang berpangkal di jantung, nyeri yang paling terasa tentu di dada. 

Dari pangkalnya di jantung, aorta menjulur ke tubuh bagian bawah, sejajar dengan tulang belakang. Jarak antara aorta dan tulang belakang sangat dekat. Karena itu, Ismail merasakan nyeri yang hebat tersebut tidak hanya di dada, tetapi juga di sekujur punggungnya.

Melihat nyeri yang tidak biasa itu, dokter yang merawat Ismail memutuskan untuk merujuknya ke RSUD dr Iskak Tulungagung, yang tidak jauh dari Blitar tetapi memiliki fasilitas medis lebih lengkap.

Namun dokter di Tulungagung juga tidak sanggup mengatasi kondisi Ismail. Tetapi karena sudah terlalu malam, maka Ismail dirawat dulu di situ. Baru keesokan paginya, setelah dokter yakin kondisinya memungkinkan untuk perjalanan jauh, Ismail dirujuk ke RSUD dr Soetomo (RSDS) Surabaya dengan menggunakan ambulans.

Dalam pemeriksaan dengan echo cardiography di RSUD dr Soetomo, diketahui bahwa nyeri yang dialami Ismail disebabkan koyaknya dinding tengah aorta. Yang mengerikan, dokter menemukan bahwa koyakan itu terjadi di pangkal aorta (aorta asendens) yang menempel di jantung, di leher, dan di dekat ujungnya. Tepatnya di perut tengah. Dalam istilah medis, kondisi Ismail itu disebut aorta diseksi Stanford tipe A.

Artinya, Ismail harus segera dioperasi. Kalau tidak, apalagi kalau sampai dia bersin, mengejan, atau batuk, robekan tersebut akan semakin parah: hingga ke dinding terluar aorta.

Kalau itu terjadi, penderita akan mengalami pendarahan dalam yang hebat dan sulit dihentikan. Dalam hitungan 2–3 jam, penderita bisa meninggal.

Literatur menyebutkan, kondisi seperti Ismail itu lebih banyak dialami kaum pria, khususnya mereka yang memiliki riwayat darah tinggi dan merokok. Mengapa begitu? Tidak ada yang tahu secara pasti.

Meski Tim Bedah Jantung RSUD dr Soetomo Surabaya sudah terkenal sangat berpengalaman, untuk menangani Ismail, mereka harus berpikir 2–3 kali. Sebab, membetulkan aorta yang robek adalah pekerjaan yang sangat amat sulit. Dibutuhkan kehalian khusus dan peralatan canggih. Operasi jenis itu disebut operasi jantung dengan prosedur Bentall.

Karena yang koyak berada di titik-titik yang aliran darahnya paling kencang, operasi saja tidaklah cukup. Dibutuhkan graft khusus untuk mengganjal bagian-bagian yang koyak tersebut agar kelak tidak robek lagi. Tindakan pemasangan graft itu disebut Hemiarch Aorta Replacement. Itu juga bukan tindakan yang sederhana.

Selain peralatan dan keahlian ahli bedah jantungnya, kasus Ismail membutuhkan ahli-ahli lain yang memiliki kemampuan lebih dari sekadar bedah jantung. Antara lain, ahli bius (anestesi) yang bisa menjaga agar Ismail tetap hidup saat aliran darah di sekujur tubuhnya dihentikan. Juga, ahli perfusi yang bertugas mengoperasikan mesin pengganti jantung dan paru-paru.

Sekalipun dokter-dokter dengan kemampuan yang dibutuhkan itu bisa terkumpul dengan segera, mereka juga tidak bisa langsung mengerjakan tugas. Masing-masing perlu mempelajari kasus penyakit Ismail dengan cermat agar bisa mempersiapkan segalanya dengan baik sehingga operasi berhasil.

Hal lain yang membuat operasi Ismail tidak bisa dilakukan adalah ketersediaan graft buatan Amerika Serikat untuk aorta arc-nya yang harus didatangkan secara khusus karena yang membutuhkan tidak banyak. 

Seperti apa risiko dan kesulitan operasi Bentall serta pelaksanaan Hemiarch Aorta Replacement terhadap Ismail itu? Ikuti kelanjutan tulisan ini besok. (*)

--Foto: Ismail di kamarnya yang terbaru

Berita Terkait