Digaji Rp3 Juta, Rela Tinggalkan Kampung Halaman

Digaji Rp3 Juta, Rela Tinggalkan Kampung Halaman

  Kamis, 4 Agustus 2016 09:58
PENJUAL BENDERA: Seorang pedagang atribut kemerdekaan seperti bendera dan lain-lain, terlihat sedang menunggui dagangannya. MUSTA’AN/PONTIANAK POST

Berita Terkait

 
Perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia setiap tahun mendatangkan rezeki bagi pedagang musiman atribut perayaan 17 Agutusan. Kendati tergolong kota kecil, Putussibau merupakan salah satu sasaran pedagang musiman dari luar daerah Kapuas Hulu. Mereka meraup untung dari hasil berjualan berbagai jenis atribut untuk memeriahkan HUT kemerdekaan republik ini.

MUSTA’AN, Putussibau

UMUMNYA para pedagang musiman ini datang dari Pulau Jawa. Mereka menggelar dagangannya di jalan-jalan protokol Kota Putussibau. Para pedagang ini datang ke Kabupaten Kapuas Hulu sejak satu minggu lalu. Mereka menjual atribut kebangsaan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Mereka mengaku rezeki dari berjualan bendera dan pernak-pernik lainnya sangat menguntungkan.

Tidak heran, setiap perayaan HUT kemerdekaan RI, mereka selalu datang ke Bumi Uncak Kapuas ini dan kabupaten/kota lainnya di Pulau Kalimantan. Mereka datang dari Jawa bersama rombongannya yang berjumlah 10 – 15 orang. Mereka ini menyebar ke setiap kabupaten termasuk Kapuas Hulu. Seperti Suhana, salah seorang rombongan asal Bandung, yang berjualan atribut 17-an di Putussibau.

Tahun lalu Suhana juga menggelar dagangannya di pinggiran Jalan Kom Yos Sudarso, persis di depan kantor Disperindagkop. “Ini yang kedua kalinya saya di Kapuas Hulu ini, sebelumnya tahun 2015,” tutur dia dengan dialek Sunda.

Dia bersama sebelas rekannnya yang menyebar di kabupaten/kota di Kalbar. “Dulu bos saya yang jualan di sini (Putussibau, Red). Beliau sudah delapan tahun jualan bendera bolak-balik ke sini,” tutur dia.

Dia mengaku menjual berbagai macam atribut kemerdekaan seperti bendera merah putih berbagai ukuran, umbul-umbul, bandir, becron, hingga asesoris kemerdekaan untuk kendaraan dengan harga yang ditawarkan beragam. Mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 400 ribu, tergantung dari kualitas dan ukuran bendera yang diinginkan. “Semakin besar dan bagus, semakin mahal harganya,” ucapnya.

Dia mengatakan, yang paling mahal itu adalah bandir yang biasanya ditaruh di sepanjang atas rumah, di mana harganya persepuluh meter kisaran Rp400 ribuan. “Memang mahal, karena bahannya bagus anti luntur juga," katanya.

Dalam sekali berjualan Suhana mengaku bisa menjual hingga 100 kodi atribut kemerdekaan dalam waktu kurang lebih 10 hari. Barang-barang tersebut semuanya dipastikan dia, bisa laku terjual.

"Tahun lalu saya dikirimi empat karung (100 kodi, Red) dari Bandung. Saya jualan sampai tanggal 6 Agustus sudah habis. Saya dapat bayaran Rp3 juta dari bos. itu udah bersih semua, karena kami kerja sistem gaji. Jadi biaya transportasi, kontrakan, uang makan, dan rokok ditanggung bos," jelasnya.

Pria yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang tambal ban di Kota Bandung ini mengaku sengat senang.

Penjual bendera lainnya yakni Aceng, juga sudah satu minggu berada di Kapuas Hulu. Setiap tahun ia menjual bendera ke Kapuas Hulu. "Jualan di sini lumayan hasilnya," aku dia.

Dia mengatakan ada beberapa macam pernik HUT RI yang dijualnya dengan berbagai ukuran dan harga bervariasi. Di antaranya umbul-umbul seharga Rp25 ribu, background Rp300 ribu, dan bandir serta berbagai atribut lain. "Saya optimis tahun ini penjualan bendera ini bisa meraup untung seperti tahun lalu," kata dia.

Walaupun, kata dia lagi, kondisi berjualan tahun ini tidak seperti tahun lalu, karena ekonomi warga Kapuas Hulu masih lesu. Namun demikian, penjualan, diakui dia, tetap bisa berjalan dengan baik. Permintaan dari pembeli setiap harinya, menurut dia, tetap banyak, walaupun tak seramai dari tahun-tahun sebelumnya.(*)

Berita Terkait