Didominasi Kasus Prostitusi

Didominasi Kasus Prostitusi

  Selasa, 28 June 2016 09:30

Berita Terkait

PONTIANAK - Operasi penyakit masyarakat selama Ramadan berhasil mengungkap berbagai kasus mulai dari perjudian, narkotika, prostitusi, premanisme, petasan, hingga minuman keras. 

Tujuh kasus yang menjadi target kepolisian selama operasi pekat berlangsung berhasil diungkap, perjudian dari empat kasus yang ditargetkan polisi berhasil mengungkap sebanyak 13 kasus dengan jumlah tersangka sebanyak 39 orang. Narkotika, tiga kasus yang ditargetkan sebanyak lima kasus berhasil diungkap dengan jumlah tersangka sebanyak tujuh orang. 

Kasus prostitusi, polisi berhasil mengungkap 29 kasus dari 15 target dengan jumlah pelaku sebanyak 58 orang, 38 pelaku dikenakan tindak pidana ringan sementara 40 orang lainnya mendapat pembinaan dan penyuluhan. Premanisme 16 kasus terungkap dari sepuluh kasus yang ditargetkan, sebanyak 18 tersangka berhasil ditangkap. 

Kasus lainnya, yakni penjualan petasan sebanyak 11 kasus terungkap, sebelas penjual mendapat pembinaan dan penyuluhan sementara kasus minuman keras dari empat kasus polisi berhasil mengungkap 17 kasus dengan satu orang tersangka ditangkap, 16 orang penjual mendapat pembinaan dan penyuluhan. Secara keseluruhan selama operasi pekat polisi berhasil mengungkap 91 kasus dengan jumlah tersangka sebanyak 65 orang, pelaku 58 orang dan 27 orang penjual. 

Dari operasi itu pula polisi berhasil menyita sejumlah barang bukti. Untuk kasus judi barang bukti yang diamannkan diantaranya uang tunai kurang lebih Rp17 juta, kartu remi boks, kartu domino, dan kertas rekapan judi kupon putih (togel). Narkotika barang bukti yang disita diantaranya paket narkotika, alat isap, mesin timbang. 

Premanisme dari tangan tersangka ditemukan telepon genggam, sepeda motor, alat elektronik, surat-surat kendaraan, ATM dan lain-lain. Pada kasus petasan delapan dus kembang api disita sementara untuk minuman keras polisi menyita arak dan berbagai macam minuman keras. 

Kapolresta Pontianak, AKBP, Iwan Imam Susilo, mengatakan operasi pekat yang dilaksanakan kepolisian selama hampir sebulan adalah dalam rangka mewujudkan cipta kondisi untuk menghadapi pelaksanaan Idulfitri. “Alhamdulillah berkat kerja sama anggota di lapangan dengan instansi pemerintah, pengungkapan kasus melebihi target yang ditentukan,” kata Iwan, Senin (27/6). 

Iwan menjelaskan, dalam operasi pekat tersebut pengungkapan kasus terbanyak ada pada kasus prostitusi. Banyak ditemukan pasangan di luar nikah yang berada berdua-duaan di dalam kamar hotel maupun indekos. 

“Ini harus menjadi pekerjaan rumah semua pihak, bagaimana ke depan kasus ini tidak terulang. Minimal hotel dan indekos tidak hanya memikirkan keuntungan tapi juga harus selektif menerima tamu atau calon penghuni,” ucapnya. 

Untuk kasus narkotika, lanjut dia, dari hasil analisis kegiatan yang dilakukan setidaknya ada beberapa kawasan di Pontianak yang dianggap sangat rawan menjadi tempat peredaran narkotika, diantaranya Kampung Dalam Bugis (Beting), Kecamatan Pontianak Timur dan Jalan KomYos Sudarso, Kecamatan Pontianak Barat. “Kos-kosan pun sudah menjadi sasaran peredaran barang haram itu, ini perlu diantisipasi agar generasi bangsa ini tidak hancur dan dirusak,” tuturnya. 

Wali Kota Pontianak Sutarmidji mengatakan bahwa pemerintah mengapresiasi operasi pekat yang dilakukan kepolisian karena mampu mengungkap berbagai kasus penyakit masyarakat yang meresahkan. “Pemerintah mendukung, salah satu buktinya, jika dulu tipiring hanya dikenakan kepada pasangan di luar nikah yang ketangkap sekarang pemilik kosnya pun dikenakan tipiring,” kata Midji. 

Sementara untuk Beting, Midji mengatakan pemerintah telah berupaya untuk melakukan penataan kampung itu mulai tahun ini sampai dengan 2019. Diharapkan dari penataan itu dapat merubah pandangan negatif. 

“Walaupun operasi Pekat sudah berakhir, kami pemerintah akan melanjutkannya dengan melaksanakan razia sesering mungkin,” tegas, Midji. (adg)

Berita Terkait