Di Kerinci Bertutur tentang Teh Nomor Satu di Dunia

Di Kerinci Bertutur tentang Teh Nomor Satu di Dunia

  Kamis, 14 April 2016 09:01
DI SEMERU: Dari kiri, Anggi Frisca, Rivan Hanggani, Yohanes Pattiasina, Jogie Kresna, Wihana Erlangga, dan Teguh Rahmadi. AKSA 7 FOR JAWA POS

Berita Terkait

Aksa 7 menggarap film dokumenter tentang tujuh puncak di tanah air yang tak hanya bercerita tentang pendakian. Menyelipkan unsur sosial, budaya, ekonomi, religi, dan edukasi. 

Nora Sampurna, Jakarta

TEORI yang diyakini Anggi Frisca itu terbukti tepat pada malam sebelum keberangkatan ke Maluku. Dia dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Aksa 7 mendapat kucuran donasi dalam jumlah besar. 

Ekspedisi ke Gunung Binaiya di Pulau Seram, Maluku, pun akhirnya terlaksana pada 28 November tahun lalu. Binaiya menjadi puncak keenam dari tujuh puncak gunung di tanah air yang perjalanannya mereka dokumentasikan jadi sebuah film dokumenter.  

”Saya percaya teori mestakung. Ketika kita benar-benar berusaha untuk tujuan yang besar, semesta mendukung,” ungkap Anggi saat ditemui di area Indonesia Outdoor Festival (Indofest) 2016 di Istora Senayan Rabu malam lalu (6/4).

Semua bermula dari perjalanan Anggi ke Nepal pada 2014. Persisnya ke Island Peak, salah satu puncak Himalaya, di ketinggian sekitar 6.100 mdpl (meter di atas permukaan laut). 

Berbekal kamera dan laptop, selain perlengkapan pendakian tentunya, itulah untuk kali pertama Anggi melakukan perjalanan jauh. Dan hanya sendirian.  Pulang dari Nepal, perempuan kelahiran Bandung tersebut merasakan ada dorongan kuat dari dalam diri. ”Ada suara-suara hati yang keluar, koreksi diri dan pelajaran yang didapat dari setiap perjalanan,” ungkapnya. 

Dari situ muncul gagasan untuk membuat film dokumenter tentang perjalanan ke tujuh puncak gunung di tanah air. ”Spiritnya bahwa dalam pendakian, bukan gunung yang ditaklukkan, tapi menaklukkan diri sendiri,” tutur sinematografer di film Tanah Surga… Katanya, Mata Tertutup, dan Sagarmatha itu.

Menggandeng beberapa teman sesama filmmaker yang punya passion sama, terbentuklah Aksa 7 dengan proyek yang bernama Aksa 7 Artspedition. Selain Anggi, ada Jogie Kresna, Yohanes Pattiasina, Rivan Hanggarai, Wihana Erlangga, Teguh Rahmadi, dan Teryza Ranggono. 

Perjalanan dimulai pada 20 November 2014 dari Gunung Kerinci di Jambi. Dilanjutkan ke Semeru (Jawa Timur), Rinjani (Nusa Tenggara Barat), dan Bukit Raya di Kalimantan Tengah. Empat pendakian tersebut dilakukan secara maraton hingga Januari 2015. Disusul ke Gunung Latimojong di Sulawesi Selatan pada 28 April 2015 dan Gunung Binaiya pada 28 November 2015. 

Puncak terakhir yang akan mereka dokumentasikan perjalanannya adalah Puncak Carstensz, Papua, pada 28 April. ”Kami memulainya dari barat Indonesia dan mengakhirinya di timur,” ucapnya.

Di setiap pendakian, enam anggota Aksa 7 berangkat bersama satu ekspeditor tamu. Masing-masing dibekali kamera. ”Jadi, ada tujuh ekspeditor, tujuh kamera, tujuh gunung di Indonesia,” papar Anggi. 

Di tiap pendakian, seorang anggota Aksa 7 tidak ikut serta. Dia berperan men-support kebutuhan tim dan memonitor di Jakarta. Para ekspeditor tamu yang diajak adalah Alex, porter lokal di Kerinci; Matthew Tandio Putra, pendaki cilik berusia sepuluh tahun yang bergabung dengan Aksa 7 di Semeru; dan Djukardi ”Bongkeng” Adriana, pendaki 64 tahun ketika di Rinjani. 

Presenter Medina Kamil menjadi ekspeditor tamu di Bukit Raya, Alfira ”Abex” di Gunung Latimojong, serta aktor dan presenter Darius Sinathrya untuk Gunung Binaiya. Untuk ekspedisi terakhir ke Cartensz, aktris dan presenter Nadine Chandrawinata yang bakal ikut serta.

Dalam Aksa 7 Artspedition, Anggi bertindak sebagai sutradara. Alumnus Sinematografi Institut Kesenian Jakarta tersebut menjelaskan, karena output-nya berupa film dokumenter, tidak ada skenario dalam penggarapan film. 

Tetapi, tetap ada storyline dan konten di tiap gunung. Untuk Gunung Kerinci, misalnya, Aksa 7 menitikberatkan konten pada sektor ekonomi kerakyatan. ”Belum banyak masyarakat yang mengetahui bahwa teh yang tumbuh di kaki Kerinci adalah kualitas nomor satu di dunia. Tapi, itu justru diekspor ke negara lain. Sementara teh yang kita nikmati hanya kualitas nomor dua atau nomor tiga,” tuturnya. 

Di Semeru mereka mengusung konten mengenai kesadaran untuk menjaga gunung. Rinjani berbicara tentang cinta. Cinta kepada Tuhan dan alam. Latimojong mengulik kopi. Kemudian, Bukit Raya mengandung konten pohon. Topografi gunung di Katingan, Kalimantan Tengah, itu memang penuh dengan hutan rimbun dan pepohonan besar. 

Ekspedisi ke tujuh gunung memerlukan effort yang luar biasa. Baik secara fisik, mental, maupun pendanaan. Terlebih, perjalanan tersebut dilakukan untuk menghasilkan output film. ”Selain fisik harus kuat, perlu konsentrasi ekstratinggi,” ucap Rivan Hanggarai, 27, anggota tim Aksa 7 yang berbekal kamera DSLR dan GoPro di setiap pendakian. 

Tantangan terbesar yang dihadapi saat pendakian, menurut Rivan, adalah mengalahkan ego diri sendiri. ”Dalam kondisi sangat capek, tetap harus shoot dan fokus pada konten,” lanjutnya.

Sementara itu, tantangan dalam penggarapan film adalah bagaimana mengembalikan mindset bahwa film dokumenter bukan film yang menggurui dan membosankan. Film dokumenter merupakan karya yang lahir dari realitas. 

”Dalam 10 atau 20 tahun ke depan, kita tidak tahu wajah Indonesia seperti apa. Ini yang coba kita capture. Ketika ada yang membuat film dokumenter sebenarnya juga sedang merekam sejarah,” papar Anggi.

Aksa 7 ingin menyajikan karya dokumenter yang berunsur edutainment. Menyelipkan edukasi tanpa terkesan menggurui. Ada unsur sosial, budaya, ekonomi, religi, edukasi pendakian, hingga personal journey. Pesan atau kritik pun ditampilkan lewat kritik terhadap diri sendiri. ”Makanan contohnya. Bukan sekadar persoalan makanan, tapi juga sampah. Dalam kondisi lelah, terkadang kita meninggalkannya di gunung,” ujar dia.

Darius yang menjadi ekspeditor tamu di pendakian ke Gunung Binaiya mengakui, pengalaman pendakiannya bersama Aksa 7 memang sangat menguras tenaga. Apalagi, itu untuk kali pertama dia mendaki. 

Tapi, di sisi lain, suami presenter Donna Agnesia tersebut juga mengaku mendapat banyak pelajaran setelah selama sepuluh hari menyeberangi sungai, menapaki jalan setapak yang curam, dan merambah puncak. ”Mendaki itu bukan sampai ke puncak, tapi untuk kembali ke rumah dengan selamat,” ucapnya. 

Tak hanya memetik pelajaran berharga, Darius juga mengaku sangat bangga bisa ikut ekspedisi bersama Anggi dkk. ”Sebab, spiritnya untuk Indonesia,” lanjut dia.

Untuk pendanaan film tersebut, Aksa 7 melakukan guerilla marketing. Berbagai langkah dilakukan. Mulai mencari sponsor, fundraising, hingga memproduksi kaus dan gelang yang hasil penjualannya digunakan sebagai tambahan modal.

Tapi, tetap saja di hampir tiap pendakian, mereka harus senam jantung karena pendanaan yang masih kurang. Termasuk menjelang ekspedisi ketujuh ke Cartensz. Sejauh ini dana belum lengkap terkumpul. 

Bersama Warriors Aksa 7, para pendukung yang men-support ekspedisi itu, mereka terus mengupayakan berbagai cara untuk menutupi kekurangan tersebut. ”Bisa sampai ke titik ini, kurang satu gunung lagi. Bisa sampai sejauh ini pun kami tidak menyangka,” ungkap Anggi. 

Anggi dan tim Aksa 7 berharap filmnya nanti bisa menjadi bagian dari peringatan Sumpah Pemuda. Dirilis di layar lebar pada momen 28 Oktober mendatang. (*/c9/ttg)

Berita Terkait