Didiek Pangestu Hadi, Dokter Penggiat Lari di Pontianak

Didiek Pangestu Hadi, Dokter Penggiat Lari di Pontianak

  Rabu, 7 February 2018 10:00
SEMANGAT: Didiek (kanan) bersama anggota komunitas Indorunners menyusuri Kota Pontianak.

Berita Terkait

Medali FM Pertama Buat Anak

Berprofesi sebagai dokter, Didiek Pangestu Hadi punya beban memberi contoh gaya hidup sehat kepada pasiennya. Dia ikut membidani berdirinya komunitas Indorunners Pontianak. Pada November 2017, dia berhasil menyelesaikan full-marathon pertamanya.

------

OLAHRAGA bukan hal baru bagi Didiek. Sejak kecil, dia aktif bermain sepak bola, sepeda, dan lari. Belakangan juga futsal. Ayahnya yang juga berprofesi sebagai dokter selalu mengajak ibunya untuk berolahraga jalan kaki rutin setiap pagi. 

’’Beliau berdua menjadi panutan saya untuk berolahraga. Terlebih, di usia yang memasuki kepala tujuh ini, kedua orang tua saya masih sehat tidak ada sakit apa pun,” tutur Didiek.

Pria 36 tahun itu mengungkapkan, di antara semua olahraga yang dijajal, dirinya paling suka dengan lari. Menurut dia, lari merupakan olahraga yang mudah, efisien, dan murah. Sebab, lari dapat dilakukan di mana pun dan kapan pun. Tak seperti olahraga lain yang membutuhkan lapangan atau rival untuk bertanding. 

Bukan hanya itu, Didiek yang juga berprofesi sebagai dosen menekuni lari agar dapat memberikan contoh pola hidup sehat bagi para pasien maupun mahasiswanya. Dia tidak suka hanya berbicara mengenai teori lari dan manfaatnya tanpa praktik di kehidupan nyata. Didiek juga aktif membagikan aktivitas olahraganya di semua media sosial miliknya. 

’’Saya ingin setiap orang yang melihat jadi termotivasi. Walaupun saya tidak menyuruh secara langsung, orang dapat melihat pola hidup yang saya terapkan,” terang alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu. 

Ketika bekerja sebagai dokter umum di salah satu rumah sakit swasta di Pontianak, Didiek selalu menyarankan pasiennya untuk mencoba berolahraga rutin dengan berlari. Menurut dia, terapi nonmedis yang paling tepat bagi para pasiennya adalah aktivitas fisik.

Didiek bergabung dengan komunitas Indorunners Pontianak. Komunitas yang dibentuk Ais Fitaloka dan Diar Andihafsari tersebut baru berdiri awal 2013. Didiek termasuk pionir karena menjadi member angkatan pertama. ’’Saya hobi lari dan komunitas ini satu-satunya wadah buat pelari di sini (Pontianak),” ujarnya. 

Indorunners Pontianak memiliki tiga agenda rutin setiap minggu. Yaitu, Thursday Night Run 5K, Saturday Long Run 10K, dan Sunday Morning Run 5K. Setiap minggunya titik kumpul untuk start finis komunitas tersebut berbeda-beda. Bisa di Tugu Digulis, Masjid Mujahidin, atau Alun-Alun Kapuas. Dalam waktu dekat, Didiek dan Indorunners Pontianak akan ramai-ramai ikut Jogja Marathon pada 15 April 2018 yang mengambil lokasi start dan finis di Candi Prambanan.

Didiek yang saat ini menjalani pendidikan di Magister Ilmu Kesehatan Olahraga Universitas Airlangga Surabaya lebih memilih berjalan kaki dari tempat tinggalnya ke kampus. Jarak dari tempat tinggalnya ke kampus sekitar 3,5 km. Dalam seminggu, biasanya dia berlari 3–4 kali. Apabila jadwal luang, Didiek bisa saja menyempatkan berlari setiap hari. ’’Lari bukan kewajiban, tapi keharusan,” ucapnya. 

Menjadi penghobi olahraga lari sejak kecil, Didiek berprinsip listen to your body. Apabila tubuhnya dalam keadaan fit, dia akan berolahraga secara rutin. Sebaliknya, jika tubuhnya dalam kondisi menurun, tentu dia tak akan memaksakan diri untuk berlari. Sebab, bagi dia, ada dua tujuan lari, yaitu rekreasi dan kesehatan, bukan prestasi. Menurut pria berkacamata itu, selama olahraga dilakukan dengan cara dan teknik yang benar, manfaatnya akan terasa bagi tubuh. 

Dokter kelahiran Pontianak itu tak pernah melewatkan setiap event lari yang ada di Pontianak dan sekitarnya. Dia sering mengikuti race 5K dan 10K. Yang terbaru, Didiek mengikuti Jawa Pos Fit East Java Marathon 2017 kategori full-marathon (42,195 km). Itulah race tempat Didiek melepas status sebagai virgin marathoner. Catatan waktunya lumayan untuk seorang pemula, 5 jam 44 menit 43 detik. 

Maraton di Suramadu adalah FM pertamanya dengan persiapan minim tapi sekaligus menjadi race spesial. Medali penamat yang diraihnya dipersembahkan untuk putri kecilnya, Dzakiyya Khaira Sakhi, yang berulang tahun tiga hari menjelang perlombaan berskala internasional itu. (feb/c17/tom)

Berita Terkait