Di Hari Paskah Ini, Anak-anak Panti pun Berhak Bahagia

Di Hari Paskah Ini, Anak-anak Panti pun Berhak Bahagia

  Senin, 28 March 2016 09:07
RAYAKAN PASKAH: Anak-anak Panti Asuhan El Shaddai dan Panti Asuhan Bunda Pengharapan berfoto bersama Kornelia Melinda, Puteri Indonesia 2016 asal Kalbar seusai lomba merayakan Paskah, Minggu (27/3) pagi. miftah/pontianak post

Berita Terkait

Perayaan Paskah setiap tahun pada dasarnya bukanlah sekadar rutinitas gerejawi. Perayaan itu justru memiliki arti yang sangat penting. Terutama bagi anak-anak panti asuhan. Di hari Paskah, mereka bisa mereguk lebih banyak cinta kasih dan kebahagiaan.

MIFTAHUL KHAIR, Kubu Raya

SIMSALABIM jadi apa prok.. prok.. prok..” anak-anak mengikuti arahan badut yang sedang menampilkan aksi sulapnya. Sang badut memasukkan potongan kain berwarna-warni ke dalam sebuah kantong hitam yang sudah ia siapkan. Anak-anak penasaran dengan kelanjutan aksi badut lucu itu.

Seketika badut tersebut mengeluarkan lelucon, anak-anak panti asuhan El Shaddai dan Bunda Pengharapan peserta Easter Charity, Minggu (27/3) menyambutnya dengan gelak tawa. Keceriaan mereka itu memperindah seisi ruangan pertemuan berdinding kayu dan kaca di Gardenia Resort Jalan Ayani Dua. Kepolosan anak-anak yang berasal dari dua panti asuhan berbeda ini memperlihatkan betapa mudahnya berkenalan dan saling membaur dalam sukacita.

Di depan peserta, sang badut beraksi ditemani Michael (5) yang berseragam hijau dari panti asuhan Bunda Pengharapan. Michael diminta badut untuk memegang mikrofonnya sementara badut menampilkan atraksi sulap. “Pegang yang benar ya mic-nya,” ujar si badut. Mahasiswa Widya Dharma Pontianak yang menjadi panitia tak kuasa menahan tawa mereka ketika melihat polah dari Michael.

Setelah melihat penampilan dari badut berhidung merah khasnya, anak-anak diajak keluar melanjutkan beberapa permainan yang sudah disiapkan panitia. Sebelum itu anak-anak yang duduk berkelompok bersama teman asal panti mereka dibuatkan sebuah grup acak. Mereka diajak untuk menyusun puzzle dengan anggota enam sampai tujuh orang. 

Kelompok tiga berhasil menjadi pemenang dalam games in mengalahkan lima kelompok lainnya. Selang beberapa saat, anak-anak yang tak sedikit pun memperlihatkan wajah lelah sudah diajak kembali untuk memainkan perlombaan “mencari telur”. Kali ini, arena lomba berpindah ke halaman rumput hijau yang cukup luas untuk mereka berlarian.

Anak-anak yang bervariasi umurnya mulai dari SD, SMP hingga SMA itu lalu berpencar ke sana kemari. Kakak-kakak panitia pun sudah tak dapat lagi membedakan mana kelompok yang mereka pegang. Anak-anak harus mencari telur berdasar warna tim. Kelompok yang berhasil menemukan semua telur paling cepat, merekalah yang menang. 

Di terik siang itu, anak-anak gesit mencari kesana kemari. Dengan cepat pemenang sudah berhasil ditentukan. Berhubung hari semakin panas, mereka pun dibariskan dan diarahkan masuk kembali ke ruangan semula untuk menyusul sponsor dan tamu yang sudah lebih dahulu menyantap hidangan.

Suster Flora, pengasuh panti asuhan Bunda Pengharapan tampak bahagia ketika melihat anak asuhnya larut dalam kesenangan acara perayaan paskah tersebut. Ia mengakui memang seperti inilah yang mereka inginkan. Dari tahun ke tahun mereka selalu di dalam panti. Hari itu ia membawa 26 anak panti asuhannya.

Ia merasa luar biasa senang, semangat, dan antusias mereka dalam perayaan paskah. Anak-anak pasti merasa luar biasa bahagia. Pasti ada yang mereka dapatkan. “Dan lewat acara seperti ini mereka kelihatan kayaknya lepas gitu. Itu memang luar biasa sangat menyenangkan. Dan momennya pas banget dan belajar memahami dan mengerti tentang makna hari ini,” tuturnya.

Sebelum game dimulai, anak-anak panti asuhan mendapatkan materi dan motivasi dari Kornelia Melinda Betsyeba. Perwakilan Kalbar dalam ajang Puteri Indonesia 2016 itu menyampaikan betapa pentingnya kepercayaan diri dari anak-anak untuk mencapai cita-cita mereka. “Menggali talenta yang mereka miliki supaya walaupun mereka anak panti asuhan, tetapi mereka punya prestasi yang luar biasa,” katanya ditemui seusai acara.

Ia berharap semoga anak-anak tidak berkecil hati hanya karena mereka tinggal di panti asuhan. Mereka harus membangun kepercayaan dirinya supaya mereka bisa berprestasi lebih baik lagi. Mereka bisa mendapatkan inspirasi atau pelajaran bukan hanya dari orang-orang tertentu tetapi dari setiap orang mereka bisa mengambil sisi baiknya. 

Misalnya dari orang yang tidak baik perilakunya. “Mereka bisa mengambil, oh saya tidak boleh seperti ini. Supaya nantinya saat mereka sudah besar, mereka tidak menjadi seperti itu,” ujarnya.

Dalam hal kepercayaan diri ini, Kornelia dapat dijadikan contoh.  Meskipun berasal dari desa, tetapi ia bisa mewakili Kalimantan Barat di ajang nasional.  “Kenapa mereka tidak bisa. Mereka sudah difasilitasi. Banyak yang mendukung mereka dan banyak yang mencintai mereka,” ungkap Linda, panggilan karibnya. 

Paskah kali ini, ia pun tidak bisa merayakannya di rumah bersama keluarga. “Hari ini saya merasa cukup senang bergabung dengan mereka, bisa memberikan mereka motivasi dan bisa memberikan hiburan bagi mereka,” ungkapnya.

Kesempatan untuk keluar dan bertemu dengan orang yang bisa menginspirasi adalah sesuatu hal yang sangat jarang bagi anak panti. Ana dan Dorce, pengasuh panti asuhan El Shaddai, mengatakan, panti mereka memang sudah biasa dikunjungi semasa natalan. Namun, jarang sekali anak-anak diajak keluar. 

Karena menurutnya kegiatan sehari-hari anak-anak hanya sekolah dan berdoa. Di acara hari ini ia bisa sekaligus membawa anak panti jalan-jalan. Ia pun membawa kesemua anak panti kecuali seorang anak yang sedang sakit. “Enambelas anak kita bawa. Lainnya ada yang sakit dan pulang kampung,” jelas Ana. Melalui acara ini, mereka diharapkan bisa belajar bagaimana memaknai Hari Paskah. 

Anak-anak larut dalam kebahagiaan di acara yang juga dihadiri Romo Petrus Rostandy dan  Ketua ASM Widya Dharma Pontianak Lie Heng, serta Eva Liow, salah seorang penggagas acara “Easter Charity” Akademi Sekretari dan Manajemen Widya Dharma. Eva mengaku bahagia dan senang karena bisa berbagi dengan anak-anak. 

Ia mengatakan, banyak yang menganggap bahwa anak panti selalu dalam kesendirian di saat paskah. Sebenarnya tidak seperti itu. “Ada orang-orang di sekitar mereka yang mau berbagi bersama-sama dengan mereka,” kata Eva yang juga menjadi pembicara dalam acara itu Minggu (27/3) pagi.

Mereka tidak memiliki orang tua tetap bisa merasa bahagia karena ada orang-orang yang memberikan perhatian. Ada orang-orang yang mau membantu. Ia berharap kegiatan ini bisa menceriakan anak-anak panti.

“Mudah-mudahan sekarang orang-orang yang mempunyai panti asuhan, orang-orang yang mau menjadi pimpinan, benar benar menjadi orang-orang yang mau menyalurkan berkat dari orang luar yang memberikan,” tambah Eva yang juga pernah tinggal dengan anak-anak panti asuhan bentukan orang tuanya.

Perayaan paskah bersama anak panti asuhan pada Minggu (27/3) pagi ini terbilang sukses. Bagaimana tidak, seisi ruangan acara sungguh menikmati keseruan pagi itu. Cecilia Dewi, pembina acara menyatakan sangat mengapresiasi mahasiswanya yang sudah mempersiapkan acara dengan matang. Jiwa sosial para mahasiswa ini, diakuinya sangat tinggi. 

Dirinya bersama mahasiswa Widya Dharma sudah biasa mengunjungi panti asuhan tetapi jarang mengundang panti asuhan untuk menikmati suasana baru di tempat outdoor, di tempat yang tidak pernah mereka datangi sebelumnya. “Jadi biar mereka nggak jenuh,” ujarnya.

Ia menambahkan, kalau kita hanya mengunjungi panti dan memberi hadiah, hal itu kurang bermanfaat. Akan lebih baik jika mereka dibawakan badut atau diberikan hiburan lain. Mengundang Melinda untuk memotivasi mereka tidak lain dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa orang yang ‘bukan siapa-siapa’ pun bisa menjadi ‘seseorang’. Anak panti juga memiliki peluang yang sama. 

Anak-anak panti juga berhak punya mimpi. Momen paskah ini akan membuat mereka belajar suatu hal yang baru. Kegiatan ini adalah yang pertama untuk mengundang panti asuhan. Kegiatan yang ternyata merupakan mata kuliah di Widya Dharma ini diberinya tema: kegiatan sosial. “Dengan sosial itu mereka belajar berbagi memberi, daripada sekadar party-party saja,” tegasnya.

Kegiatan ini dilakukan agar mereka dapat merasakan betapa menyenangkannya hari paskah. Hari itu dapat berkesan di benak mereka sampai nanti mereka sudah beranjak tua dan juga diceritakan ke anak cucu mereka. “Semoga dengan adanya acara ini, ada orang yang ingin melakukan inovasi-inovasi lain untuk anak-anak di panti,” pungkasnya. (**)

Berita Terkait