Digital jadi Pilar UMKM

Digital jadi Pilar UMKM

  Selasa, 17 May 2016 11:05

Berita Terkait

Lonjakan teknologi di bidang informasi secara tidak langsung memaksa masyarakat Indonesia agar lebih siap dalam menghadapi segala kemudahan dan kekurangan yang ditawarkan. Masyarakat yang jeli, berlomba mendirikan perusahaan start up untuk ikut adu sikut dalam dunia industri kreatif digital yang menawarkan keuntungan yang menggiurkan.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

KESEMPATAN besar terbuka bagi setiap lapisan masyarakat agar mereka dapat menjadi pengusaha besar. Tak pandang jenis usaha atau pun besarnya modal, mulus tidaknya sebuah usaha bergantung pada ide kreatif dan  kemauan besar dari sang pengusaha.

Pengusaha pemula yang tidak memiliki modal berupa pengetahuan bisnis biasanya akan mulai mencari referensinya melalui buku atau pun cerita langsung dari pengusaha besar. Namun dalam praktiknya, tak banyak pengusaha muda yang harus pontang panting di awal usahanya.

Para pengusaha pemula yang kini sudah berani memaksimalkan usaha mereka masih memiliki banyak kekurangan terutama di bidang pemasaran. Walaupun produk sebuah usaha sudah dipercantik dengan berbagai warna yang menarik, semua itu tidak akan berhasil jika saja mereka tidak dapat memanfaatkan teknologi.

Pemasaran melalui media online menawarkan kemudahan lagi kenyamanan yang tak bisa dihindarkan. Masyarakat berlomba-lomba memanfaat teknologi untuk memajukan usaha mereka. Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah(UMKM) dengan modal kecil kini dapat membuka mata dengan indahnya kenyamanan dari dunia digital.

Berbagai bentuk usaha lahir dari pasar digital. Dari bentuk usaha kuliner, fashion, jasa dan bentuk usaha lainnya dengan apik memanfaatkan dunia digital sebagai pilar memulai usahanya. Belum lagi pemerintah Kota Pontianak yang semakin mendukung UMKM untuk memanfaatkan dunia digital.

Keinginan pemerintah kota untuk menggalakkan UMKM untuk menyentuh pasar online atau e-commerce sebenarnya sudah dijawab oleh beberapa perusahaan yang memusatkan bisnis mereka melalui internet. Situs-situs semacam oleh-olehpontianak.com dan pontienak.com telah muncul jauh sebelum pemerintah memusatkan perhatian pada perluasan pasar UMKM menuju dunia online.

Situs pontienak.com yang sudah aktif sejak 2014, mengamini peluang pasar oleh-oleh khas Kalimantan Barat. Usaha milik Eddy Setiawan, lebih menyasar pasar luar Pontianak yang dianggapnya lebih realistis ketimbang menunggu wisatawan datang ke Kota Khatulistiwa dan mengunjungi toko oleh-oleh. “karena Pontianak juga kan bukan tujuan wisata favorit,” ucapnya prihatin.

Namun ia terus berusaha untuk memasarkan segala makanan khas dan lezat khas Kalbar menuju pasar nasional. Menurutnya, pasar digital sekarang seakan memaksa para pengusaha agar lebih terbuka dan berani melihat peluang tersebut.

Serupa namun tak sama, usaha milik Steven Budianto dengan oleh-olehpontianak.com dan lempokduriansentosa.blogspot.com yang didirikannya sejak 2012 lalu. Semua bentuk penjualan yang dilakukannya murni lewat online. Tujuan utamanya pula adalah untuk memasarkan produk asli Kalbar yang semula hanya dimintai oleh teman sekantornya sebagai buah tangan saat ia bekerja di luar kota beberapa tahun lalu.

Menurutnya, dengan pasar online, selain dapat memberikan keuntungan baginya namun dapat membantu UMKM yang bekerjasama dengan dirinya. UMKM yang bekerjasama dengan toko online miliknya tetap diberikan kebebasan untuk memasarkan produknya ke tempat lain.

Proses pemasaran seperti ini selain dapat memberikan keuntungan buatnya juga dapat memakmurkan industri kecil yang dipasarkannya. “Mereka sekarang sudah bisa produksi besar,” katanya menceritakan UMKM Stik Talas yang menjadi produk andalan toko online miliknya.

Bentuk usaha konvensional dengan menjajakan produknya melalui toko fisik di Pontianak juga semakin mulai tertekan dengan pasar online yang telah muncul ke permukaan. Hanya saja mereka berani bertahan lantaran sudah yakin dengan pangsa pasar yang mereka tuju.

Sementara banyak pedagang yang sudah merasa nyaman dengan cara berjualan dengan cara lama itu, mulai tergiur dengan kemudahan berjualan lewat pasar digital yakni media sosial. Meidi, pemilik lokakarya Ulin House, sudah merasakan efekifnya promosi lewat mulut ke mulut para pelanggan yang puas akan produknya.

Namun Meidi menambahkan, ia sedang berbenah dan memperbaiki tampilan lokakarya pemanfaatan kayu bekas miliknya. Tampilan yang rapi dapat membuat pelanggan lebih nyaman dalam melihat dan memilih produk unggulannya.

Dalam waktu dekat pun dia berencana akan memuat katalog produknya di media sosial Instagram. “Kami sudah mengambil foto, tinggal nanti ditampilkan di instagram itu. Tapi sementara fokus ke lokakarya dulu” ucap Meidi yakin.

Pertumbuhan pasar digital di Pontianak khususnya, sepertinya tidak setinggi yang terjadi di pulau jawa. Menurut Marketing Communication Divison JNE, Mayland Hendar Prasetyo, terjadi ketimpangan lalulintas barang masuk dan keluar Pontianak. Barang masuk ke Pontianak berkisar pada 2 Ton perhari. Sedang barang yang masuk ke Pontianak dapat menyentuh hingga 6 Ton perhari.

Hal itu dapat terjadi karena Pontianak yang belum menjadi produsen yang dikejar pasar pulau jawa. JNE pun sudah berkomitmen untuk membantu UMKM di Kalbar khususnya dengan salah satu program unggulannnya. “Kami sudah memiliki rencana besar bagi UMKM Kalbar,” ungkapnya.

“Pasar digital di era teknologi ini sudah berhasil dimanfaatkan oleh pengusaha di Pontianak,” pujinya. “tetapi belum semuanya,” lanjutnya lagi. Masih banyak UMKM yang semestinya dapat memperluas pasar ke nasional, bukan hanya berkutat di pasar Kalbar saja.(*)

Berita Terkait