Didik Anak untuk Siap Bersaing Secara Global

Didik Anak untuk Siap Bersaing Secara Global

  Rabu, 28 Oktober 2015 09:21

Oleh : Marsita Riandini

Pemuda adalah salah satu tonggak sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia. Ada tiga butir penting Sumpah Pemuda, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu. Sesuai namanya, Sumpah Pemuda dirumuskan oleh para pemuda bertepatan tanggal 28 Otober 1928.

Sumpah Pemuda dijadikan sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme membela tanah air. Para pemuda berjuang bersama-sama untuk merebut kemerdekaan bangsa ini. Lantas bagaimana dengan penerapan Sumpah Pemuda di masa kini? Menanggapi hal ini, Yandi Algresto Chow mengatakan bahwa pemuda saat ini harus siap dan tanggap dalam menghadapi persaingan global. Sebab kata dia, tantangannya bukan lagi perang senjata melainkan pengetahuan dan wawasan. “Pemuda masa kini harus lebih siap dan tanggap. Mereka harus membangun kualitas diri dan secara professional untuk menghadapi tantangan masyarakat ekonomi ASEAN,” ujar tokoh pemuda yang pernah meraih gelar I’m a President tingkat nasional ini.

Kenapa harus siap menghadapi MEA? Jawabannya lanjut dia, karena Negara lain sudah siap untuk menghadapinya. Sementara jika bangsa Indonesia belum siap tentulah para pemuda akan berada jauh dibelakang generasi muda di Negara lain. “Kita sekarang ini baru bicara pertahanan, belum bicara ekspansi. Ini yang harus diantisipasi,” jelas Yandi yang juga Anggota DPRD Kota Pontianak ini.

Hal penting yang harus ditanamkan adalah kesadaran bangsa ini untuk bersaing. “Perlu adanya kesadaran bangsa jika ingin menjadi bagian dari dunia internasional. Pantaskan diri sebagai bangsa yang akan menyongsong kehidupan yang lebih luas. Bangun integritas, jati diri dan wawasan lebih baik. Jangan takut untuk menghadapinya. Ibarat kata, kita tidak boleh mengeringkan air sungai, tapi belajarlah berenang. Ketika dilempar kemana pun tetap bisa mengarunginya,” bebernya.

Saat ini kata dia, kita sudah melewati fase menghadapi persoalan bangsa terkait dengan keragaman budaya dan bahasa. Sebab menurutnya, itu sudah menjadi jiwa raga menjunjung persatuan dan kesatuan. “Kalau masih berkutat pada persoalan tersebut, kita akan kembali ke belakang,” timpalnya. Generasi muda harus bisa memanfaatkan potensinya untuk bersaing secara global. Terutama mampu memanfaatkan kemajuan teknologi ke arah yang positif. “Berdayakan teknologi itu untuk kebaikan, sehingga mereka mampu bersinergi dengan teman-teman dan sejajar dengan bangsa lainnya,”pungkas dia. **