Di Balik Jembatan Kapuas Tayan , Ada yang Marah Tunjuk Muka Karena Salah Komunikasi

Di Balik Jembatan Kapuas Tayan , Ada yang Marah Tunjuk Muka Karena Salah Komunikasi

  Sabtu, 9 January 2016 10:02
PEKERJA: Lili bersama pekerja asal China di Jembatan Kapuas Tayan.CHAIRUNNISYA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Lili Hastariana bukan sosok terkenal. Ia hanya dikenal oleh masyarakat di sekitar Jembatan Kapuas Tayan. Selama tiga tahun ia membaur bersama warga karena ikut serta dalam pengerjaan jembatan itu. Ia pun menjadi satu-satunya perempuan asal Indonesia yang terlibat sebagai pengawas dalam proyek tersebut. CHAIRUNNISYA, Pontianak

SOSOK Lili terlihat mungil di antara tenaga kerja pria yang bertubuh tinggi. Kulitnya juga terlihat lebih gelap dan matanya lebih belok di antara pekerja asing asal China yang berkulit putih dan bermata sipit. Kendati demikian, ia tak terlihat canggung. Dengan santai perempuan berusia 33 tahun ini bercakap-cakap menggunakan Bahasa Indonesia bercampur Bahasa Inggris.

“Saya satu-satunya perempuan dalam proyek Jembatan Kapuas Tayan, selain tukang masak dan pekerja dapur,” ujar Lili ketika menunggu kedatangan Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya, Kamis (7/1).

Lili merupakan lulusan Politeknik Negeri Pontianak tahun 2004. Ketika lulus ia bekerja di kantor konsultan. Pada 2013, Lili mengikuti tes sebagai tenaga kerja dalam proyek Jembatan Kapuas Tayan. Ia pun dinyatakan lulus.

“Saya mulai bekerja di sini ketika anak kedua saya berumur dua bulan,” ungkap Lili.

Awalnya Lili diterima sebagai drafter atau bagian penggambaran desain jembatan. Tetapi setelah empat bulan, ia dipindah ke project management. Di sana ia bertugas mengawasi pengerjaan jembatan dan membuat laporan ke Dinas PU maupun konsultan.

“Tidak mudah awalnya. Karena di project management ini hanya tiga orang Indonesia termasuk saya. Sedangkan lainnya dari China,” kata Lili.

Lili merasakan perbedaan yang signifikan ketika bekerja dengan warga asing tersebut. Mereka sangat profesional dan sangat disiplin terhadap waktu. Setiap Senin hingga Sabtu ia bekerja mulai pukul 07.00 dan pulang pukul 18.00. “Kami hanya libur pada Hari Minggu,” tutur Lili.

Ia juga sempat kesulitan dalam berkomunikasi. Tak semua pekerja asal China itu bisa berbahasa Inggris. Mereka lebih sering berbahasa Mandarin. Akibatnya sering terjadi kesalahan komunikasi pada setahun pertama.

“Akibat salah komunikasi ini, ada yang marah-marah sambil tunjuk-tunjuk muka saya. Ini sudah biasa. Perlu setahun untuk beradaptasi. Alhamdulillah sekarang saya sudah mengerti Bahasa Mandarin walaupun belum bisa mengucapkannya,” jelas Lili sambil tersenyum.

Lili menuturkan dirinya berusaha bertahan dengan berbagai kesulitan yang dihadapi saat bekerja. Ia juga harus rela berjauhan dengan suaminya. Ia di Tayan dan sang suami di Sintang. Tujuannya hanya satu, yakni mengambil ilmu berkenaan dengan pembangunan jembatan.

“Saya mencari ilmunya sebab jembatan ini dari baja. Semua ilmu mengenai pembangunan jembatan ini berusaha saya pelajari,” katanya.Kesabaran dan keuletan Lili pun membuahkan hasil. Ia berhasil bertahan hingga jembatan berdiri megah. Tawaran menarik pun sudah diterimanya. Ia ditawarkan menjadi pengawas dalam proyek di salah satu pulau di Kaltim.

“Saya ditawari mengawasi pembangunan jembatan juga. Sepertinya tidak saya ambil, karena jauh,” kata Lili.Ia juga sudah mendapat beberapa tawaran bekerja kembali di konsultan. Tetapi, setelah jembatan ini diresmikan, hanya satu keinginannya.“Saya hanya ingin istirahat. Tak lama, satu atau dua bulan saja,” ujarnya. (*)

Berita Terkait