Diberi Nama Nyapar, Dioperasikan Lewat Remote Control

Diberi Nama Nyapar, Dioperasikan Lewat Remote Control

  Kamis, 24 March 2016 17:45
MENYEMPROT: Tri Darmawan mensimulasikan Nyapar, alat pemadam karhutla teknologi sekat basah di halaman Fakultas Kehutanan Untan. AGUS PUJIANTO/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Awal 2016, Pemerintah berbenah menyambut kedatangan tamu musiman. Kebakaran lahan dan hutan, begitulah tamu itu jamak diucapkan. Begitupula dengan akademisi. Nyapar, digadang-gadang mampu memadamkan api di lahan gambut. Bagaimana model dan cara kerjanya?

AGUS PUJIANTO, Pontianak

 

“INI bagi yang tahan api,” kata Tri Wibowo mengangkat nozzle jet type alat pemadam api yang terpisah dari hydrant fire system rakitan ini bagian dari teknologi ciptaan Fakultas Kehutanan yang bekerjasama dengan Fakultas Teknik, Jurusan Industri, Untan.

Ciptaan teknologi ini dinamakan Nyapar. Sesuai dengan permintaan Gubernur Kalimantan Barat Cornelis. Nama itu sendiri mempunyai arti teknologi sekat basah berupa alat untuk pemadam api di lahan gambut. “Rencananya ke depan, alat ini pakai remot,” kata Tri membocorkan rancangan.

Nyapar merupakan nama dari seluruh bagian alat pemadam kebakaran api lahan gambut. Bentuk keseluruhan teknologi ini, menyempurnakan hydrant monitor hand operated. Bedanya, teknologi rakitan Fakultas Kehutanan tidak digerakkan dengan tangan, akan tetapi menggunakan motorik khusus.

“Alat ini dirancang mandiri, lebih efisien,” kata Tri yang juga bagian dari Tim Perakit Alat dari Fakultas Teknik, Jurusan Industri, Untan.

Motorik yang ditempel dirakitan hydrant pilar akan berfungsi ketika tekanan air deras. Jika tidak, dipastikan nozzle tidak akan memutar.

Mesin penyedot air, juga tidak biasa. Maksimal, menggunakan mini striker yang mampu menyuplai air dengan tekanan tinggi. Sehingga dorongan air menggerakkan motorik dan membuat nozzle berputar hingga 180 derajat. “Kalau tekanan air rendah, tidak bisa mutar,” kata Tri memastikan.

Gagasan alat kebakaran dengan menerapkan prinsip sekat basah, dengan tujuan aman dan fleksibel untuk dibawa ini, ada tiga fungsinya.

Mode dynamic water canon, dapat menyemprot air melalui hydrant yang tersambung dengan nozzle sejauh 30 sampai 40 meter. Mode ini bisa bergerak sendiri dengan motorik berdasarkan tekanan air.

Water gun, mode ini lebih kepada tenaga manual. Keleluasaan dalam menentukan arah semprot menjadi pertimbangan dalam pola ini.

Sementara sprinkle blast di khususnya penggunaanya untuk spesifikasi lahan gambut. Nozzel yang dirancang sedemikian rupa bisa menyemprotkan air dari beberapa lobang yang sudah disediakan. Cara kerjaanya, sprinkle ditancapkan ke dalam lahan gambut dengan ketebalan hingga dua meter.

Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Gusti Hardiansyah mengungkapkan, latar belakang penciptaan teknologi ini, berawal dari keprihatinan kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) di Kalbar.

Berkaca pada kasus Karhutla tahun 2015, dalam empat bulan, Indonesia telah menyumbang asap, hingga menyebabkan beberapa negara lain terkena imbasnya.

“Kami prihatin akan hal ini. Selama empat bulan, Indonesia mengekspor asap. Apalagi, Presiden Jokowi menyatakan, apabila Karhutla masih terjadi lagi, jajaran Kementerian akan diganti. Untuk itu, kami dari perguruan tinggi peduli, dan turut membantu dengan menciptakan teknologi ini,” kata Gusti.

Kebakaran gambut tahun lalu juga bukan saja menimbulkan asap pekat. Dari emisi karbon, juga meningkat. Bahkan, lokasi yang ditargetkan Susilo Bambang Yudhoyono, kata Gusti, sudah pecah. “Selama 4 bulan, lapisan gambut diatas terbakar. Emisi karbon meningkat sekali. Mudah-mudahan dengan alat ini kita semakin peduli dan menyayangi sumber daya gambut,” terangnya.

Diungkapkan pula, selama empat bulan dari banyak lapisan gambut di atas terbakar. Untuk itu, harus ada kebijakan pemerintah dalam rangka konservasi gambut.  “Kalau kami hanya melakukan tindakan pencegahan dan sedikit tindakan mengatasi, susah. Karena kalau sudah terbakar tak ada yang bisa mengobati, biar ada helikopter yang mahal, pasti kami harus pasrah,” ungkapnya.

Teknologi sekat basah ini, jelas Gusti, sebenarnya mengambil dari kearifan local masyarakat Kalbar dalam sistem perladangan. Seperti misalnya jika masyarakat adat ingin membuka lahan, tentu akan mempertimbangkan segala hal. Mulai dari izin dengan tetua,menentukan lokasi. Dan sebelum mulai membakar, warga sudah menyekat terlebih dahulu, agar bara api tidak merembet.

“Konsepnya buat sekat. Sama, teknologi sekat basah juga membuat sekat. Tapi membasahi bagian gambut yang terbakar,” terang Gusti.

Gusti juga menyatakan, jika alat ini penting, paling tidak untuk skala pencegahan. Menurutnya, Karhutla di Kalbar bukan hanya masalah yang harus diselesaikan oleh Pemda, namun juga akedemisi dan Mahasiswa. Sebab, menjawab ini, konteks Tri Dharma Perguruan tinggi, menutut untuk turut berpartisipasi aktif dalam pencegahan Karhutla.

Diungkapkan pula, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Gubernur dan BPBD juga Kehutanan. Ini kata Gusti juga sudah diusulkan di Pergub supaya kalau ini layak terap di lapangan tentu kami berharap perusahaan bisa memesan.

“Ini sudah sekala produksi karena kita memggunakan tenaga profesional di kampus dari Mahasiswa praktik kita berharap bisa bekerjasama dengan Manggala Agni untuk membentuk mahasiswa peduli api. Kami juga menerima masukan terkait alat ini. kalau ada masukan kontruksi kami siap perbaiki, sampai tahap ini, ini yang terbaik,” tukasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kalbar, TTA Nyarong mengapresiasi teknologi yang tengah dirancang oleh Fakultas Kehutanan. Meski demikian, alat tersebut masih perlu di uji coba, sebelum akhirnya bisa digunakan secara massal.

“Mereka (Fakultas Kehutanan Redd) sudah koordinasi dengan kami. Nanti saya coba undang Dekannya untuk menjadi narasumber. Mensososialisasikan teknologinya kepada dunia usaha dan kelompok instansi terkait. Apabila sukses dan memenuhi syarat dan bisa diterapkan di lahan gambut, tentu segera akan kami rekomendasi,” kata Nyarong.

Diungkapkan pula, sosialisasi teknologi sekat basah berupa alat untuk pemadam api di lahan gambut akan di gelar awal April mendatang. Selain mengundang beberapa instansi terkait, pihaknya juga akan mengundang Menteri Kehutanan. (*)

 

 

 

 

Berita Terkait