Digagas Oleh Tiga Orang

Digagas Oleh Tiga Orang

  Rabu, 24 Agustus 2016 09:16
MANGROVE : Kepala Kantor Perwakilan BI Kalimantan Barat, Dwi Suslamanto secara simbolis menyerahkan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) dan bibit mangrove

Berita Terkait

MEMPAWAH- Empat tahun silam pada 14 Desember 2011, terbentuklah Mangrove Conservation (MMC). Penuh halangan dan rintangan, tiga orang pemuda perintis MMC berjuang mengkampanyekan gerakan konservasi mangrove.

Berawal dari tiga orang ‘gila’ itulah, Kabupaten Mempawah memiliki tempat wisata baru bernama Mempawah Mangrove Park (MMP).

 “Mendirikan organisasi untuk konservasi mangrove itu ternyata tidak mudah. Mulai dari cacian, cemoohan bahkan dikatakan gila pun sudah biasa kami terima. Masyarakat bahkan teman dekat mengganggap kami (MMC) kurang kerjaan,” kenang Ketua MMC, Raja Fajar Azansyah dalam acara peresmian MMP di Taman Makan Pahlawan Putra Bangsa, Desa Pasir, Selasa (23/8) pagi.

Dulu, lanjut Fajar, dia dan kedua rekannya harus kerja keras mengkampanyekan gerakan konservasi mangrove. Berbagai cara pun dilakukan, salah satunya mendatangi sekolah-sekolah untuk terlibat dalam aksi penyelamatan kawasan pantai dengan menanam mangrove.

 “Ketika itu, kami seperti sales. Datang ke sekolah-sekolah mencari massa dan dukungan untuk menanam mangrove. Tetapi semua itu tidak membuat kami lemah, justru semakin tertantang dan semangat. Berawal dari tiga orang gila inilah, sekarang MMC sudah memiliki lebih dari 500 mangrove volunteers,” ungkap Fajar.

Dalam kegiatan konservas tersebut, Fajar mengatakan, tidak hanya dipusatkan di Desa Pasir saja. Namun, aktivitas konservasi secara aktif dilaksanakan pada empat desa lainnya di Kabupaten Mempawah. Yakni, Desa Purun Keci, Desa Sungai Bakau Besar Laut, Desa Sungai Bakau Kecil dan Desa Penibung.

 “Dalam melaksanakan pekerjaan ini, kami tidak sendirian. Banyak dukungan dari para donator, pemerintah daerah dan provinsi yang mendukung aktivitas MMC. Termasuk dukungan teman-teman media yang kerap mempublikasikan kegiatan kami,” ujarnya.

Kini, Fajar mengaku bersyukur mimpi besar MMC untuk mendirikan MMP telah terwujud. Berkat dukungan dari pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat, khususnya BI Perwakilan Kalimantan Barat yang telah menyalurkan bantuan hingga MMP bisa direalisasikan di Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir.

 “Diatas lahan 2 Ha ini, kami membangun 300 meter track, ada juga playground anak-anak, toilet umum dan delapan unit kano. Walau masih banyak kekurangan, namun kami meyakini pembangunan ini sebuah embrio kecil dan awal untuk sesuatu yang besar,” pendapatnya.

Lebih jauh, Fajar mengutarakan niatnya untuk mendapatkan regulasi payung hukum dari pemerintah daerah. Tujuannya untuk melindungi kawasan hutan mangrove diwilayah itu dari segala bentuk ancaman pengrusakan.

 “Harus kita fikirkan bersama supaya ada regulasi hukum. Baik itu dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda), Peraturan Bupati (Perbup) atau Peraturan Desa (Perdes). Khusus di Desa Sungai Bakau Kecil, Perdes perlindungan kawasan mangrove sudah disahkan sejak awal 2016 lalu,” paparnya.

Kedepan, Fajar mengharapkan dukungan dan kerjasama dari seluruh pihak. Terutama elemen masyarakat setempat untuk berperan aktif membangun, mejaga dan memelihara MMP. Agar, keberadaan MMP semakin maju dan berkembang serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan pengunjung.

 “Semoga MMP terus berkembang menjadi destinasi pariwisata favorit di Kabupaten Mempawah khsusnya dan Kalimantan Barat umumnya,” harapnya mengakihiri.(wah)

Berita Terkait