Di Anhui, Masyarakat Tiongkok Bermain Angklung

Di Anhui, Masyarakat Tiongkok Bermain Angklung

  Minggu, 17 April 2016 13:29
www.masterplanningthefuture.org

Berita Terkait

SURYANI mengakhiri pertunjukan lagu-lagu Batak dengan suara melengking panjang dan meliuk. Di hadapannya, 1.631 penonton di Grand Theater of Anhui seakan tak sabar untuk bertepuk tangan.

Di luar gedung, suhu turun sampai 11 derajat celcius. Orang-orang lalu-lalang di jalanan Hefei City yang berkabut. Di dalam Grand Theater of Anhui, kehangatan diplomasi kesenian Indonesia-China bertajuk Wonderful Indonesia Night 2016 terus berlanjut.

Penonton diajak memainkan angklung bersama, dipandu Ikreasindo dari Bandung. Tidak butuh waktu lama. Semua orang bisa menggoyangkan alat musik bambu itu, kendati belum menghasilkan kesesuaian nada.

"Tidak ada pesta sempurna, tapi ini awal yang bagus," kata Menpar Arief Yahya, yang hadir di acara itu bersama wakil gubernur Propinsi Anhui Chen Shulong.

Menpar Arief Yahya mengurai lagi sejarah hubungan Indonesia-China yang sedemikian panjang. Di masa lalu, ada kunjungan muhibah Laksamana Cheng Ho. Di era modern, Indonesia-China menjali hubungan diplomatik sejak 13 April 1960, kendati sempat membeku akibat situasi politik.

Hubungan Indonesia-China yang terjalin sekian ratusan tahun abadi lewat berbagai kesenian campuran, yang berkembang di desa-desa pinggir Jakarta. Di Anhui, semua itu ditampilkan lagi, dengan pesan koloborasi berkesenian antara Indonesia dan china adalah tradisi lama.

"Itu lembaran sejarah yang bisa ditelurusi,” kata Arief yang didampingi Asdep Asia Pacific dan India Vincensus Jamedu.

China sedang berusaha membangkitkan tradisi itu lewat kebijakan hubungan internasional one belt one road, atau Jalur Sutera Abad 21, dengan Indonesia sebagai ujungnya. Indonesia melihat China sebagai pasar pariwisata potensial.

Tahun ini, Indonesia menargetkan kunjungan wisatawan China 2,1 juta, atau hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Indikasi ke arah itu mulai terlihat. Di Bali, misalnya, populasi wisman China mulai menggeser bule-bule asal Australia.

Kebijakan bebas visa 169 negara, kampanye masif ke berbagai kota di Tiongkok, diharapkan mampu menggoda masyarakat China untuk datang ke Indonesia.

Wonderful Indonesia Night 2016 berakhir, tapi penonton seakan malas secepat mungkin meninggalkan Grand Theatre. Mereka berjalan pelan-pelan, dengan mata terus tertuju ke arah panggung, atau ke apa saja yang berwarna Indonesia.

Vincensus Jamedu mengamati suasana itu, dan berkata; "Mudah-mudahan misi kami mendatangkan sebanyak mungkin wisman China tercapai, dan target 20 juta wisman pada tahun 2020 tercapai."**

Berita Terkait