Diduga Idap Skizofrenia

Diduga Idap Skizofrenia

  Sabtu, 27 February 2016 08:16
Gambar dari Internet

Berita Terkait

PONTIANAK - Direktur Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalbar di Kota Singkawang, Bumbunan Sitorus memberikan komentar terkait kasus mutilasi dengan pelaku Brigadir Petrus Bakus yang diduga mengidap skizofrenia.

Dia mengatakan, akan susah dipastikan seperti apa gangguan jiwa yang diderita tanpa melihat pelaku secara langsung. Karena itu dia hanya bisa memaparkan hal-hal yang terkait dari penyakit skizofrenia ini.   Menurutnya skizofrenia termasuk dalam penyakit gangguan jiwa berat. Gangguan jiwa ini biasanya sudah terjadi cukup lama, minimal di atas enam bulan baru bisa mencapai tingkat skizofrenia. "Artinya paling tidak ada proses yang terjadi selama enam bulan atau lebih hingga penderita bisa melakukan tindakan berbahaya bahkan membunuh," ujarnya kepada Pontianak Post, Jumat (26/2).

Jika dalam kejadian ini penderita adalah anggota kepolisian, dia memperkirakan gangguan jiwa tersebut mungkin terjadi setelah penderita terdaftar. “Jika dari awal sudah sakit pastinya tidak akan diterima,” ucapnya.Seharusnya selama perjalanan menuju gangguan skizofrenia, lebih dulu dapat didiagnosa. Dia mengatakan sebelum penderita mengalami halusinasi tentu banyak gejala yang mendahului. Tanda dan gejala yang dialami oleh penderita skizofrenia memang hampir sama dengan tanda dan gejala dari penyakit mental lainnya. Semisal sering menyeringai, tertawa sendiri, tidak bisa atau tidak mampu mengikuti petunjuk dan lain-lain.

Dalam kasus ini bisa dikatakan sudah terjadi pembiaran. Dia memprediksi pihak keluarga atau orang terdekat tentu sudah dapat melihat gejala-gejala tadi. Faktor waktu sangat penting, karena sesuai dengan fungsi kedokteran jika dilakukan diagnosa sejak awal tentu akan lebih baik atau mudah disembuhkan.“Biasanya ada kecenderungan orang-orang di daerah justru lebih percaya orang pintar untuk mengobati gangguan jiwa. Ditambah di sana tidak ada ahlinya (spesialis jiwa) sehingga bisa saja terabaikan,” terangnya.

Jenis skizofrenia juga terbagi dari beberapa subtipe. Salah satunya paranoid, yang mirip terjadi dalam kasus ini. Di mana orang yang mengalaminya akan sering berkhayal dan mengalami halusinasi, biasanya pada pendengaran. Penderitanya sering mendengar suara-suara pada telinganya, padahal suara itu tidak didengarkan oleh orang lain. Namun, fungsi intelektual dari penderitanya biasanya relatif normal.

Halusinasi pendengaran memang paling mudah terjadi dibanding penglihatan. Dia mencontohkan untuk halusinasi penglihatan, bisa saja si penderita melihat orang justru seperti binatang lalu dibunuh. Sementara untuk pendengaran ada bisikan-bisikan yang menyuruh membunuh.Untuk tingkatan terjadinya halusinasi terbagi dari empat fase. Pertama penderita mengalami perasaan mendalam seperti pada ansietas, kesepian, rasa bersalah dan takut serta mencoba fokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. “Di sini pasien bisa tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam, dan asik sendiri,” ujarnya.

Pada fase kedua pengalaman sensori semakin menjijikkan dan menakutkan, pasien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya. Di fase ketiga penderita akan menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah. Di sini penderita akan susah berhubungan dengan orang lain.Lalu pada fase yang keempat atau terakhir, pengalaman sensori menjadi mengancam jika penderita mengikuti perintah halusinasi. Di sini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu merespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu merespon lebih dari satu orang. “Kondisinya sangat membahayakan,” katanya.

Penyebabnya, penyakit ini dapat terjadi akibat unsur kimia pada otak bermasalah, termasuk neurotransmiter dopamin dan glutamat. Selain itu, para peneliti juga percaya bahwa faktor genetika dan lingkungan turut berkontribusi dalam perkembangan penyakit ini.Namun, ada beberapa faktor yang tampaknya dapat meningkatkan risiko timbul dan berkembang, seperti kondisi hidup yang penuh stres, sering mengonsumsi obat psikoaktif selama masa remaja dan dewasa muda, serta sering terkena paparan virus, racun, atau kekurangan gizi selama masa kehamilan, khususnya pada trimester pertama dan kedua. “Stres urusan pekerjaan misalnya bisa saja jadi penyebab,” pungkasnya.

Direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong, Pontianak Feery Safariadi menjelaskan, skizofrenia merupakan penyakit jiwa umum atau bahasa awamnya orang gila. Skizofrenia berasal dari bahasa Inggris yang berarti pikiran yang terbelah. Maksud dari terbelah adalah tersisipi atau terpengaruh, baik pengaruh dari luar yang bisa berbentuk bisikan, halusinasi bisa juga fikiran dari dalam dirinya sendiri, seperti paranoid atau kecurigaan yang berlebihan.

Menurut Feery, pikiran yang berterbelah ini berbeda dengan kepribadian yang terbelah. Jika kepribadian yang terbelah, sifat dasarnya yang berbeda. Sedangkan  Schizophrenia, sifat dasarnya tetap, hanya pikirannya yang terpengaruh.Dijelaskan Feery, skizofrenia ditandai adanya waham (kepercayaan yang salah), misalnya waham curiga. Orang yang menderita skizofrenia merasa curiga yang berlebihan. Misalnya, penderita ini menaruh curiga terhadap seorang disekitar dia akan membunuhnya. Padahal orang itu biasa-biasa saja. Akhirnya mengalami ketakutan dan paranoid. "Halusinasi ini bisa berupa visual dari pandangan mata, maupun halusinasi auditorik (bisikan).  "Orang dikatakan menderita skizofrenia jika gejalanya menetap selama selama satu bulan dan berlangsung secara terus menerus," kata Feery.  

Menurutnya, efek dari gangguan skizofrenia bisa melakukan apa saja, termasuk melakukan pembunuhan, mutilasi, memukul, membakar dan lain-lain di luar kendali dan nalar manusia pada umumnya. "Makanya penderita Schizopheria dampak sosialnya akan sangat besar dan berpengaruh. Karena terjadi terhadap orang-orang di sekitarnya," terangnya.

Kendati demikian penderita skizofrenia bisa disembuhkan, baik melalui metode obat maupun terapi psikososial. "Penderita ini sebaiknya jangan dijauhi. Karena jika dijauhi atau diasingkan maka penyakit ini akan menetap pada diri penderita," lanjutnya.

Menurut Feery, gangguan skizofrenia muncul secara tiba-tiba. Seperti halnya saat yang bersangkutan mendaftar polisi dan tidak terdeteksi. "Gangguan ini muncil tiba-tiba. Bisa saja saat itu dia normal, dan kemudian berubah. Tergantung faktor pencetusnya. Mungkin pencetusnya sangat besar, sehingga menyebabkan pikirannya sampai terbelah," katanya. "Skizofrenia yang akut, biasanya itelegensinya masih bagus, kesadarannya bagus, itu yang membedakan dengan gangguan jiwa yang lain," jelasnya. (bar/arf)

Berita Terkait