Di Barak, Pram Sering Mendongengkan Novel-novelnya

Di Barak, Pram Sering Mendongengkan Novel-novelnya

  Kamis, 13 Oktober 2016 09:30
PULAU KENANGAN: Tumiso di depan patung tetenger tewasnya Pelda Panita Umar. Bersama Pramoedya Ananta Toer, Tumiso berada di Pulau Buru selama 10 tahun. DIAR CANDRA/JAWA POS

Berita Terkait

Menyusuri Jejak Sejarah Pramoedya Ananta Toer dan Eks Tapol di Pulau Buru (1)

Sebagai tempat pembuangan para tahanan politik pada era Presiden Soeharto, Pulau Buru terkesan eksotis. Seperti apa sebenarnya pulau yang pernah melahirkan serial novel tetralogi Pulau Buru karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer itu? 

DIAR CANDRA, Pulau Buru

Kapal motor penyeberangan (KMP) Wayangan yang saya tumpangi bersama eks tahanan politik (tapol) Pulau Buru Tumiso ’’berteriak’’ keras ketika hendak merapat ke Dermaga Namlea, ibu kota Pulau Buru, Maluku, Kamis (6/10). Kapal yang membawa lebih dari 300 penumpang itu mengeluarkan pekikan yang tak henti-henti dan membangunkan para penumpang yang terlelap sepanjang malam.

Sesaat kemudian, dari pengeras suara di kabin diumumkan bahwa kapal sudah sampai di tujuan dan para penumpang dipersilakan turun. Saya melihat jam digital tepat pukul 04.00 WIT (Waktu Indonesia Timur). Berarti, perjalanan dari Dermaga Galala Ambon hingga Namlea menempuh waktu delapan jam. Sebab, saat berangkat, jarum jam menunjuk pukul 20.00, Rabu (5/10). 

’’Ayo, turun. Kita sudah ditunggu keluarga Pak Kabul,’’ ajak Tumiso. Sebenarnya saya masih agak malas beranjak dari tempat tidur busa yang saya tiduri. Apalagi, di luar langit masih gelap. 

Benar saja, begitu kami berjalan ke pintu keluar dermaga, seorang pemuda kurus memanggil nama Tumiso. Dengan senyum ramah, dia menjabat tangan saya dan Tumiso. Kami kemudian dibawa ke mobilnya di parkiran dermaga. 

Pemuda itu memperkenalkan diri sebagai Maryudi, anak kedelapan Kabul. Kabul bukan eks tapol seperti halnya Tumiso. Dia adalah transmigran asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang datang ke Pulau Buru pada gelombang pertama, sekitar 1980. ’’Ketika saya tiba di Namlea pada Agustus 1969, pelabuhannya belum sebagus dan sekukuh ini. Dulu kayu-kayu pelabuhan ini masih reyot,’’ kenang Tumiso. 

Ya, Tumiso adalah bagian dari sejarah suram Pulau Buru pada 47 tahun lalu. Bersama 12 ribu tapol lainnya, pria 77 tahun tersebut menjalani kerja paksa di pulau yang dikelilingi Laut Banda itu (baca Jawa Pos, 14 September 2016: Kisah Tumiso, Eks Tapol Pulau Buru yang Menyelamatkan Naskah-Naskah Karya Pramoedya).

Dari Namlea, Yudi –panggilan Maryudi– langsung membawa kami ke pedalaman Pulau Buru yang menjadi jantung lokasi kerja para tapol dulu. Jarak Namlea ke Mako (Markas Komando) Waeapo sekitar 36 kilometer.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi jalur yang berkelok-kelok. Banyak tikungan tajam dan tanpa penerangan jalan umum. Kalau bukan orang yang terbiasa mengendarai mobil di Namlea, bisa-bisa tersesat atau mengalami kecelakaan. Perjalanan Namlea–Waeapo kami tempuh selama 45 menit. 

Dalam memori Tumiso, ketika mendarat di Pulau Buru pada Agustus 1969, para tapol sudah ditunggu barisan truk militer. Sebelum dikirim ke lokasi kerja paksa di Waeapo, mereka ditempatkan sementara (transit) di Ciku Kecil, kira-kira 4 kilometer dari Pelabuhan Namlea. 

’’Kami di Ciku Kecil selama 3–4 pekan. Setelah itu, kami disebar ke unit-unit dengan menggunakan perahu milik Marinir,’’ ungkap Tumiso yang kini tinggal di Panti Jompo eks tapol di Jakarta. 

Akhir 1960-an, jalur sungai menjadi nadi utama transportasi di Pulau Buru. Nanti para tapol-lah yang membabat alas untuk membuat jalur jalan di pulau terbesar ketiga di Maluku itu. 

Selama dalam perjalanan, Tumiso terus nyerocos bercerita secara detail lokasi-lokasi bersejarah bagi para tapol kala itu. Menurut dia, gelombang pertama tapol yang tiba di Pulau Buru sekitar 500 orang. Termasuk Pramoedya Ananta Toer yang diasingkan mulai Agustus 1969 hingga 12 November 1979. 

Mereka tidak langsung ditempatkan di Mako Waeapo, melainkan diturunkan di Unit III Wanayasa (sekarang masuk wilayah Waeleman) yang berjarak 4 kilometer dari Mako Waeapo. Di Unit III itulah kemudian dibangun barak pertama untuk tempat tinggal para tapol. 

’’Saat kami tiba di Unit III, yang pantas disebut barak cuma dua buah. Tiga lainnya masih berupa kerangka karena tidak ada dindingnya,’’ ucap Tumiso. 

Karena itu, sepekan pertama di Unit III, 500 tapol gelombang pertama diminta merampungkan barak berukuran 30 x 5 meter tersebut. Namun, jangan dibayangkan bahan-bahannya sudah tersedia. Peralatan seperti paku, palu, gergaji, maupun alat-alat pertukangan lainnya tidak disediakan. Para tapol pun disuruh bekerja dengan tangan kosong. 

Pram, panggilan Pramoedya Ananta Toer, termasuk yang ikut menyingsingkan lengan baju membangun barak para tapol itu. Pram berada di Unit III pada periode 1969–1972. Dia kemudian dipindah ke Mako Waeapo hingga akhir masa pembuangannya pada 1979. 

Menurut Tumiso, kawan senasib Pram, selama berada di Unit III, Pram sering mendongeng di hadapan para tapol lainnya. Aktivitas mendongeng itu, kata Pram sebagaimana dituturkan Tumiso, dilakukan untuk melepas kepenatan sekaligus menghibur diri hidup di pengasingan. Aktivitas mendongeng itu dilakukan Pram ketika istirahat siang atau saat menjemur gabah dan setelah apel sore menjelang magrib. 

Lantaran yang bercerita adalah seorang sastrawan besar, tak heran bila acara itu selalu ditunggu para tapol. Dari hari ke hari, makin banyak yang mendengarkan dongeng Pram. Apalagi cerita yang didongengkan adalah cuplikan-cuplikan kisah dalam novel-novelnya yang kemudian dikenal dengan seri tetralogi Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

’’Saya sampai penasaran dengan sosok Nyai Ontosoroh yang digambarkan Pak Pram ayu seperti bintang film Indonesia era 1950-an, Fifi Young,’’ kata Tumiso. (*)

Berita Terkait