Di Bawah Tanah Diculik Hamas, di Atas Tanah Dicekik Netanyahu

Di Bawah Tanah Diculik Hamas, di Atas Tanah Dicekik Netanyahu

  Jumat, 8 April 2016 09:00
KENANGAN KELAM: Netiv Ha’asara menunjukkan jenis roket pertama yang mendarat di belakang rumahnya 20 tahun lalu, Selasa (29/3). Abdul rokhim/jawapos

Ada orang Amerika di Amerika Serikat, ada orang Indonesia di Indonesia, tapi tak ada orang Israel di Israel.

Abdul Rokhim, Tel Aviv

Kalimat membingungkan itu dilontarkan Wahid Shammas, warga Arab Israel, saat mendampingi koran ini menyusuri area Masjidilaqsa di kawasan kota tua Jerusalem, Senin pagi (28/3).
Sadar kata-katanya sulit dipahami, Shammas kemudian mengeluarkan kartu tanda penduduk (KTP) dari kantongnya. Terlihat di bawah kolom kebangsaan (dalam bahasa Ibrani, leam) terisi kata Arab. ’’Jika saya Yahudi, kolom ini diisi Yahudi,’’ katanya. Lantas, kolom warga negara Israel di mana? ’’Tidak ada,’’ tegasnya. 

Rasanya ingin tanya lebih lanjut, tapi saat itu sudah sampai di situs sidratul muntaha (tempat Nabi Muhammad diangkat ke langit dalam momen suci Isra Mikraj). Shammas pun langsung ganti topik untuk menunaikan kewajibannya, menjelaskan keutamaan tempat tersebut.

Penelusuran lebih lanjut memang menemukan banyak hal yang semakin ganjil. Kata kebangsaan Israel tak pernah ada dalam dokumen resmi negara Israel yang mana pun. Bahkan, pernyataan kemerdekaaan Israel pada 14 Mei 1948 di Museum Holocaust tidak dibuka dengan kalimat ’’Kami, bangsa Israel’’.

Kalimat yang tercantum di sana adalah ’’... berdirinya negara Yahudi di Eretz Israel yang kemudian disebut negara Israel...’’

Israel memang negeri yang ganjil. Tidak hanya dalam rumusan ’’Apa Israel itu?’’. Namun, hingga 68 tahun ia eksis 14 Mei nanti, keganjilan itu rasanya tidak kunjung genap. Desa Moshav Netiv Ha’asara menjadi saksi keganjilan Israel berikutnya. 

Dari desa yang dihuni 210 keluarga tersebut, permukiman warga Palestina di Gaza bisa terlihat jelas. Barisan gedung kusam dengan kibaran bendera Palestina di beberapa pucuknya. Maklum, jarak Netiv Ha’asara dengan desa di Gaza terdekat tidak sampai 3 kilometer.

Hila Fenlon, 38, mengungkapkan, saat masih remaja, dirinya sering diajak ayahnya makan di restoran Palestina di Gaza setiap akhir pekan. Ibunya juga berbelanja sayur dan buah di sana. ’’Karena itu, saya juga punya banyak teman baik di Palestina,’’ ungkap ibu satu anak tersebut mengenang masa remajanya.

Namun, sejak Hila menginjak umur 15 tahun, Gaza tinggal kenangan. Konflik antara kaum pejuang Hamas dan tentara Israel makin kerap terjadi. Puncak penderitaan warga Netiv Ha’asara pun terjadi saat Hamas mulai menggunakan roket-roket untuk membombardir permukiman Israel. 

’’Saat roket pertama mendarat di halaman belakang rumah, saya dan teman-teman sebaya malah keluar dan tertawa-tawa karena bentuknya seperti mainan,’’ ceritanya. 

Namun, saat serangan semakin sering dan roket yang digunakan semakin besar yang tentu diikuti daya ledak yang semakin dahsyat, tidak ada lagi tawa yang sama. ’’Serangan itu bisa datang kapan saja. Kini saat sirene berbunyi, rasanya kematian bisa terjadi pada siapa saja di sini,’’ ungkapnya. 

Pemerintah Israel membangun sangat banyak bungker (kubah segi empat yang dibuat dari beton dan baja). Ada prosedur yang tak henti-henti diperingatkan kepada semua warga bahwa mereka hanya punya waktu 4 detik untuk lari ke bungker sejak sirene terdengar hingga roket menghunjam.

’’Karena itu, di ladang, sekolah, atau tempat olahraga, seluruh warga Netiv Ha’asara harus yakin bisa mencapai bungker dalam tempo 4 detik jika tiba-tiba sirene berbunyi,’’ jelas Hila.

Saat koran ini berkunjung, Hila mengaku sudah enam bulan ini tidak ada lagi serangan roket Hamas. Namun, tidak berarti rasa tenang muncul. Yang muncul justru rasa waswas yang lebih besar karena penggalian terowongan oleh Hamas ke wilayah Israel kembali dilanjutkan.

Pembangunan terowongan memang menjadi obsesi dan merupakan salah satu strategi perang Hamas yang ampuh. Pada 2006, Hamas menculik seorang tentara Israel, Gilad Shalit, setelah masuk ke Israel melalui terowongan. Shalit dibebaskan enam tahun kemudian, ditukar dengan 1.027 tahanan Palestina. 

Desember tahun lalu, sayap militer Hamas, Brigade Qassam, membentuk unit khusus untuk menggali dan melengkapi fasilitas terowongan serta melatih tentara untuk menggunakannya. 

Hamas menolak permintaan konfirmasi atas dugaan tersebut. Namun, bulan lalu, pemimpin kelompok militer itu, Abu Hamza, kepada media Hamas al-Khaleej mengatakan, ’’Dalam konfrontasi di masa depan, Israel akan terkejut dengan kekuatan dan ketangguhan terowongan kami.’’

Kehidupan yang dibayang-bayangi malaikat maut itu membuat Hila dan hampir sebagian besar warga Netiv Ha’asara jengah dengan peperangan kedua kubu. ’’Kami perlu beristirahat dari perang. Kami rindu berkunjung ke teman kami di Palestina. Sampai awal konflik, mereka masih telepon apakah kami selamat? Sekarang dan ini sudah berjalan 20 tahun, telepon itu tidak ada lagi,’’ katanya.

Dengan semua kengerian tersebut, mengusulkan ide pindah ke lokasi yang aman dan terlindungi di wilayah Israel lain kepada Hila dan semua warga Netiv Ha’asara bukanlah ide bagus. Mereka hanya membalas dengan tatapan aneh. ’’Itu sulit kami terima. Mereka (Hamas) ingin kami pergi dan kami pergi. Itu tetap selalu pilihan yang lebih buruk daripada apa pun,’’ ujarnya dengan ketus.
Lalu, perjalanan berlanjut ke utara hingga ke kota terbesar, Tel Aviv. Koran ini mencoba menanyakan apa yang terjadi di Netiv Ha’asara kepada saudara-saudara sebangsanya. Rata-rata mau mendengar. Namun, saat ditanya apakah itu yang menjadi perhatian utama? Tidak. Warga Tel Aviv bagaikan makhluk planet lain bagi Netiv Ha’asara.

Warga Tel Aviv merasa punya masalah yang lebih besar daripada desa-desa di dekat perbatasan seperti Netiv Ha’asara. ’’Jika mereka khawatir dengan penculikan oleh Hamas dari dalam bumi, kami juga punya masalah yang tidak kalah besar di atas bumi,’’ ungkap Shai, seorang warga Tel Aviv, yang sedang joging di pantai Laut Mediterania di belakang Hotel Herods.

Apa masalah terbesar warga Tel Aviv di atas bumi itu? Harga rumah dan apartemen yang terus melonjak dan semakin tidak terjangkau warga biasa. Sekarang dengan pendapatan minimal per bulan USD 1.250 atau sekitar Rp 16,5 juta, seorang karyawan biasa tidak bisa lagi membayar uang sewa apartemen dengan tiga kamar di Tel Aviv. Harga sewa apartemen semacam itu bisa menelan dua pertiga gaji si karyawan.

’’Kami di sini (Tel Aviv) tak pernah lagi memikirkan konflik dengan Palestina. Sebab, kami selalu khawatir berapa harga sewa rumah dan apartemen kami tahun depan?’’ ungkap Oren Rozenblat, deputy spokesperson press bureau Ministry of Foreign Affairs, saat menyusuri permukiman-permukiman di Tel Aviv Kamis siang (31/3)

Kontrak rumah di Israel memang hanya berlaku untuk setahun. Setelah itu, harganya akan dinegosiasikan lagi. Pemilik rumah sewaan di Israel pun bebas menentukan harga sewanya.

Yang juga memperburuk situasi adalah semakin sedikitnya rumah sewaan di Israel. Orang-orang kaya dari seluruh penjuru dunia gemar membeli apartemen dan rumah di Israel. Tahun lalu taipan minyak Rusia Roman Abramovich memborong berhektare-hektare tanah di Tel Aviv untuk rumah dan perkantoran. 

Akibatnya, stok lahan untuk rumah dan apartemen di Israel semakin terbatas sehingga harga kembali melonjak. ’’Ini terdengar seperti lelucon saat kami tahu pemerintahlah yang menguasai 90 persen lahan di Israel,’’ ungkap Oren yang mulai lupa dengan statusnya sebagai pegawai pemerintah.

Sebelum 2015, warga Israel lebih memilih membeli rumah jika mereka bisa membayarnya. Tetapi, sekarang tidak ada lagi rumah yang harganya terjangkau, baik untuk disewa maupun dibeli. 

’’Netanyahu tidak harus melakukan apa pun untuk mengatasi masalah tempat tinggal karena menurut dia memang tidak ada masalah apa pun,’’ ujar Oren menyindir dengan gusar. (*/habis)